Jumat, 22 Oktober 21

Bandung Kota Tercantik di Dunia, Kini Punya 1200 Masalah

Bandung Kota Tercantik di Dunia, Kini Punya 1200 Masalah

Bandung, Obsessionnews – Bandung merupakan kota teraman di dunia dari hasil survei Majalah Time tahun 1990. Bahkan,  ‘Kota Kembang’ ini adalah kota tercantik se-dunia versi vistaeducation.com. Namun sayangnya, kini Kota Bandung harus mampu menyelesaikan masalahnya yang seabrek.

Sebelumnya, kriteria yang digunakan Vista sendiri terdiri atas kriteria yang digunakan dalam penentuan daftar indeks kota ternyaman (Most Livable City Index) dengan tujuh variabel utama. Yakni: fisik kota, kualitas lingkungan, transportasi, aksesibilitas, fasilitas, utilitas, ekonomi, dan sosial.

Kini, ada 1200 permasalahan Kota Bandung menanti penyelesaian. Jumlah sebanyak ini menurut Walikota Bandung Ridwan Kamil, perlu dipecahkan bersama. Kang Emil– sapaan akrab Ridwan Kamil, memaparkan permalahan yang begitu banyak tersebut harus dipecahkan oleh empat komponen masyarakat yaitu Pemerintah Kota Bandung, pemilik modal, media dan masyarakat melalui ormas dan LSM.

Ia ingin menciptakan kenyamanan Bandung, unggul dari berbagai segi, dan mensejahterakan masyarakat, melakukan penataan ruang, tata kelola pemerintah yang transparan, membangun masyarakat mandiri, dan membangun perekonomian yang kokoh. Hal ini sudah digagas Kang Emil sejak menjadi calon Walikota dan sekarang hal itulah yang menjadi konsentrasi Pemerintahan Kota Bandung.

Menurut Kang Emil, ke-1200 permasalahan itu diantaranya yang paling prioritas untuk diselesaikan meliputi Tata Ruang, termasuk didalamnya masalah kemacetan, Pedagang Kaki Lima. Sementara permasalahan lainnya adalah berupa transportasi, kesehatan, pendidikan, kependudukan, lingkungan hidup yang didalamnya terdapat penanganan sampah, permukiman sehat dan sejumlah program lainnya.

Salah satu program Kang Emil yang menjadi sorotan masyarakat Indonesia, bahkan dunia yaitu direnovasinya sejumlah taman dan diberinya nama sesuai tema yang diusung, yaitu Taman Lansia atau taman yang berada di Cilaki/Cisangkuy karena berada di ruas kedua jalan tersebut. “Penyebutan Taman Lansia karena banyaknya lansia yang berolahraga di tempat ini. Termasuk juga dengan adanya jalan beralas batu kerikil dengan batu-batu kali yang sengaja ditonjolkan sebagai terapi refleksi di telapak kaki,” jelas Kang Emil, Selasa (24/3/2015).

Juga ada Taman Jomblo, bagi yang belum punya pasangan. Pasalnya, taman ini sengaja dibangun untuk sekedar nangkring dan kongkow-kongkow anak muda yang belum punya pasangan. Bahkan, penamaan taman ini sempat dibuli seorang pengacara Farhat Abbas beberapa waktu lalu. Sering juga disebut Taman  Jalan Cikapayang berada di bawah jembatan Pasteur Surapati atau Paspati.

Ada lagi, Taman  Uang  karena terakit dengan keberadaan Gedung Bank Indonesia yang berhadapan langsung dengan taman ini. Taman ini sebenarnya merupakan bagian dari Balai Kota yang dulu terkenal juga dengan sebutan Taman Balkot. Taman ini sebenarnya cukup nyaman dengan rindangnya pohon beringin dan didalamnya terdapat patung badak putih, sehingga banyak warga kota Bandung menyebutnya taman badak putih.

