Rabu, 8 Februari 23

BBIA Bogor Jadi Laboratorium Rujukan Pangan di Indonesia

BBIA Bogor Jadi Laboratorium Rujukan Pangan di Indonesia
* Suasana di Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor. (Foto: Humas Kemenperin)

Jakarta, obsessionnews.com
Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor menjadi salah satu delegasi Indonesia atas perannya sebagai Laboratorium Rujukan Pengujian Pangan Indonesia (LRPPI) untuk ruang lingkup parameter pengujian cemaran logam berat dan mikotoksin pada bahan baku dan bahan antara pangan. Hal ini berdasarkan sidang ASEAN Food Testing Laboratory Committee (AFTLC) ke-19 secara virtual (27–28 September 2021).

Baca juga:

Bendungan Paselloreng Dukung Sulsel sebagai Lumbung Pangan Nasional

Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Pemerintah Targetkan Selesaikan Pembangunan 17 Bendungan Tahun Ini

AFTLC merupakan komite di Kawasan ASEAN yang bertugas untuk memonitor dan mengoordinasikan kegiatan pengujian mutu pangan di ASEAN, serta dalam rangka peningkatan dan penyetaraan kemampuan laboratorium pengujian pangan di negara ASEAN lewat sarana kerja sama antar laboratorium pangan di negara anggota ASEAN.

“BBIA Bogor yang merupakan unit kerja di lingkungan BSKJI berperan nyata dalam peningkatan mutu laboratorium pengujian pangan nasional, dan merupakan salah satu anggota Jejaring Laboratorium Pengujian Pangan Indonesia (JLPPI) yang telah ditetapkan menjadi LRPPI pada tanggal 10 September 2018 oleh Komisi Laboratorium Pengujian Indonesia (KLPPI),” tutur Kepala Badan Standardisasi Kebijakan dan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Doddy Rahadi di Jakarta seperti dikutip obsessionnews.com dari siaran pers, Sabtu (2/10).

Menurut Doddy, memasuki ASEAN Single Market, dengan pangan menjadi sektor yang dipercepat proses integrasinya dalam ASEAN Economic Community (AEC), diperlukan peningkatan kapasitas dan kualitas laboratorium yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat mendukung kegiatan surveillance dan monitoring masalah keamanan pangan from farm to table.

BBIA berperan aktif sebagai LRPPI sesuai lingkupnya dalam memberikan bantuan teknis dan transfer ilmu pengetahuan kepada laboratorium pangan dan laboratorium yang terkait pangan di Indonesia, melalui penyelenggaraan uji profisiensi/uji banding antar laboratorium sesuai lingkup penyelenggaraan pelatihan teknis pengujian, pengembangan metode uji sesuai lingkup, dan peran aktif sebagai konseptor SNI Pangan dan bahan pangan diantaranya untuk produk minyak goreng sawit, tepung terigu, gula kristal rafinasi, gula sukrosa, gula cokelat, dan lain-lain.

“Lingkup pengujian yang dimiliki BBIA sangat penting untuk kesehatan masyarakat, karena mendeteksi keberadaan logam berat dan mikotoksin dalam pangan. Senyawa beracun tersebut dapat memberikan dampak merugikan kesehatan yang dapat menyebabkan hyperaemia, pendarahan, peradangan dan pembengkakan saluran cerna,” ujar Doddy.

Kegiatan lain yang mendukung peranan BBIA sebagai LRPPI adalah kegiatan pemanfaatan teknologi dalam rangka perbaikan metode uji patulin, atau salah satu jenis cemaran mikotoksin pada pangan. BBIA juga melakukan kerja sama pengembangan dan validasi  metode uji, serta pelatihan teknis pengujian identifiasi Fe pada tepung terigu sebagai bahan makanan dengan bekerjasama dengan Nutrition Internasional (NI) dan IOWA of Canada University, AS. (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.