Sabtu, 4 Desember 21

Banda Aceh, Kota 1.001 Warung Kopi

Banda Aceh, Kota 1.001 Warung Kopi
* Banyaknya warung kopi di Banda Aceh membuat kota ini dijuluki Kota 1.001 Warung Kopi. (Foto-foto: Agung Sanjaya/obsessionnews.com)

Banda Aceh, Obsessionnews – Aceh saat ini tidak sama dengan Aceh sepuluh tahun yang lalu. Dewasa ini banyak sekali warung kopi bermunculan di setiap daerah di seluruh Aceh, seperti Banda Aceh, Takengon, Blangkejeren, Kutacane, Pidie, Lhokseumawe, Langsa, Tamiang, Bireuen, dan Meulaboh. Aceh baru saja bangkit dari keterpurukan pasca dilanda tsunami pada Desember 2004.

Kopi jenis arabika dan kue
Kopi jenis arabika dan kue

Kota Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh, dihuni hampir 250 ribu jiwa. Sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Banda Aceh menikmati secangkir kopi dan hal tersebut telah membudi daya dalam sendi kehidupan masyarakat.

Masyarakat Aceh pada umumnya tidak dapat dipisahkan dari kopi. Karena itulah banyak warung kopi ditemui di Banda Aceh. Pagi, siang, sore maupun malam, tidak terbatas dari yang muda hingga yang tua, dari berbagai kalangan, semua berbaur di warung kopi. Bisa dikatakan, kopi ibarat nafas bagi masyarakat yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari sejak zaman Kesultanan Aceh. Seiring meningkatnya jumlah warung kopi, Banda Aceh dijuluki Kota 1.001 Warung Kopi.

Mesin pengolahan kopi arabika
Mesin pengolahan kopi arabika

Salah satu pemilik warung kopi di Banda Aceh, Mursada, mengatakan tradisi minum kopi ini telah berkembang secara turun-temurun seiring perkembangan Aceh sebagai salah satu daerah produsen kopi kelas dunia.

“Ada dua jenis kopi yang tersebar di seluruh warung kopi di Banda Aceh, yaitu Robusta dan Arabika. Kalau berbicara kualitas, sudah jelas arabika sangat mendominasi permintaan nasional dan manca negara. Tetapi di Banda Aceh banyak orang yang menyukai kopi jenis robusta. Ironis memang, tapi ya namanya juga selera, mana bisa dipaksakan,” ujar Mursada kepada obsessionnews.com, Sabtu (4/4) malam.

Dia pemilik warung Sada Coffee yang bahan bubuk kopinya berjenis arabika. Warung kopinya beralamat di Lampriet, di depan Taman Ratu Syafiatuddin, Kampung Keuramat.

Mursada menjelaskan, kopi gayo yang termasuk jenis kopi arabika di pasar dunia termasuk kelas kopi premium. Market dan target pasar sangat menjanjikan untuk jenis kopi ini. Sehari dia memerlukan puluhan kilo gram bubuk kopi untuk pelanggan penikmat kopi jenis arabika.

“Untuk sehari modal bisa berputar sebanyak jutaan hingga belasan juta,” jelas pria yang akrab dipanggil Bang Sada ini.

Pantauan obsessionnews.com warung kopi jenis robusta juga tidak kalah ramainya dengan pelanggan jenis kopi arabika. Biasanya warung-warung kopi jenis robusta ini menyediakan fasilitas layar lebar untuk menonton pertandingan sepak bola, dan juga menyediakan aneka makanan mulai dari makanan ringan hingga berat. Dan juga tidak kalah pentingnya di warung-warung jenis kopi robusta ini pengolahan pembuatan kopi tersebut dilakukan dengan cara yang unik dengan menggunakan saringan berbentuk kerucut.

Warung kopi di Banda Aceh menyuguhkan kenyamanan dan fasilitas terbaik buat pecinta kopi. Meskipun zaman telah berubah, budaya minum kopi di tengah masyarakat Aceh tetap terjaga. Tradisi ini tetap menurun hingga ke generasi muda mereka saat ini. Yang membuatnya berbeda, saat ini kenyamanan dan fasilitas yang ditawarkan pengelola ikut menentukan ramai tidaknya suatu kedai kopi di Banda Aceh. Kini tata ruang yang nyaman dan fasilitas internet hotspot (wifi) gratis umumnya menarik lebih banyak kalangan muda untuk betah berlama-lama di kedai kopi. (Agung Sanjaya)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.