Kemudian, Taman Lalulintas. Di taman ini berisi alat peraga lalulintas dan permainan anak-anak yang berhubungan dengan lalu lintas. Taman ini adalah satu-satunya taman berbayar di Kota Bandung. Hal itu wajar, mengingat di taman ini banyak sekali permainan yang bisa memanjakan anak. Tentunya dengan jaminan keamanan serta menjadi tempat berkunjung sekolah TK-SD bersama para gurunya.

Selanjutnya, ada Taman Musik. Nama taman ini mungkin terdengar asing bagi warga Bandung atau lainnya. Maklum, peresmian nama itu baru dilakukan di awal 2014 lalu. Kendati demikian, taman ini termasuk taman lama yang ada di Bandung. Taman yang terletak di samping SMAN 3 dan SMAN 5 ini, dulu dikenal sebagai taman Centrum. Di taman inilah kerapkali sejumlah pelajar berkumpul untuk sekedar bernyanyi-nyanyi dan memainkan alat musik sambil rehat usai belajar.

Taman Maluku berada di Jalan Maluku. Kerapkali taman ini disebut taman bencong (banci- red) karena sebelumnya hampir setiap hari apalagi malam minggu, Taman Maluku banyak dikunjungi para bencong untuk mengajak laki-laki hidung belang. Lokasinya tepat di depan Gedung Saparua Bandung.

Ada pula Taman Film, berada di kawasan Jalan Pelesiran  Balubur. Di taman inilah kerapkali dijadikan nonton bareng bobotoh Persib saat bertanding dengan lawannya. Di taman ini pula terdapat rumput sintetis dan layar raksasa berukuran 10×5 m. Taman ini pun berada tepat di bawah Jembatan Paspati.

Semua taman-taman tersebut dilengkapi WiFi yang mampu menghubungkan pengunjungnya dengan dunia maya sesuai keinginannya. Selain itu, kehadiran Bandung Commant Center (BCC) yang berada di kawasan kantor Pemerintah Kota Bandung dapat mengakses informasi sampai daerah terkecil ataupun wilayah Kelurahan dan Kecamatan di Kota Bandung. Sejumlah CCTV dari kantor Kelurahan dan Kecamatan langsung terhubung dengan BCC. Begitupun titik-titik rawan lalu lintas di beberapa ruas jalan Kota Bandung tersambung ke lokasi bangunan yang mirip kapal startek.

Kang Emil nampaknya sebagai tokoh yang memang hebat. Daya motivasi terhadap warganya sangat tinggi! Itulah sebabnya Sang Walikota Bandung ini mendapat penghargaan ‘Best Regional Achievers’ dalam malam penganugerahan Obsession Award 2015 yang digelar Obsession Media Group (OMG) di Hotel Kompinski Jakarta, Kamis malam (19/3) lalu, yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan para Menteri.

Hal ini pula yang mendorong   Kang Emil terpilih sebagai ‘Best IT Inovation Mayor’ atau pemimpin daerah yang banyak melakukan inovasi untuk memajukan daerahnya melalui Teknologi Informasi (IT). Melalui konsep Kota Techopolis, Kang Emil pun masuk nominator Best Regional Achiever sub kategori Mayors dalam Obsession Award 2015 tersebut.

Kang Emil pun berharap Obsession Award terus digelar, sehingga dirinya bersama unsur  terkait di Pemerintah Kota Bandung tetap terpacu untuk melakukan perbaikan dan inovasi teknologi dalam program-program di Pemeritahannya.

Ridwan Kamil 1-

Aksi Mahasiswa Kalah Telak
Lebih hebat lagi, ternyata Kang Emil sebagai Walikota muda yang menjadi figur bagi remaja di Bandung. “Sosok Ridwan Kamil, selain memiliki kecerdasan yang cemerlang, mampu pula memberikan inspirasi bagi para kawula muda untuk terus berinovasi dalam teknologi,” ungkap General Manager Corporate Relation & Communication  XL, Tri Wahyuni saat peluncuran XL di Bandung, kemarin.

