Jumat, 22 Oktober 21

Bela Israel, Skenario Trump Rugikan Palestina

Bela Israel, Skenario Trump Rugikan Palestina
* Kunjungan Presiden Donald Trump ke Tembok Ratapan pada Mei 2017. (ParsToday)

Setelah berminggu-minggu ancaman, pada akhirnya pemerintah Amerika Serikat (AS) memerintahkan penutupan misi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Washington.

Pemerintah AS telah memperingatkan bahwa jika pemerintah Otorita Palestina mengadukan rezim Zionis Israel ke Pengadilan Pidana Internasional, karena melanggar hak-hak rakyat Palestina, maka misi PLO di Washington akan ditutup.

Peringatan itu diabaikan oleh para pejabat Otorita Palestina dan pemerintah AS juga melaksanakan ancamannya menutup misi PLO. Jadi, misi tersebut ditutup setelah 23 tahun beroperasi di AS; sebuah langkah yang bersumber dari pendekatan baru pemerintah AS.

Presiden Donald Trump, seperti 12 presiden Amerika sebelumnya, mencoba untuk mencatat ‘pencapaian’ apa yang disebut perdamaian Palestina-Israel, atas namanya dalam sejarah.

Namun, pemerintah AS tidak pernah tampil sebagai mediator yang netral, dan perdamaian belum tercapai sampai sekarang, karena Washington muncul sebagai mitra strategis rezim Zionis dalam konflik Palestina-Israel.

Jalan untuk mencapai kesepakatan di antara kedua pihak semakin terjal, sebab dukungan pemerintahan Trump kepada rezim Zionis, lebih menonjol daripada pemerintah sebelumnya di Amerika.

Trump menjadi Presiden AS pertama yang berkunjung ke Tembok Ratapan, dan mengumumkan bahwa Kedutaan AS akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis. Dia juga mendukung pemukiman Zionis di wilayah Palestina dan menyerukan penyerahan penuh Baitul Maqdis ke Israel.

Dilaporkan juga bahwa dalam proposal pemerintahan Trump kepada Palestina, negara merdeka Palestina akan dibentuk tanpa memperhatikan perbatasan tahun 1967 dan pemulangan pengungsi Palestina ke rumah mereka di Tepi Barat.

Dengan kata lain, proposal Trump mengabaikan semua pilar utama cita-cita bangsa Palestina untuk membentuk sebuah negara merdeka, dan oleh karena itu, pihak-pihak yang pro-perundingan kompromi di Palestina juga tidak mendukung rencana tersebut.

Meski demikian, Gedung Putih akan memaksa rakyat Palestina untuk meninggalkan cita-cita perjuangan Palestina dengan membentuk sebuah koalisi di wilayah Asia Barat dengan melibatkan Amerika, Israel, dan Arab Saudi.

Dapat dikatakan bahwa pertemuan pemimpin Otorita Palestina Mahmoud Abbas dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman di Riyadh beberapa hari lalu, masih ada kaitannya dengan perkembangan baru dalam hubungan AS dengan PLO dan penutupan misi mereka di Washington.

Dengan arahan Washington, Tel Aviv dan Riyadh dikabarkan telah melakukan kontak langsung untuk menekan Palestina agar berkompromi dengan Israel demi menjamin keamanan dan non-keamanan rezim tersebut, sehingga Timur Tengah versi Trump akan terbentuk tanpa ada penentangan apapun.

Namun, pengalaman sejarah di kawasan sensitif di dunia ini mencatat bahwa rencana seperti itu mustahil terwujud. (ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.