Selasa, 9 Maret 21

BBM Naik Layaknya ‘Maling Ayam’

BBM Naik Layaknya ‘Maling Ayam’

Semarang, Obsessionnews – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dari harga Rp 6.800 menjadi  Rp 7.300 Sabtu (28/3/2015) pukul 00.00 WIB, belum banyak diketahui masyarakat. Hal ini bisa dilihat dengan tidak adanya antrean kendaraan bermotor di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (28/3). Kenaikan harga BBM kali ini layaknya ‘maling ayam‘ yang beroperasi secara diam-diam di tengah kegelapan malam.

Pantauan obsessionnews.com di SPBU di Jl. Dr. Cipto tidak menunjukkan aktivitas berarti. Suasana di sekitar masih terbilang senyap seperti hari-hari biasa. Bahkan tidak ada penjagaan layaknya H-1 kenaikan BBM.

Sementara itu SPBU di kawasan pusat kota, tepatnya di Jl. Jendral Ahmad Yani, dekat dengan Simpang Lima, hanya terlihat seorang polisi menjaga lokasi tersebut. Petugas SPBU bernama Sigit menuturkan kepada obsessionnews.com, kenaikan ini sudah diberitahukan oleh kantor pusat Jumat (27/3) pukul 11.00 WIB.

Dia menduga sepinya antrian kendaraan disebabkan informasi mengenai harga kenaikan BBM terbilang sangat dini, sehingga banyak masyarakat yang kurang tahu.

Obsessionnews.com kemudian memantau SPBU Jangli di Semarang Atas. SPBU Jangli juga terlihat lengang. Hanya beberapa kendaraan bermotor yang mengisi BBM. Suasana tidak berbeda juga nampak di SPBU Bubakan, tepi utara Kota Semarang. Bahkan di sini tidak ada penjagaan dari pihak kepolisian.

Angga, pengguna premium merasa kaget karena tidak mengetahui tentang kenaikan harga premium ini. “Tau gitu tadi saya isi full, mas. Wah, saya nggak tau kalau BBM naik. Kenaikan BBM ini kayak maling ayam aja tanpa diketahui masyarakat,” tuturnya.

Dia mengaku kenaikan premium sebesar Rp. 500 cukup membebani dirinya sebagai mahasiswa di Kota Lumpia itu. “Ngefeknya nanti ke harga makanan dan rokok. Belum tahu nanti kalau sewa kos ikut naik, bisa bahaya,” keluhnya.

Angga berharap agar pemerintah memperhatikan dampak kenaikan BBM terhadap kepentingan masyarakat kalangan bawah. “Apalagi buat orang rantauan, termasuk lumayan tinggi itu naiknya,” pungkasnya. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.