Selasa, 4 Agustus 20

Bambang, Mantan Penjual Tempe yang Sukses Jadi Pengusaha Percetakan

Bambang, Mantan Penjual Tempe yang Sukses Jadi Pengusaha Percetakan
* Bambang Suharto. (Foto: Arif RH/Obsessionnews.com)

Berbagai pekerjaan pernah ia lakoni, antara lain berjualan tempe. Kini ia cukup dikenal sebagai pengusaha percetakan di Bekasi, Jawa Barat. Omsetnya rata-rata Rp 600 juta per bulan.

Bambang Suharto, itu nama lengkapnya. Pria yang akrab dipanggil Bambang ini merupakan salah seorang pengusaha percetakan yang tengah naik daun di Bekasi. Perusahaannya, Purwo Sindo, selalu kebanjiran order tiap hari. Perusahaannya tersebut menyablon kaos, membuat spanduk, topi, ID card, mug, kunci, stiker, dan lain sebagainya.

Lokasi usahanya sangat strategis, yakni persis di depan Stasiun Bekasi.  Bambang menyewa gedung bekas gedung bioskop.

Bambang menjelaskan, rata-rata omsetnya Rp 20 juta per hari atau Rp 600 juta per bulan. “Alhamdulillah, moga-moga ke depan omset bisa meningkat,” katanya ketika ditemui Obsessionnews.com di kantornya, Kamis (27/4/2017).

Sebelumnya Bambang pernah menekuni berbagai pekerjaan, antara lain pernah berjualan tempe di Bandung. Pada tahun 1990 seorang rekannya, Hari, yang bekerja sebagai manajer distribusi Majalah Kiblat di Jakarta, menawarinya bekerja di majalah Islam itu. Bambang mengaku sempat bingung  dengan tawaran  tersebut, sebab ia sama sekali tak memiliki latar belakang bekerja di industri pers. Hari dengan gaya meyakinkan menjelaskan Bambang akan diberi kesempatan belajar desain grafis di komputer Macintosh.

Bambang yang tamatan SMA dan memiliki ketrampilan mengetik di mesin ketik tertarik pada tawaran temannya itu. Ingin mengubah nasib menjadi lebih baik, ia memutuskan meninggalkan profesinya sebagai penjual tempe.

Di tempat kerja barunya yang berlokasi di Jl Agus Salim, Menteng, Jakarta Pusat, ia belajar ekstra keras mendesain majalah Kiblat. Tak hanya itu. Ia pun belajar fotografi. Dan sesekali diajak wartawan untuk memotret momen-momen penting.

Berkeinginan kuat memiliki penghasilan tambahan, pria kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, itu nyambi bekerja di sebuah percetakan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Tahun 1992 ia memutuskan berhenti bekerja di Majalah Kiblat, dan pindah bekerja ke perusahaan percetakan di Blok M. Pekerjaan itu dilakoninya selama lima tahun. Dia berpikir tak mau terus-terusan menjadi karyawan. Ia berobsesi menjadi pengusaha percetakan.

Tahun 1997  tekadnya sudah bulat untuk menjadi pengusaha. Ia mendirikan Purwo Sindo di Bekasi yang tak jauh dari rumahnya. Mula-mula ia mempekerjakan dua orang, lalu seiring berkembangnya usahanya jumlah karyawannya terus meningkat. Saat ini jumlah karyawannya 23 orang.

“Saya berobsesi usaha ini akan terus berkembang, sehingga menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang,” ujarnya.

Usaha percetakan itu membawa berkah bagi Bambang. Ia mampu membiayai pendidikan ketiga anaknya yang semuanya lelaki. Anak sulungnya adalah sarjana farmasi. Anak keduanya adalah sarjana farmasi dan bekerja di Purwo Sindo. Sedangkan anak bungsunya masih kuliah.

Meski telah menjadi pengusaha sukses, kakek seorang cucu ini tetap seperti dulu: ramah dan rendah hati. (arh)  

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.