Rabu, 20 Oktober 21

Bamsoet: Gak Ada Islah Golkar, Yang Kalah Harus Mundur

Bamsoet: Gak Ada Islah Golkar, Yang Kalah Harus Mundur

Jakarta, Obsessionnews – ‎Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR RI Bambang Soesatyo sudah pesimis dengan adanya konflik dualisme kepengurusan Partai Golkar antara kubu Aburizal Bakrie dengan Agung Laksono Cs. Ia yakin tidak ada lagi upaya islah untuk bisa mendamaikan dua kubu yang tengah berseteru

Sebab kata Bambang, visi misi kedua kubu sangat berbeda jauh sehingga susah untuk disatukan. Golkar kubu Aburizal masih tetap berada dalam barisan Koalisi Merah Putih (KMP). Sedangkan Golkar kubu Agung ingin keluar dari KMP dan merapat ke pemerintah. Berbagai juga cara sudah dilakukan agar ada persamaan persepi, tapi tetap gagal dan mengalami kebuntuan.

“Sebenarnya langkah itu sudah dilakukan berbulan-bulan tapi itu sulit karena dari visi sudah berbeda. Kami ingin tetap ada di KMP tapi yang satu ingin dapat kekuasaan di pemerintahan. Ya nggak ketemu‎,” ujar Bambang di gedung DPR, Senayan, Jumat (6/3/2015).

Menurutnya, ‎dualime kepengurusan Partai Golkar hanya bisa diselesaikan melalui jalur pengadilan sampai memiliki kekuatan hukum tetap. Upaya jalur pengadilan sebenarnya pernah dilakukan oleh kedua kubu. Baik kubu Aburizal maupun Agung sama-sama pernah mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.

Namun tetap saja, PN Jakbar dan PN Jakpus tetap menolak gugatan dua kubu, dan memutuskan agar konflik Golkar diselesaikan melalui Mahkamah Partai (MP). ‎MP akhirnya menggelar sidang pada Selasa 3 Maret 2015, tapi tetap saja belum bisa menghasilkan keputusan yang final. Karena, empat hakim memiliki pendapat yang berbeda.

‎Hakim Andi Matalatta dan Djasri memutuskan menerima kepengurusan Golkar pimpinan Agung Laksono. Adapun Muladi dan HAS Natabaya hanya memberikan putusan rekomendasi terkait proses kasasi yang ditempuh kubu Aburizal di Mahkamah Konstitusi (MA). Andi sendiri dianggap oleh Bambang sebagai hakim yang tidak independen.

Agung yang merasa telah menang akhirnya mendaftarkan kepengurusan Golkar ke Kementerian Hukum dan Ham. Sementara kubu Aburizal masih bersikekuh untuk mengajukan kembali gugatan ke Pengadilan Negeri Jakbar, lantaran menganggap keputusan Mahkamah Partai bukan merupakan keputusan yang final.

‎”Suka atau tidak suka kita sudah diatur dalam perundang-undangan. Di PN ada yang nggak puas bisa ajukan kasasi juga kan. Jadi nggak ada jalan lain kecuali melalui pengadilan,” jelasnya.

Jika sudah memiliki kekuatan hukum tetap, lanjut Bambang, siapapun yang menang akan ia hormati dan bagi mereka yang kalah juga harus rela mengundurkan diri. Ia pun bersama Ade Komarudin siap mengundurkan diri dari Fraksi Partai Golkar ‎bila ternyata dalam putusan pengadilan itu Partai Golkar kubu Aburizal yang kalah.

‎”Kalau pihak Munas Ancol (kubu Agung) menang kami akan mundur dari pengurus fraksi DPR dan DPP Golkar,” katanya

Menurutnya, hal yang sama juga akan dilakukan oleh pengurus dan kader Golkar yang lain. Sebab, mereka yang setia dengan barisan kubu Aburizal tidak mau dianggap sebagai kader penghianat, jika masih mau bertahan di kepengurusan Partai Golkar kubu Agung Laksono. ‎”Kalau ada teman kami seperti sekarang patut dicurigai bermain mata,” tandasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.