Senin, 16 Desember 19

Basit Raih Titel Profesor IAIN dengan Orasi ‘Radikalisme Islam’

Basit Raih Titel Profesor IAIN dengan Orasi ‘Radikalisme Islam’

Purwokerto – Prof Dr H Abdul Basit M.Ag meraih titel guru besar (profesor) melalui orasi ilmiahnya berjudul “Hermeneutika Dakwah Kampus: Radikalisme Islam, Kontestasi Ideologi, dan Konstruksinya” yang dipaparkan dalam pidato pengukuhan guru besar ilmu dakwah IAIN Purwokerto di depan sidang senat terbuka, Selasa (6/11/2018).

Menurut .Abdul Basit dalam orasinya, radikalisme Islam yang disinyalir menyasar kalangan mahasiswa tidak bisa dipungkiri keberadaannya. “Paham ini masuk melalui kegiatan dakwah kampus yang tumbuh pesat akibat dari pengaruh konflik di Timur Tengah dan adanya tindakan refresif dari pemerintah Indonesia terhadap kegiatan kemahasiswaan,” paparnya.

Mengingat radikalisme Islam telah menghegemoni kegiatan dakwah kampus hingga sekarang ini, menurutnya, maka diperlukan adanya gerakan moral dan intelektual yang dilakukan secara konsensus sebagai counter terhadap gerakan radikalisme Islam.

Direktur Pascasarjana IAIN Purwokerto ini mengemukakan, organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) atau organisasi dakwah kampus diberi kesempatan masuk ke kampus untuk mengawal gerakan moral dan intelektual tersebut.

“Gerakan dilakukan dengan cara melakukan perjuangan politik, kepemimpinan intelektual, dan penyadaran ideologi melalui pendidikan dan mekanisme kelembagaan,” tandas Basit dalam pidato tertulisnya.

Selain itu, lanjut Basit, materi-materi dakwah hendaknya dikemas dalam balutan Islam moderat dengan mensinergikan ajaran agama Islam, sains, dan pendidikan kewargaan melalui pendekatan interdisipliner/multidisipliner/lintas disiplin.

Ia pun menyuplik Laporan Tim BLA, 2015 bahwa masuknya radikalisme agama dalam kampus secara nyata telah meruntuhkan pandangan yang berkembang selama ini bahwa kehidupan kampus adalah kehidupan yang netral, lepas dari hiruk pikuk politik dan vested interest, serta adanya kebebasan akademik.

“Sementara, radikalisme agama merupakan bentuk islamisme yang ‘pemikiran dan sikap berpikir yang moderat dari kalangan anak muda terdidik ini telah bergeser ke arah radikalisme dengan corak berpikir lebih radikal dan fanatik ekstrem’,” sambung laporan tersebut.

Namun, orasi tertulis Basit juga mencantumkan sanggahan dari Rektor ITS Prof Joni Hermana yang mengatakan selama ini kondisi kampusnya justru kondusif dan adem ayem. Joni juga mengaku tidak melihat adanya aktivitas mencurigakan di kampusnya. Saat dimintai pendapat, Joni juga mengaku tengah menunggu data resmi dari BNPT. (http://news.detik.com, 4/6/2018),

Sementara, Rektor Universitas Paramadina Firmanzah yang turut tergabung dalam Forum Rektor Indonesia, menyayangkan sikap BNPT yang langsung mengeluarkan data tersebut tanpa adanya pola komunikasi terlebih dahulu dan BNPT seharusnya dapat menjelaskan metodologi dalam menentukan sebuah perguruan tinggi terindikasi radikalisme. (https://news.okezone.com, 9/6/2018).

Absul Basit lulusan Doktor Islamic Studies, konsentrasi Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2010), Magister Islamic Studies, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2001), dan Sarjana Jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (1995). (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.