Senin, 30 Maret 20

“Barcelona Ketakutan di Anfield!”

“Barcelona Ketakutan di Anfield!”
* Barcelona 4-0 Liverpool di semi-final Liga Champions 2018-2019

Mantan manajer Liverpool, Gerard Houllier meyakini Barcelona dibuat ketakutan dengan atmosfer Anfield yang menyebabkan mereka gagal lolos ke final Liga Champions musim ini.

 

Baca juga: Liverpol ke Final Liga Champions Setelah “Bunuh” Barcelona

 

Blaugrana menampilkan performa yang sangat buruk sehingga harus merelakan tiket ke final diraih The Reds.

The Reds membalikkan defisit agregat 3-0 pada leg pertama menjadi unggul 4-3, sekaligus menyebabkan kampiun La Liga Spanyol mengubur ambisi melaju lebih jauh dari semi-final.

Houllier, yang pernah membawa Liverpool juara Piala UEFA musim 2001/02, mengklaim dirinya memang selalu yakin bahwa bekas klubnya mampu untuk mewujudkan kemustahilan yang ada.

“Saya tidak tahu mengapa tapi saya mempunyai perasaan bahwa mereka akan melaju, bahkan setelah laga [kekalahan] di Barcelona,” ujar Houllier kepada talkSPORT.

“Mereka sangat tidak beruntung di Camp Nou dan tidak ada yang spesial dari tim ini dan saya punya perasaan aneh bahwa mereka akan lolos.”

“Klub ini sesuatu yang spesial bagi fans. [Atmosfer Anfield] tidak kasar, tidak agresif, tapi sangatlah keras dan dan itu memacu para pemain untuk menyerang.”

“Begitu mereka mencetak gol pertama, saya tahu mereka akan lolos. Mereka tampak praktis dan tak tertahankan dan itu juga membuat lawan ketakutan. Untuk gol terakhir, Barcelona benar-benar terpaku.”

Di partai final, Liverpool bakal menghadapi pemenang semi-final lainnya antara Tottenham Hotspur dan Ajax Amsterdam di Wanda Metropolitano, Madrid.

Origi Juru Selamat Liverpool
Menjelang laga leg kedua semi-final Liga Champions melawan Barcelona, Rabu (8/5) dini hari WIB, para penggemar Liverpool mendapat kabar buruk. Mohamed Salah dan Roberto Firmino dipastikan tidak dapat bermain, padahal The Reds butuh setidaknya tiga gol untuk bisa lolos.

Meski sempat diragukan para penggemar, Origi berhasil menjelma menjadi salah satu pemain paling efektif bagi The Reds musim ini.

Saat itu mungkin para penggemar Liverpool sudah pasrah dengan nasib timnya, tetapi datanglah sang juru selamat bagi Liverpool, Divock Origi. Penyerang asal Belgia tersebut berhasil mencetak dua gol dalam kemenangan 4-0 atas Barca.

Gol pertamanya dicetak dari jarak dekat pada menit ketujuh, usai Jordi Alba melakukan kesalahan. Sedangkan gol keduanya merupakan hasil kerjasama cerdik dengan Trent Alexander-Arnold lewat skema sepak pojok. Gol yang dicetak di hadapan tribun The Kop tersebut berhasil menjadi penentu kelolosan Liverpool.

Ini bukan kali pertama Origi menyelamatkan Liverpool pekan ini. Dia juga menjadi penentu kemenangan 3-2 The Reds di kandang Newcastle United, Minggu (5/5) dini hari. Berawal dari tendangan bebas Xherdan Shaqiri, dia berhasil menyundul bola melewati Martin Dubravka dan menjaga asa Kopites untuk menjuarai Liga Primer Inggris.

Nama Origi juga sempat dielukan publik Anfield ketika menjadi pencetak gol kemenangan dalam Derby Merseyside lima bulan lalu. Pemain 24 tahun tersebut berhasil memanfaatkan bola muntah hasil kesalahan Jordan Pickford dalam mengantisipasi tendangan Virgil Van Dijk di menit ke-96.

Di balik kisah bak negeri dongeng, perjalanannya musim ini tidaklah mudah. Meski Jurgen Klopp tidak merekrut penyerang tambahan, Origi hanyalah penyerang pilihan ketiga di awal musim. Bahkan dia juga sempat dimainkan bersama Liverpool U23 untuk menjaga kebugaran.

Wajar jika para penggemar juga sempat meragukannya. Pada musim sebelumnya dia tampil inkonsisten ketika dipinjamkan ke Vfl Wolfsburg. Diharapkan mampu jadi ujung tombak klub, Origi tidak mampu mengangkat performa klub. Bahkan Wolfsburg butuh dua laga playoff menghadapi Holsten Kiel agar mampu bertahan di Bundesliga.

Dalam 36 penampilan bersama Die Wolfe, Origi hanya mampu menciptakan tujuh gol. Dia bahkan sempat absen mencetak gol dalam 13 pertandingan beruntun di putaran kedua. Akibatnya, Origi harus rela dicoret dari skuat Belgia untuk Piala Dunia 2018.

Kunci kebangkitan Origi musim ini adalah efektivitas. Meski tidak mendapat banyak menit bermain, dia selalu muncul untuk ketika dibutuhkan tim. Musim ini mantan pemain Lille tersebut mampu mencetak enam gol hanya dari 577 menit di lapangan.

Jadi, berdasarkan statistik Origi merupakan penyerang paling eektif yang dimiliki The Reds. Dia berhasil mencetak satu gol setiap 96,16 menit, catatan tersebut lebih baik dibandingkan milik Roberto Firmino (209,25 menit), Sadio Mane (172,04 menit), dan Mohamed Salah (160,07 menit).

Berkat efektivitas sang juru selamat, Liverpool masih punya kans untuk merebut gelar ganda musim ini. Sementara itu nama Origi akan selalu terpatri di hati para Kopites, meski kita semua tidak tahu apakah dia masih akan bertahan di Anfield musim depan. (goal.com/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.