Jumat, 9 Desember 22

Balada Basuki dan Khayalan Kaum Borjuasi

Balada Basuki dan Khayalan Kaum Borjuasi
* Karangan bunga di depan Balai Kota DKI Jakarta. (Foto: Warta Kota/henry lopulalan)

Oleh:  Anonymous1946

Sejak kemarin hingga hari ini, jaringan media sosial Indonesia terkhususnya publik internet di Jakarta meributkan foto ribuan karangan bunga yang memenuhi halaman Balaikota DKI Jakarta.

Masih seputar Pilgub DKI Jakarta yang telah dimenangkan Anies-Sandi pada 19 April lalu, ribuan karangan bunga tersebut ditujukan untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang berpredikat sebagai “pengkhianat Pancasila” lantaran programnya yang tidak berpihak kepada wong cilik Ibukota dan terakhir menambah predikat dirinya sebagai penista agama.

Jelas ada maksud. Drama ribuan karangan bunga yang memenuhi pekarangan Balai Kota itu merupakan suatu upaya ‘framming opinion’ yang bertujuan untuk membangun persepsi bahwa Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok hero yang dielu-elukan warga Jakarta dan dicintai rakyat. Serta memaksa penegasan bahwa Basuki itu dikalahkan oleh sentimen perbedaan SARA.

Hal ini merupakan setting pembodohan masyarakat yang masif. Karena faktanya, berdasarkan polling suara pemilih, terdapat 97% pemilih Basuki TP adalah non muslim (diduga beretnis Tionghoa-kelas menengah ke atas), sedangkan muslim pemilih Anies hanya di angka 55%. Di atas kertas, jelas terbukti siapa yang justru mempertajam isu perbedaan SARA dalam proses Pilgub lalu.

Terlepas dari isu bahwa ribuan karangan bunga itu dikirim oleh satu pihak dari satu toko florist, namun secara logis bagi kita yang bersedia berpikir bersih, suci dan rasional, jika memang Basuki dicintai rakyat miskin Jakarta,

1. Mengapa Basuki bisa dikalahkan Anies dengan selisih sekitar 16% (versi KPU)?

2. Harga satu karangan bunga berkisar di rata-rata Rp500.000,- nominal yang lumayan berarti bagi rakyat miskin yang masih berpikir sederhana, yakni untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Artinya, kalangan yang mampu membeli karangan bunga itu adalah kelas menengah keatas yang sudah aman urusan perutnya.

3. Jika memang Basuki (beserta pendukungnya yang kelas menengah ke atas cinta rakyat miskin) tentu akan berpikir sangat prinsip bahwa Rp 500.000,- yang digunakan untuk beli satu karangan bunga, jika di kumpulkan secara kolektif dapat sangat bermanfaat bagi rakyat miskin Jakarta (yatim piatu, kaum miskin kota dan kaum marjinal Ibukota). Karena info media menyebut setidaknya terdapat sekitar 1200 karangan bunga dengan harga bervariatif yang dikirimkan untuk Basuki. Jika rata-rata satu karangan bunga harganya 500 ribu, maka terdapat sekitar Rp 600.000.000 jumlah uang yang dikeluarkan. Daripada untuk karangan bunga, uang sebanyak itu tentu sangat bermanfaat bagi rakyat miskin.

Sekali lagi, jika seseorang cinta rakyat, maka cara berpikir dan bertindaknya pun akan lebih mengutamakan kepentingan-kebutuhan rakyat dibandingakan hanya sekedar menghias pandangan mata dan mendapatkan sanjungan.

Karena, jiwa seorang juara yang sejati bukanlah dia yang mendapat banyak tepukan tangan dan buket bunga. Juara yang sejati ialah dia yang mampu menerima hasil pertandingan dengan legowo dan siap bangkit untuk pertandingan selanjutnya. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.