Rabu, 15 Juli 20

Bandung Lautan Air, Kelengahan Atau Bencana?

Bandung Lautan Air, Kelengahan Atau Bencana?
* Bandung dikepung banjir.

Bandung, Obsessionnews.com – Dulu Kota Bandung terkenal dengan lautan api, namun kini jadi lautan banjir.

Banjir yang terjadi, Senin (24/10/2016) sempat membuat geger warga Bandung. Masalahnya selama ini banjir sedahsyat itu tidak pernah terjadi. Bahkan banjir kali ini menimbulkan korban jiwa hingga meninggal dunia.

AS, berusia 30 tahun, karyawan Borma, akhirnya meninggal setelah menolong seorang ibu yang terseret air di kawasan depan SMP 15 Gegerkalong Setiabudi Bandung utara. Bahkan AS terseret beberapa meter hingga masuk selokan yang bergemuruh air.

Pasteur atau jalan Djundjunan kota Bandung yang tidak biasa mengalami banjir separah itu, pada hari itu jadi “sungai”. Daerah pusat kota itupun lumpuh selama beberapa jam.

Sejumlah pengamat lingkungan menilai kejadian itu baru awal kerusakan dan dapat kembali terjadi, apabila keberadaan Kawasan Bandung Utara (KBU) tidak ditata. Bahkan selama ini pembangunan di wilayah tersebut didominasi para pemilik modal dan pencari lahan sejuk, tanpa memikirkan nasib mereka yang ada di kawasan Kota Bandung. Sehingga perizinan Bangunan di kawasan tersebut harus segera dihentikan.

Seperti yang dilontarkan Koordinator Gerakan Hejo Eka Santosa yang menilai Perda Kawasan Bandung Utara (KBU) No 1 Tahun 1982 tentang Pengendalian Bandung Utara yang sedang direvisi oleh Komisi IV DPRD Jabar yang kini masih di Kemendagri, seharusnya Perda ini dirombak total.

Sejumlah perundang-undangan dan peraturan pengendalian KBU yang mekibatkan Pemprov Jabar, Kota Bandung, Kab. Bandung, Kota Cimahi dan Kab. Bandung Barat, masih amburadul, semua pihak saling menyalahkan, tindakan hukum tebang pilih malah membiarkan pelanggarnya, investor besar kasak-kusuk ke pemberi ijin lalu mengadu-domba diantara mereka.

“Eksekutif, legiskatif, dan yudikatif, tanpa malu-malu ‘bermuka badak!’ hanya saling berkilah seakan lepas tanggung jawab soal KBU dan perijinan juga soal tata-ruang,” paparnya.

Data terakhir dari daerah resapan air KBU tersebut dari 800 mata air, kini hanya 400, hanya 70 buah yang masih mengalir dengan baik, ssemuanya hilang oleh proyek pembangunan perumahan hotel dan juga proyek lainnya, daerah yang membentang dari kawasan Bandung Barat, Lembang, Setiabudi Bandung Utara kini berubah jadi akar beton yang menghunjang ke puluhan meter dibawah tanah sebagai fondasi villa. Hotel, apartemen dan rumah mwwah milik pejabat dan para cukong kaya.

Selain kerusakan di daerah hulu, banjir kota Bandung disebabkan bantaran kali di kota Bandung sudah sempit dan dangkal, pantas jalan air semakin dihambat secara massive, sehingga banjir akan selalu menghantui.

Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil menyampaikan permohonan maaf melalui akun Twitternya. “Hindari Jln pasteur sdg banjir. Tim @dbmpkotabdg sdh di TKP. Insya Allah sdg siap2 dipasang Tol Air spt Gedebage yg skg tdk banjir. Mhn Maaf,” cuit Ridwan Kamil waktu itu yang sedang berada di Belanda.

Lagi-lagi tol air yang diandalkan dapat mengatasi banjir, hari ini Jumat (28/10/2016) tidak mampu menahan volume air di kawasan Gedebage Bandung Timur. Sehingga air kembali menggenangi kawasan penghubung Kota dan Kabupaten Bandung ini. Ruas jalan Soekarno Hatta Bandung yang terus menerus mengalami peninggian jalan, boleh jadi tidak akan berumur panjang karena badan jalan tergerus air terus menerus.

Jika Eka Santosa mendesak agar prosedur hukum terhadap pembangunan KBU di stop agar kerusakan tidak lebih parah, maka pengamat lainnya dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Shobirin, dia berpendapat lain dan tidak setuju dengan adanya pembangunan tol air, selain penghamburan biaya APBD, juga akan memunculkan bencana baru di daerah lainnya.

“Sebaiknya libatkan anak sekolah, elemen masyarakat lain untuk membersihkan sejumlah selokan setiap minggu, sehingga ada reward dan funishment bagi mereka yang menjalankannya, ” tegas Shobirin.

Sejumlah warga Bandung Timur juga mengaku khawatir, setelah terbiasa banjir selama dua puluh tahun, akan semakin parah dengan dampak pembangunan Sumarecon yang kini membangun puluhan hektar di kawasan Gedebage Bandung Timur dengan dibalut istilah Bandung Metropolis.

“Saya khawatir banjir di Bandung Timur ini akan semakin parah dengan dibangunnya Sumarecon pemodal besar yang membangun perumahan dan sejumlah fasilitasnya. Lihat saja urugan kawasan mereka lebih tinggi dibanding daerah kami, ” ujar Lia Noerhambali, warga Cempaka Arum, sekitar 500 meter dari komplek Sumarecon.

Bila pusat kota Bandung, Bandung Timur, Bandung Selatan jadi langganan banjir, bahkan jadi lautan air, akan kemana lagi kita tinggal dan menjadi penghuni yang nyaman? (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.