Minggu, 16 Juni 19

Banyak Muslim Uyghur yang ‘Hilang’ di Cina

Banyak Muslim Uyghur yang ‘Hilang’ di Cina
* Dua anak mengusung poster bertuliskan #MeTooUyghur. (BBC)

Cina dihujani berbagai kritik dari masyarakat dunia atas perlakuan negara komunis itu yang dianggap menindas sejumlah besar warga suku Uighur, kelompok minoritas Muslim negeri tersebut, antara lain dengan menahan mereka di kamp-kamp khusus.

Pada Agustus 2018, komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut program ‘reedukasi, atau ‘pendidikan ulang’. Bahkan, diduga dilakukan genosida terhadap Muslim Uighur.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan Muslim Uighur di Cina menghadapi persekusi dan bahkan banyak orang (muslim) Uighur yang ‘hilang’ di wilayah bagian Cina tersebut setelah dituduh sebagai ekstrimis tanpa bukti.

Sementara kelompok hak asasi manusia mengatakan para tahanan dipaksa menyatakan kesetiaan kepada Presiden Xi Jinping, disamping mengecam atau meninggalkan keyakinannya. Sejumlah organisasi pelindung HAM mengatakan m uslim Uighur ditahan di kamp-kamp tahanan dan tidak diperkenankan menghubungi kerabat.

Seperti dilansir BBC, Rabu (13/2/2019), sejak media pemerintah Cina merilis sebuah video (bantahan palsu) guna menunjukkan seorang musisi etnis Uighur dalam kondisi sehat, meski sebenarnya berbagai laporan menyebutkan dia telah meninggal dunia, berbagai orang Uighur membanjiri media sosial dengan pesan berisi permintaan kabar tentang kerabat mereka yang hilang.

Pada 10 Februari, sebuah rekaman video yang dirilis China Radio International layanan bahasa Turki menampilkan musisi Abdurehim Heyit, yang menyebut dirinya berada dalam kondisi sehat.

Peluncuran video tersebut berjarak sehari setelah pemerintah Turki mendesak Cina menutup kamp-kamp penahanan etnis Uighur berdasarkan kabar kematian Abdurehim Heyit. Pertanyaan-pertanyaan tentang keaslian video itu dan kapan perekamannya berlangsung dilontarkan sejumlah kelompok etnis Uighur.

Kini, dengan menggunakan tagar #MeTooUyghur di Twitter dan Facebook, kerabat para tahanan dan aktivis mengemukakan pertanyaan kepada pemerintah Cina mengenai bukti keberadaan mereka.

Sekitar satu juta orang Uighur dan warga Muslim lainnua diyakini berada dalam kamp tahanan yang disebut pemerintah Cina sebagai pusat pelatihan kejuruan dan diperlukan guna memerangi terorisme.

Apakah Mereka Masih Hidup?
Alfred mencuit bahwa dia tidak melihat orang tuanya selama lebih dari 11 bulan. Karena itu, dia ingin pemerintah Cina “menunjukkan kepada saya mereka masih hidup”. Kaum Uighur di wilayah Xinjiang berada dalam pengawasan ketat oleh aparat Cina.

Seperti dilansir BBC, banyak orang Uighur yang bermukim di luar Cina mengatakan mereka belum bisa berbincang dengan kerabat di Cina selama bertahun-tahun.

Babur Jalalidin dan adik perempuannya juga khawatir terhadap nasib orang tua mereka yang ditahan sejak Januari 2018. Mereka meminta pemerintah Cina menyediakan bukti bahwa ayah dan ibu mereka masih hidup.

Putra mantan pemimpin redaksi Xinjiang Cultural Journal, Qurban Mamut, memohon kepada pemerintah Cina untuk membebaskan ayahnya yang telah hilang sejak 2017. “Tunjukkan juga video ayah saya, Kurban Mamut. Anda telah memotong hubungan kami selama lebih dari setahun,” cuit Bahram Qurban.

Kemudian, sepupu dari pesepakbola profesional, Erpat Ablekrem, memohon kepada pemerintah Cina melalui Facebook untuk membebaskannya dari “kamp konsentrasi” yang menurutnya menjadi tempat Ablekrem ditahan sejak Maret 2018.

Di Finlandia, aktivis Uighur, Halmurat Harri, bertanya tentang banyak sosok lainnya yang masih hilang.

Pada Sabtu (9/2), juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy mengatakan, bukan lagi rahasia bahwa lebih dari satu juta warga Turki Uighur yang ditangkap secara sewenang-wenang menjadi sasaran penyiksaan dan indoktrinasi politik di penjara. Mereka yang tidak ditahan pun berada “di bawah tekanan besar”.

Pembangunan kembali kamp konsentrasi di abad 21 dan kebijakan asimilasi sistematik pemerintah Cina terhadap warga Uighur dinilai sebagai aib besar bagi kemanusiaan. Aksoy juga mengungkapkan laporan tentang kematian seorang musisi, Heyit, semakin memperkuat reaksi publik di Turki akan pelanggaran HAM serius di Xinjiang.

Ia pun meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk mengambil langkah efektif demi mengakhiri tragedi kemanusiaan di wilayah bagian Cina tersebut. Nampaknya, dunia Islam perlu segera mendesak PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) agar Cina rezim menghentikan persekusi dan ‘penyiksaan’ terhadap etnis minoritas muslim Uighur. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.