Selasa, 14 Juli 20

Beda PPP, Beda Pula Golkar

Beda PPP, Beda Pula Golkar

Beda PPP, Beda Pula Golkar

Konfliknya memang hampir mirip, yakni kepengurusan terbelah, di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Golkar, tetapi ada perbedaan waktu pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) tandingan. PPP pimpinan Romahurmuzij (Romi) menggelar perhelatan tersebut jauh hari sebelum PPP kubu Djan Faridz yang mendapat sokongan dari mantan Ketua Umum (Ketum) H Suryadharma Ali (SDA) melakukan Munas. Dan akibatnya, Kepengurusan Romi lebih diakomodir Menkum dan HAM karena sesuai dengan perintah undang-undang. Peraturan perundangan yang ada menyebutkan bahwa setelah tujuh hari kepengurusan hasil Munas dilaporkan, maka Menkum dan HAM harus segera membuat keputusan. Sementara kepengurusan PPP kubu Djan Faridz baru melaporkan kepengurusan hasil Munas mereka, setelah terlebih dahulu Menkum dan HAM membuat keputusan tersebut.

Berbeda dengan dua kubu yang berkonflik di Golkar, dua kubu menggelar Munas hampir bersamaan. Kemudian mereka melaporkan kepengurusan dan hasil Munas pada hari yang sama, hanya selisih jam. Di lihat dari persyaratan dan kelengkapan keduanya juga hampir sama. Kalau pun mungkin ada kekurangan, keduanya juga sama. Maka siapa pun yang harus mengambil kebijakan, pastilah akan berpikir sama, perlu diselesaikan keduanya atau islah. Namun tentu saja kebijaksanaan ini tidak disambut suka cita semua pihak, terutama mereka yang ngotot ingin pengesahan. Mereka yang optimis menang, seperti kubu Munas Bali atau versi ARB kecewa dan marah. Bahkan mereka mengancam akan memperkarakan persoalan tersebut ke ranah hukum. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah ancaman tersebut benar-benar akan dilaksanakan? Dan bagaimana kira-kira keputusannya nanti?

Ancaman tersebut mungkin saja akan dilaksanakan, tetapi sebelumnya mesti kita lihat dulu perkembangan mediasi yang sekarang tengah dibangun kubu yang bertikai. Jika mediasi berjalan lancar, dan kedua pihak dapat menerima, tentu saja ancaman itu tidak akan terjadi. Pertanyaannya sekarang adalah apakah mungkin lancar mediasi yang sedang dilkukan? Sulit menjawabnya saat ini, karena mereka yang tengah berkonflik masih panas dan masing-masing masih curiga dengan pihak lainnya. Bahkan turun-tangannya para sesepuh Golkar tidak dapat menjamin bahwa perundingan yang sedang akan dibangun bisa berjalan sesuai harapan.

Karena, masing-masing saat ini masih tidak percaya dengan lainnya. Dan keadaan semacam ini masih sulit diprediksi kapan rampungnya. Karena itu ancaman yang dilontarkan kubu ARB juga sulit dibayangkan, jadi atau tidak dilaksanakan. Sebab persoalan ini adalah sebuah jalinan mata rantai yang saling kait mengkait.
Karena itu tentu sangat jauh kalau kita harus membicarakan atau pun memprediksi tentang kira-kira apa yang akan diputuskan hakim yang mengadili gugatan kubu ARB sekarang. Saat ini hanya kita berharap agar kedua kubu segera islah.

Hilangkan kepentingan dan ambisi pribadi, dan harus diingat organisasi politik bukanlah koperasi, atau perusahaan yang hanya mencari keuntungan materi semata. Organisasi politik adalah bertujuan untuk mencapai tjuan-tujuan politik yang muaranya tentu saja untuk mensejahterakan rakyat, bukan sekedar anggotanya, sebagaimana dalam dogma koperasi. Karena itu akhirilah pertikaian yang tidak perlu, dan fokuslah bekerja untuk membangun bangsa dan Negara. Ingat bahwa pertikaian yang sedang terjadi di tubuh beringin tidak hanya membuat pening kepala internal Golkar, namun rakyat yang menyaksikannya juga telah muak dan bosan. (Arief Turatno, wartawan senior)

 

Related posts