Senin, 8 Agustus 22

Baliho Karya Seniman Yogya Dituding Anti-Yahudi di Jerman?

Baliho Karya Seniman Yogya Dituding Anti-Yahudi di Jerman?
* Karya Taring Padi dalam Documente 15 di Kassel, Jerman. (Getty/BBC)

Ternyata baliho ‘Keadilan Rakyat’ karya seniman Yogyakarta dituding anti-Yahudi dalam festival di Jerman. Mengapa?

Banner karya kelompok seniman Taring Padi asal Yogyakarta yang ditampilkan di Kassal, Jerman diturunkan setelah dituding bermuatan “antisemitisme” alias antiYahudi oleh publik dan pemerintah Jerman.

Di sisi lain, pakar dan kritikus seni di Indonesia menilai bahwa banner itu lebih dimaksudkan untuk mengkritik militerisme dan otoritarianisme di era Orde Baru di Indonesia, seperti yang juga dijelaskan oleh Taring Padi.

Baliho berjudul “People’s Justice” atau “Keadilan Rakyat” itu ditampilkan di salah satu pameran seni kontemporer terbesar di dunia, Documenta 15, yang digelar setiap lima tahun sekali di Kota Kassel.

Karya seni yang dipamerkan pada pameran tahun ini dikurasi oleh kelompok seniman kolektif yang berbasis di Jakarta, ruangrupa, yang namanya selalu ditulis menggunakan huruf kecil dan tanpa spasi.

“Kami kaget ketika baliho People’s Justice karya Taring Padi, dituduh antisemitis. Kami gagal membaca bahwa simbol tersebut ada di dalamnya. Tapi di atas semuanya, kami sama sekali tidak punya tendensi ke arah itu” demikian tegas Ade Darmawan dari ruangrupa kepada wartawan Lea Pamungkas yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, pada Jumat (24/6).

Kelompok ruangrupa juga telah menyampaikan permintaan maaf tertulis.

Hal senada dinyatakan Setu Legi dari Komunitas Taring Padi.

“Gambar-gambar itu sama sekali tidak dimaksudkan sebagai kebencian yang ditujukan pada kelompok etnis atau agama tertentu, tetapi sebagai kritik terhadap militerisme dan kekerasan negara. Kami menggambarkan keterlibatan pemerintah negara Israel dengan cara yang salah – dan kami meminta maaf. Antisemitisme tidak memiliki tempat di hati dan pikiran kami” jelasnya dengan suara lelah.

Pakar seni dan kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Faruk Tripoli, menilai simbol-simbol yang diperdebatkan dalam banner itu lebih bertujuan untuk merepresentasikan otoritarianisme, namun kritik yang terkandung lebih mengarah pada konteks politik di Indonesia yang selama 32 tahun dikuasai Orde Baru.

Namun menurut Faruk, simbol-simbol itu “memang bermasalah” karena mengandung pencitraan yang mengandung “hegemoni kolonial”.

Sebaliknya, kritikus seni rupa di Indonesia, Bambang Bujono, menilai karya itu bersifat “karikatural” dan dia “tidak menemukan antisemitisme” dalam karya itu.

Namun, perbedaan pemaknaan atas simbol yang digunakan sebaiknya, kata dia, dibahas melalui diskusi intelektual.

“Dari karyanya sendiri, itu sangat Indonesia. Apa konteks itu nggak ditangkap? Itu seperti lukisan Bali, karikatural karena ada figur Mossad, James Bond, lalu MI6, seharusnya ditanggapi secara santai,” kata Bambang kepada BBC News Indonesia.

Menteri Kebudayaan Jerman, Claudia Roth, yang awalnya gigih mempertahankan prinsip kebebasan artistik, akhirnya berkomentar keras. Pernyataannya dikutip berbagai media Jerman (226), bahwa antisemitisme seharusnya tidak mendapat tempat dalam masyarakat maupun tempat seni di Jerman.

Roth menuturkan bahwa manajemen dan kurator documenta telah berulang kali meyakinkan bahwa tidak ada antisemitisme pada pameran seni itu.

“Saya mempercayai itu. Kepercayaan itu telah dikhianati,” kata Roth.

Sebagai tindak lanjut atas peristiwa ini, Roth melalui keterangan tertulis, menyatakan perlu ada “reformasi struktural yang fundamental terhadap documenta”. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.