Sabtu, 31 Oktober 20

Bang Ali Tentang Buya Hamka dan Pak Natsir

Gubernur Jakarta (1966-1977), Letnan Jenderal (Marinir) H. Ali Sadikin, rupanya punya kesan khusus mengenai dua tokoh: Buya Hamka, dan Mohammad Natsir. Kesan itu diungkapkan dalam memoar yang ditulis oleh Ramadhan K.H., “Bang Ali Demi Jakarta, 1966-1977” (Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1992, halaman 385, 386, dan 387).

Buya Hamka.

Berikut ini, penuturan Bang Ali:

“Sekitar tahun 1973, ada dua-tiga kali Buya Hamka menulis kritik dan usul di surat kabar yang dialamatkan kepada saya. Ditulisnya mengenai judi dan soal kuburan serta usulnya agar tempat WTS (wanita tuna susila) disisihkan.

“Membaca tulisannya itu saya meneleponnya, dan mengundangnya, jika tidak keberatan, untuk bertemu dengan saya. Maka Buya datang menemui saya. Lalu kami bertukar pikiran. Dan saya menerima usulnya mengenai WTS itu.

“Saya rasakan, Buya itu selalu arif dan bijaksana. Kalau bicara dengannya terasa enak. Selalu beliau memberikan bahan-bahan pemikiran kepada saya.

“Pembicaraan kami dengannya selalu produktif. Beliau tidak pernah bicara di depan saya, bahwa ‘ini tidak benar, ini salah’, melainkan memberikan pemikiran-pemikiran secara langsung.”

Buya Hamka sendiri menyebut Gubernur Ali Sadikin sebagai “orang yang paling tahan dikritik, sangat spontan, terbuka, terus terang, tidak birokratis, dan tidak munafik. Dan hal itu membuat rakyat Jakarta bersimpati kepadanya.”

Tentang Mohammad Natsir yang ditemui saat Bang Ali menunaikan ibadah haji pada 1974, Gubernur Jakarta itu menuturkan:

“Satu kegembiraan lainnya adalah bahwa dalam kesempatan ini saya bertemu dengan Pak Natsir di Makkah. Kalau tak salah, ini kesempatan yang pertama saya bicara agak panjang dengannya. Satu kali lagi perjumpaan dengannya adalah di rumah seniman, Ajip Rosidi, waktu di sana ada suatu selamatan.

“Alhamdulillah. Alhamdulillah, perasaan tidak suka yang pernah hinggap pada diri saya terhadap Pak Natsir karena beliau melawan Bung Karno, hilang lenyap dengan pertemuan kami di Makkah itu. Ini terasa hikmah buat saya. Dan seterusnya saya merasakan, bahwa orang macam beliau ini adalah pejuang yang mementingkan rakyat banyak, agama, dan juga konsisten!”

Mohammad Natsir.

Bang Ali dikenal sebagi gubernur yang keras dan tegas. Buya Hamka dan Pak Natsir pun dikenal sebagai tokoh yang keras dan teguh memegang prinsip perjuangan. Akan tetapi, betapapun tajamnya perbedaan pandangan di antara mereka, ketiga tokoh itu tidak pernah menutup pintu dialog.

Dengan dialog yang cerdas dan dewasa, ketiga tokoh itu mampu menemukan solusi yang manusiawi dan bermartabat untuk pembangunan Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Hubungan persahabatan yang akrab antara Bang Ali, Buya Hamka, dan Pak Natsir pun berlangsung hangat sampai ketiganya kembali ke rahmatullah.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu’anhum. (Lukman Hakiem, Peminat Sejarah)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.