Sehingga, lanjut Wahyuni, hal itu pula yuang membuat pihaknya merasa terdorong untuk mengembangkan teknologi komunikasi. “Tadi kan beliau meminta kami agar XL terus melakukan inovasi terhadap teknologi, baik jaringan maupun konten, beliau meminta agar setiap warga kota Bandung tidak kecewa saat menonton Persib main dengan menggunakan TVmobile, seperti buffering, sehingga telat melihat goal kesebelasan kota Bandung, sehingga dengan diluncurkannya XL 4G LTE ini, buffering tidak mungkin terjadi,” ujar Wahyuni saat launching XL 4G LTE di Mall Paris Van Java Bandung.

Kang Emil banyak membuat perubahan di Kota Bandung. Betapa tidak, jebolan Arsitektur ITB tahun 1995 ini pun mampu memberikan kenyamanan bagi para pelajar di Kota Bandung dengan menghadirkan bis sekolah gratis bagi mereka. “Apapun tujuan dan usaha pembangunan yang kita lakukan pasti ada yang pro dan kontra. Itu masalah biasa dalam membangun sebuah kota,” papar Kang Emil optimis kepada wartawan.

Sisi pengalaman lainnya, Kang Emil ternyata sempat mendapat perlawanan dari para pengemudi Angkutan Kota yang tidak setuju dengan adanya bis gratis bagi para pelajar, meskipun baru 5 unit dari beberapa shif  perjalanan bis tersebut. Bahkan, idenya tentang pengalihan dan penertiban para Pedagang Kaki Lima (PKL) mendapat perlawanan cukup sengit, baik dari PKL wilayah Jalan Kapatihan, Dewi Sartika, Dalem Kaum, Asia Afrika, Merdeka, Oto Iskandardinata, Medeka dan Jalan Jendral Sudirman.

Yang menarik,  saat sejumlah LSM dan mahasiswa yang ikut membantu para PKL untuk  bertahan dan tidak mau digusur di wilayah-wilayah tersebut, sempat dibuat tercengang. Yakni, ketika seorang mahasiswa bersama sejumlah PKL Jalan Medeka mendatangi Balaikota Bandung dimana salah seorang mahasiswa memaparkan bahwa kemacetan Kota Bandung tidak diakibatkan oleh banyaknya PKL, namun Kang Emil hanya memperlihatkan foto yang gambarnya diambil dari atas menara Masjid Agung Bandung. Terlihatlah di foto tersebut, betapa semerawutnya tenda biru PKL memenuhi badan jalan.

Seketika itu pula, mahasiwa tersipuh dan tak mampu berargumentasi lagi. Mahasiswa pun kalah telak dengan Sang Walikota. “Saya salut punya Walikota seperti ini tanpa banyak bicara, tanpa banyak teori, hanya dengan fakta berupa gambar mampu menjawab audien,” ucap Wahyu, salah seorang staf di DPRD Kota Bandung yang saat itu hadir.

Mungkin bakat Emil yang suka berimajinasi dan melihat berbagai foto di luar negeri sewaktu kecil inilah yang mampu menginspirasi dirinya  saat ini. Sejak kecil Kang Emil memiliki semangat kewirausahaan, sehingga tidak heran jika sekarang sejumlah wirausaha dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menjadi bidikan programnya diantaranya pemberian pinjaman modal bagi mereka.

“Pinjaman lunak ini diberikan agar para wirausaha dan UKM tidak lagi terlilit hutang dan tidak lagi berurusan dengan para rentenir yang jelas-jelas menghisap darah para pengusaha yang baru belajar ini,” tandas Kang Emil saat pemberian pinjaman lunak bagi para pelaku UKM.

