Rabu, 5 Agustus 20

Banjir Dukungan untuk Anies-Sandi

Banjir Dukungan untuk Anies-Sandi
* Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Jakarta, Obsessionnews.com –  Tak dapat dipungkiri Pilkada DKI Jakarta 2017 merupakan pilkada yang paling banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia. Banyak pihak yang menyebut Pilkada DKI rasa Pilpres. Karena diprediksi pemenangnya berpeluang maju di Pilpres 2019.

Adalah Joko Widodo (Jokowi) yang membuat Pilkada DKI 2017 terasa seperti Pilpres. Secara mengejutkan kader PDI-P itu yang berduet dengan mantan Bupati Belitung Timur, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), memenangkan Pilkada DKI 2012. Jokowi-Ahok mengalahkan Gubernur petahana DKI Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat DKI Nahrowi Ramli. Dengan demikian Jokowi-Ahok memimpin DKI periode 2012-2017.

Namun, belum genap dua tahun menjadi Gubernur DKI, Jokowi mengikuti Pilpres 2014. Jokowi yang saat itu menggandeng mantan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) berhasil menakulkkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Pada 20 Oktober 2014 Jokowi-JK dilantik sebagai Presiden RI dan Wapres periode 2014-2019.

Keberhasilan Jokowi memenangkan Pilpres 2014 tersebut membuat sejumlah pengamat menilai Pilkada DKI merupakan jembatan untuk menuju kursi RI-1.

Pilkada DKI 2017 diikuti tiga pasangan calon (paslon), yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang bernomor urut 1, Ahok-Djarot Saiful Hidayat (nomor 2), dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (nomor 3).

Agus putra sulung Presiden keenam RI dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat. Agus berlatar belakang militer. Setelah resmi menjadi calon gubernur (cagub), Agus mengundurkan diri dari TNI AD. Sementara itu pasangannya, Silvy, adalah mantan Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI. Agus-Sylvi diusung oleh Partai Demokrat, PPP, PAN, dan PKB.

Ahok adalah Gubernur DKI. Ia menggantikan Jokowi yang menjadi Presiden RI. Ahok dilantik menjadi Gubernur DKI oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, 19 November 2014. Dalam Pilkada DKI 2017 ia menggandeng  kader PDI-P yang juga Wakil Gubernur DKI, Darot. Duet Ahok-Djarot diusung PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura.

Sementara itu Anies Baswedan adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.  Anies yang juga mantan Rektor Universitas Paramadina tidak berlatar belakang politik. Pasangannya, Sandiaga Uno yang akrab disapa Sandi adalah pengusaha papan atas Indonesia. Pada tahun 2015 ia terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Gerindra. Anies-Sandi diusung Partai Gerindra dan PKS.

Pilkada DKI 2017  digelar pada tanggal 15 Februari lalu. Komisi Pemilihan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta (KPU DKI)  Senin (27/2) mengumumkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, yakni Agus-Sylvi memperoleh  937.955 suara atau 17,05 persen, Ahok-Djarot 2.364.577 ( 42,99 persen), dan Anies-Sandi  2.197.333 ( 39,95 persen).

Ketiga paslon tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50 persen sebagai persyaratan untuk ditetapkan sebagai gubernur dan wagub sebagaimana ditetapkan dalam UU 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu pada rapat pleno Sabtu (4/3) KPU DKI memutuskan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi maju di putaran kedua pada 19 April mendatang.

Buruh Deklarasi Dukung Anies-Sandi

Menjelang Pilkada DKI putaran kedua Anies-Sandi memperoleh banjir dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Para relawan Agus-Sandi menyatakan dukungannya kepada Anies-Sandi. Demikian juga dengan PAN dan PPP. Selain itu Anies-Sandi juga mendapat dukungan dari kalangan buruh.

Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Ratusan buruh mendeklarasikan dukungan untuk Anies-Sandi di kantor DPP Partai Gerindra, Sabtu (1/4). Acara tersebut dihadiri Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Dalam kesempatan itu Prabowo meminta seluruh elemen pendukung Anies-Sandi Uno bekerja keras untuk memenangkan pasangan nomor urut tiga ini. Ia menginstruksikan kepada relawan dan pendukung mengerahkan seluruh tenaga pada pemilihan.

“Saya minta sekali ini saja, tanggal 19 (April) turun semua,” kata Prabowo.

Semua pendukung Anies-Sandi, lanjutnya, harus bekerja sama menjaga dan mengawasi Pilkada DKI agar berlangsung jujur dan adil. Mantan Danjen Kopassus ini meminta seluruh elemen tak takut dengan berbagai intimidasi. Ia bahkan mengimbau untuk melaporkan jika hal itu terjadi.

“Ini bukan saatnya banyak bicara, ini saatnya bertindak. Tolong jaga seluruh TPS di Jakarta,” tegas mantan Pangkostrad tersebut.
Ahok Hina Al Quran dan Ulama

Ahok pemeluk  agama Kristen Protestan.  Ia dengan lancang mencampuri urusan agama lain, yakni Islam. Ia menyinggung soal Al Quran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016). Ketika itu Ahok antara lain menyatakan, “… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..”

Ucapan mantan Bupati Belitung Timur tersebut membuat umat Islam tersinggung dan melaporkannya ke polisi. Sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dalam pernyataan sikap keagamaannya, Selasa (11/10/2016), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Al-Quran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Pernyataan Ahok tersebut menimbulkan gelombang demonstrasi di berbagai daerah di tanah air. Di Jakarta pada Jumat (14/10/2016) massa yang dikoordinir Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar unjuk rasa menuntut Ahok ditangkap dan dipenjara. Aksi bela Islam ini dikenal dengan Aksi 410. GNPF MUI kembali menggelar aksi bela Islam jilid 2 pada Jumat (4/11/2016) atau Aksi 411 dan aksi bela Islam jilid 3 pada Jumat (2/12/2016).

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11/2016). Statusnya berubah menjadi terdakwa saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Selasa (13/12/2016).

Dalam sidang tersebut  Ketua Jaksa Penuntut Umum Ali Mukartono mengatakan, ucapan Ahok yang menyinggung Al Quran surat Al Maidah ayat 51 sebagai bentuk penistaan atau menodai agama.

“Terdakwa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan ataupun penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia,” tegas Ali.

Menurutnya, tindakan itu berpotensi memunculkan permusuhan atau penodaaan agama Islam yang mayoritas dianut rakyat Indonesia.

Atas perbuatannya tersebut, Ahok terancam melanggar Pasal 156 huruf a KUHP dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Hinggga Rabu (29/3/2017) Ahok menjalani sidang ke-16. (arh)

Baca Juga:

TEMPO Ungkap Ahok Terima Uang e-KTP

Kasus e-KTP , Nama Ahok Ada di Nomor 30

Ahok Cetak Sejarah Lakukan Penggusuran Paling Brutal

Gubernur Baru DKI Jangan Tiru Ahok yang Kering Inovasi

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.