Rabu, 12 Agustus 20

Barat Berutang Budi Pada Ilmuwan Muslim

Barat Berutang Budi Pada Ilmuwan Muslim
* Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si, Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian, Program Magister Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Para pelancong dari Eropa datang mengunjungi berbagai perpusatakaan dan toko-toko buku yang tersebar di pusat-pusat Islam pada masa kebesaran Islam di abad pertengahan. Mereka mendapatkan buku dari perpustakaan tersebut, kemudian menerjemahkannya ke dalam Bahasa Latin.

Menurut catatan Danielle Jacquart (1996), di bidang kedokteran saja mereka mengambil lebih dari 40 buku utama yang mereka terjemahkan ke dalam Bahasa Latin, dan memiliki pengaruh signifikan bagi kemajuan kedokteran di Eropa sampai munculnya kebangkitan Eropa pada Abad ke-14.

Mereka melapalkan nama-nama penulis Arab dalam Bahasa Latin, atau bahkan mengubahnya menjadi nama samaran.

Hal ini dimungkinkan karena dalam Islam tidak adanya hak cipta.

Untuk lebih jelasnya mengenai nama-nama penulis/peneliti Arab, penterjemah, dan penulis yang dilapalkan dalam Bahasa Latin disajikan pada Tabel 1.

Mengacu pada Tabel 1. tersebut, Hunayn Ibnu Ishaq dalam Bahasa Latin disebut Constantinus Africanus, Iohannitius, dan Hunen. Ali Ibn Abbas Al-Majusi disebut dengan dua nama, yakni Constantinus Africanus dan Haly Abbas. Qusta Ibn Luqo disebut Costa Ben Luca dan Contabulus.

Nama kembar juga dialamatkan kepada Al-Zahrawi dan Ibn Butlan. Al-Zahrawi disebut dengan nama Albucasis dan Alcoati. Sedangkan Ibn Butlan disebut Ibn Botlan dan Elluchasem Elimithar. Selain itu, nama-nama Latin yang disebutkan dalam terjemahan sangat jauh dari ungkapan Bahasa Arab.

Menurut  Jacquart (1996), hanya ada tiga nama Latin yang mirip ungkapan Arab. Ishaq Ibn Sulayman Al-Israeli disebut Isaac Israeli; Ibn Butlan disebut Ibnu Botlan; dan Al-Kindi dengan Jacob Al-Kindi. Selain itu, nama Constantinus Africanus dipergunakan untuk Ishaq Ibn Imran dan Ibn Al-Jazzar.

Pengaburan nama-nama penulis dan peneliti Arab dalam Bahasa Latin tesebut, menurut Jacquart, dimaksudkan untuk menghilangkan peran Arab (Islam) bagi pengembangan ilmu di Eropa. Mereka ingin mengesankan bahwa Eropa menerima ilmu pengetahuan bukan dari Arab melainkan dari Yunani. Selanjutnya Jacquart menegaskan:“… Para penterjemah tidak segan untuk memperkenalkan bahwa karya ilmiah yang mereka terjemahkan ke dalam Bahasa Latin merupakan karyanya sendiri, dengan maksud untuk mengesankan bahwa karya-karya tersebut merupakan penemuan kembali ilmu-ilmu Yunani, di mana para penterjemah adalah sebagai koordinator bagi penemuan tersebut” (Jacquart, 1996: 964).

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.