Programnya terhadap UKM tidak berhenti hanya sampai di sini. Sejumlah UKM, pengrajin batik dan batu akik, ternyata akan dilibatkan saat peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 24 April tahun ini. Para pengrajin batu akik kini berbondong-bondong ke kantor Pemkot Bandung untuk sekedar menawarkan produk batu akiknya yang akan menjadi oleh-oleh cinderamata bagi para pemimpin Negara-negara Asia Afrika.

“Saya ingin para pengrajin batu akik dilibatkan dalam peringatan KAA nanti, batu akik terbaik akan menjadi oleh-oleh cinderamata bagi para kepala Negara beserta istri, ya kita cari yang warna biru sebagai warna Persib dan warna biru inilah salahsatu warna dari logo Kota Bandung, yaitu kuning biru dan hijau,” ucap pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971 ini.

Kang Emil pun berencana memberikan cinderamata bagi para Kepala Negara KAA dengan dikemas kotak hitam berisi kain batik, sepasang batu akik warna biru, buku seputar Kota Bandung dan surat terbuka dari Walikota Bandung.

Ridwan kamil-2

Bandung Technopolis
Program berikutnya yang saat ini hangat dibicarakan warga Kota Bandung atas gagasan Kang Emil adalah terbangunnya Bandung Technopolis dan kereta api super cepat. Bandung Technopolis  merupakan kota terpadu di kawasan Gedebage Bandung Timur  seluas 800 hektar. Di kawasan tersebut akan dibangun perkantoran, pusat perbelanjaan, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan pusat kesehatan serta sejumlah aktifitas lainnya.

“Di kawasan ini pun akan terbangun dua danau raksasa yang akan meminimalisir banjir kawasan langganan banjir tersebut seluas 30 hektar,” ujar Kang Emil usai bertemu warga Gedebage di Hotel de Palm Bandung, yang mempertanyakan pembangunan Bandung Technopolis.

Di depan warga Gedebage, Kang Emil meminta kepada warga untuk tidak mempercayai omongan orang lain yang belum tentu kebenarannya atas isu pembangunan di kawasan Gedebage akan merusak lingkungan. Alhasil, warga tetap mantap mempercayai Pemerintah Kota Bandung terkait pembangunan kawasan Gedebage menjadi Bandung Bandung Technopolis.

“Kalau pemerintah Kota Bandung tidak turun tangan dan tidak mengarahkan pembangunannya, maka sejumlah pengembang akan seenaknya melakukan pembangunan tanpa memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Saya harap warga tidak mengaitkan keberadaan Summarecon Bandung dengan pembangunan Bandung Technopolis. Itu hanya seperdelapannya saja dari jumlah pengembang dan pemodal yang turut membangun,” tegas Kang Emil.

“Kalau ada pembangunan di sebelahnya maju, masyarakat tidak ikut maju, saya kira ada yang salah dalam pembangunan tersebut. Tapi partisipasinya juga harus profesional dan saya pastikan kepada semua pengembang yang membangun di sana harus ada kemitraan dengan warga secara profesional. Jangan ada pula yang menghalang-halangi pembangunan selama proses pembangunan sudah berijin, karena kemajuan warga datangnya dari kekompakan warga itu sendiri,” ujar suami Atalia Pratatya dan bapak dari dua anak ini.

Sebelum ada gagasan Bandung Technopolis, Kang Emil menilai para pengembang di kawasan Gedebage hanya seenaknya mendirikan rumah untuk diperjualbelikan. Sehingga tanah-tanah milik warga di kawasan tersebut dijual, para warganya setiap hari berbondong-bondong mendatangi pusat kota untuk bekerja. Dengan adanya  Bandung Technopolis, seluruh aktifitas kegiatan warga akan terpusat di tempat tersebut tanpa harus jauh-jauh melakukan perjalanan, karena di kawasan tersebut akan ada 400 ribu lapangan pekerjaan.

