Minggu, 24 Oktober 21

Belajar Bahasa Klasik di Komunitas Esperanto

Belajar Bahasa Klasik di Komunitas Esperanto

Yogyakarta – Kemahiran berbahasa dan berkomunikasi merupakan nadi pembelajaran setiap orang. Seperti yang ada pada salah satu komunitas yang ada di Yogyakarta ini. Ya, Esperanto, terdengar dari katanya, mungkin masih asing di telinga kita. Tapi, unik dan bermanfaat sekali bagi yang mengikutinya.

Esperanto berasal dari nama seorang penulis, yakni dokter Esperanto, yang menyebutkan Esperanto bermakna orang-orang yang berharap. Dalam arti perdamaian, Esperanto mengajak masyarakat untuk saling menyatukan antara masing-masing individu.

Ketua Komunitas Esperanto M. Uweis Sidhi Weiss mengatakan, tahun 1989-1990-an komunitas ini sudah ada. Hanya saja masih terpisah-pisah. Dan pada waktu itu peralatan yang kurang memadai juga berpengaruh berkembangnya komunitas ini.

Di Yogyakarta sudah banyak esperantis seperti ini sejak tahun 1950-an. Contohnya, kata Uweis, Gunawan yang sejak tahun 1960 sudah mengikuti bahasa klasik ini. Sempat berhenti karena tidak ada wadah yang menampung ilmunya. Akhirnya Uweis bersama esperantist dari Swedia Heidi Goes, dan anggota lain membentuk sebuah komunitas bahasa Esperanto ini.

Perkembangan sejarah Esperanto di Indonesia sedikit demi sedikit mulai bergerak. “Di tiga tahun lalu tidak sempat terbentuk karena masing-masing mempunyai beban untuk bersama,” terang Yohanes, pembimbing komunitas ini, pada obsessionnews.com pekan lalu.

Pada zaman dahulu hiduplah orang-orang atau suku-suku Bulgaria di Jerman dan tercipta keharmonisan. Suku-suku tersebut menciptakan sebuah bahasa tersendiri dengan menggunakan bahasa independen. Ya, kemudian lahirlah Esperanto ini.

“Saya pernah bertemu dengan orang Rusia di Yogyakarta. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Dia pun kurang menguasai Bahasa Inggris. Salah satu alternatif yang menghubungkan itu adalah Esperanto,” lanjut Yohanes.
Saat ini sudah ada alat untuk bertukar informasi mengenai Esperanto ini. Bidang pariwisata juga mendukung berkembangnya Esperanto di Yogyakarta.

Menurut pria asal Timor Leste ini, program Komunitas Esperanto lebih pada bahasanya. Dilihat dari semua negara manapun, bahasa sangat penting dalam kehidupan. Bahasa negara dapat menjadi alat bertukarnya informasi lewat pergaulan dengan cara lisan, komunikasi antar pribadi, serta mengarah pada pariwisata.

Esperanto lahir dimaksudkan agar bisa menjembatani komunikasi yang lebih netral. Dengan teknologi sekarang ini, bahasa alamiah yang muncul ditujukan agar mempunyai teman yang banyak tentunya.

Sementara itu Uweis mengatakan, Esperanto bukan lembaga atau tempat kursus, tapi wadah belajar bersama. “Jika sudah ada yang pernah belajar bahasa ini bisa berbagi ilmunya di sini,” paparnya.

Melihat peradaban budayanya, Uweis mengatakan, Yogyakarta sangat cocok untuk bergeraknya komunitas ini. Di samping budayanya yang masih kental, juga menjadi sebuah kota pariwisata yang tak henti-hentinya didatangi wisatawan.

“Setiap dua minggu sekali, tepatnya Sabtu malam, diadakan kegiatan rutin. Walaupun latar belakang yang berbeda dari berbagai kalangan, jika ingin mengikuti tidak menjadi masalah,” ucapnya.

Tujuannya adalah ingin mengenal bahasa negara yang berbeda. Sama sekali tidak untuk menghilangkan unsur apapun.

Dia berharap Komunitas Esperanto nantinya bisa menjadi organisasi yang solid di Indonesia dan di berbagai negara sebagai jaringan yang mempermudah peredaran komunikasi. (Anissa Nurul Kurniasari)

Related posts