Minggu, 19 September 21

Banjir Air Mata, Banjir Sembako dan Banjir Karangan Bunga

Banjir Air Mata, Banjir Sembako dan Banjir Karangan Bunga
* Karangan bunga di depan Balai Kota DKI Jakarta.

Oleh : Hersubeno Arief, Konsultan Media dan Politik

 

Banjir rupanya memang sulit dihindarkan dari keseharian hidup warga yang tinggal di Jakarta. Selain banjir beneran, Jakarta beberapa waktu lalu dilanda banjir caci maki, banjir saling hujat, banjir sembako,   banjir air mata, dan sekarang banjir karangan bunga.

Fenomena ini bisa kita sebut sebagai anomali karena adanya  climate  change, “perubahan cuaca.”  Atau lebih tepatnya kita sebut sebagai political  climate change, perubahan iklim politik.

Banjir beneran di Jakarta selain karena faktor penanganan  dan manajemenn perkotaan yang kurang tepat, juga dikarenakan faktor alam yang sering disebut sebagai  El Nino effect, yakni memanasnya suhu permukaan air laut.

Sementara banjir sembako, banjir air mata dan banjir karangan bunga, disebabkan  Ahok effect. Suhu udara di Jakarta juga memanas, bahkan sangat panas.

Political climate change itu sudah mulai terasa ketika dua setengah tahun lalu Ahok menjadi Gubernur DKI  menggantikan Jokowi yang karena peruntungannya baik, kok ndilalah kemudian menjadi Presiden RI. Sejak itu udara Jakarta benar-benar berubah.

Dimulai  dengan aksi penggusuran berbagai kantong kemiskinan di Jakarta, umpatan-umpatan kasar Ahok yang diucapkan di muka publik, penistaan agama dan puncaknya ketika berlangsung Pilkada DKI 2017, Rabu (19/4).

Namanya juga perubahan cuaca tidak mudah mengatasinya, tanpa menyelesaikan faktor penyebab utama semua perubahan. Banjir di Jakarta dan berbagai wilayah di Indonesia, faktor utamanya adalah kerusakan alam akibat ulah manusia. Susah urusannya karena harus mengubah kesadaran manusia akan pentingnya kelestarian alam.

Nah “banjir” di Jakarta faktornya juga karena ulah manusia bernama Ahok. Soal yang ini kelihatannya lebih mudah diatasi, karena ada kesadaran bersama untuk mengganti Ahok dengan gubernur yang baru. Jadi faktor penyebabnya sudah teridentifikasi dan dapat diselesaikan. Mission accomplished. Done.

Perubahan sudah terjadi tapi kok banjirnya masih berlanjut? Harap bersabar sedikit, namanya telah terjadi kerusakan, jadi perlu waktu untuk memperbaikinya.

Banjir air mata karena Ahok kalah dan disusul dengan banjir karangan bunga ini hanya dampak ikutan yang bersifat sementara.

Kayak tidak pernah jadi remaja saja. Remaja  yang sedang jatuh cinta kan mirip-mirip Ahokers, susah diingatkan, susah diberitahu.

Percuma saja Anda mengingatkan sampai berbusa-busa. Biarkan mereka sementara melakukan apa saja. Beri ruang dia. Beri waktu mereka untuk bisa melihat realita.

Biasanya seiring dengan waktu yang berlalu, mereka akan bisa dengan senyum-senyum kecil  ngomong,“ Untung gua putus dengan dia ya. Dia kan gitu.”

Makin lama senyum itu akan makin melebar. Mereka bisa dengan menertawakan diri sendiri dan berujar, “Kok bisa siy gua dulu jatuh cinta dengan dia? Apa siy hebatnya dia? Sok kegantengan aja!” Gotcha!  Kena loe.

Sikap dan ucapan  mereka akan berubah 180 derajat manakala mereka mendapat pengganti dengan sosok yang lebih hebat. Lebih ganteng, lebih sopan, lebih pinter, lebih care apalagi kalau  lebih tajir!

Calon yang beginian kalau dikenalin ke orang tua dan saudara-saudara  juga pasti langsung dapat persetujuan. Lebih resep  kata orang Betawi.

Lagi pula kalau kemudian menikah, hidup berumah tangga dan  hidup bertetangga, suasananya akan rukun, tentram.

Bisa dibayangkan kalau tiap hari kita dapat umpatan “ Goobl…peeeep…Ta..peeeep, kalau sampai tetangga yang kena kan bisa berantem setiap hari. Capek deh…….

Apa pelajaran yang bisa kita petik  dari banjir sembako, banjir air mata dan banjir karangan bunga?

Kalau mau cari jodoh coba dengar nasihat orang tua, nasihat para ulama. Pilih juga dengan cara yang lebih syar’ie.

Kalau cari jodoh saja syaratnya harus ketat, apalagi cari pemimpin.  (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.