“Saya sudah bertanya ke Profesor bidang air di ITB dan Belanda, ternyata solusinya sama untuk mengatasi banjir Gedebage ini harus ada dua kolam raksasa  yang luasnya sama, yaitu masing-masing 30 hektar, tapi bentuknya berbeda yang satu bentuknya bulat dan satu lagi panjang,” papar Alumni S2 dari University of California Barkeley AS ini.

Danau tersebut nantinya akan mengalirkan air yang sudah difilter sebelumnya ke kawasan warga di Bandung Timur, sehingga tidak akan kesulitan air dalam tempo yang cukup lama.  Kang Emil pernah menjadi juara I kompetisi desain Museum Tsunami di Nangro Aceh Darrussalam tahun 2007, mengkalim dirinya tidak akan menzolimi warga Gedebage dengan pembangunan Bandung Technopolis tersebut. Sebab, dikuinya sebelum menjadi Walikota, Kang Emil berprofesi sebagai arsitek dan berhubungan langsung dengan pembangunan infrastruktur.

Menurut Kang Emil, Presiden Jokowi juga merespon kawasan Bandung Tecnopolis yang akan dibangun stasiun bis, stasiun kereta api Bandung Jakarta, monorel dan kereta api super cepat. “Pak Jokowi Presiden kita merespon dengan baik dan siap untuk membangun kereta api super cepat Bandung – Jakarta berkecepatan 300 km per jam, sehingga Bandung – Jakarta dapat ditempuh hanya dengan 30 menit saja,” tutur Sang Walikota Bandung.

“Sehingga LDR (Long Distance Relationship) hubungan jarak jauh bagi para kawula muda bisa lancer,” tandas Mantan Dosen Teknik Arsitektur ITB serta Senior Urban Design Consultant SOM, EDAW (Hong Kong & San Francisco) dan SAA (Singapura) ini.

12. Ridwan Kamil

Juara I Kompetisi Desain
Urbane merupakan firma yang dibangun oleh Kang Emil pada tahun 2004 bersama teman-temannya seperti Achmad D Tardiyana, Reza Nurtjahja dan Irvan W Darwis. Reputasi Internasional sudah mereka bangun dengan mengerjakan projek-projek di luar negeri,  seperti Syria Al-Noor Ecopolis di Syria dan Suzhou Financial District di China.

Tim Urbane sendiri terdiri dari para profesional muda yang kreatif dan berpikir idealis untuk mencari dan menciptakan solusi mengenai masalah desain lingkungan dan perkotaan. Urbane juga memiliki projek berbasis komunitas dalam Urbane Projek Komunitas dimana visi dan misinya adalah membantu orang-orang dalam sebuah komunitas perkotaan untuk memberikan donasi dan keahlian-keahlian dalam meningkatkan daerah sekitarnya.

Urbane telah banyak dianugrahi berbagai penghargaan dari media internasional seperti BCI Asia Awards tiga tahun berturut-turut pada tahun 2008-2010 dan BCI Green Award pada tahun 2009 atas projek desain Rumah Botol (dari botol bekas). Urbane juga sering mengikuti kompetisi di bidang desian arsitektur tingkat nasional seperti Juara I Kompetisi Desain Museum Tsunami di Nangro Aceh Darrussalam tahun 2007.

Kemudian, Juara I Kompetisi Desain Kampus Universitas Tarumanegara tahun 2007, Juara I Kompetisi Desain Fakultas Ilmu Budaya di UI tahun 2009, Juara I Kompetisi Desain Sanggar Nagari di Kota Baru Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat, dan Juara I Kompetisi Desain Pusat Seni dan Sekolah Seni di UI tahun 2009.

Kini, Kang Emil masih dihadapkan dengan berbagai permasalahan Kota Bandung, seperti banjir perkotaan atau banjir cileuncang, infrastruktur, masalah pendidikan, ekonomi, kesehatan, keamanan, terlebih juga masalah kedisiplinan para PNS, transparansi anggaran dan seabrek masalah lainnya. Semoga cepat terselesaikan. Selamat bekerja Kang Emil! (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.