Rabu, 5 Oktober 22

Bahaya! Azab karena Utang

Bahaya! Azab karena Utang
* Ilustrasi utang. (Foto: CNBC)

Satu lagi riwayat yang menunjukkan betapa berbahayanya utang.
Seorang laki-laki di zaman Nabi meninggal. Para sahabat membawa jenazahnya kepada Rasulullah SAW untuk disalati. Rasul bertanya,“Apakah dia punya utang?”

Para sahabat menjawab, “iya ada dua dinar (sekitar 4-5 juta)”. Rasulullah SAW pun enggan mensalatinya dan memerintahkan para sahabat yang mensalati jenazah tersebut.

Lalu majulah Abu Qotadah, salah seorang sahabat yang bersedia menjamin untuk membayarkan utang tersebut. Karena ada jaminan ini, Rasulullah SAW bersedia mensalati jenazah itu.

Sehari selesai pemakaman, Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana? Utang dua dinar kemarin sudah dibayar apa belum?”
Abu Qotadah menjawab, “Kan baru kemarin pemakamannya wahai Rasulullah SAW?”

Keesokan harinya, Rasulullah SAW bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Ketika dijawab bahwa utang tersebut telah dilunasi maka Rasulullah SAW bersabda,

الْآنَ بَرَدَتْ عَلَيْهِ جِلْدُهُ

“Sekarang, kulitnya (mayit yang punya utang tersebut) telah menjadi dingin”.

Perhatikanlah!

Demikian pentingnya masalah melunasi utang, sampai-sampai Rasulullah SAW tidak bersedia mensalati orang yang mati dalam keadaan masih memiliki utang. Ini menunjukkan, tidak membayar utang itu adalah dosa besar yang kedudukannya seakan-akan disamakan dengan orang yang mati bunuh diri yang lari dari tanggung jawab yang mana seorang tokoh agama disyariatkan tidak mensalatinya.

Lalu, perhatikan pula bagaimana perhatian Rasulullah SAW dalam hal realisasi riil pelunasannya. Tidak cukup Rasulullah SAW mendengar jaminan Abu Qotadah yang akan melunasi utang kawannya lalu beliau mempercayakan dan membiarkan tanpa mengontrol.

Tidak.
Tidak cukup demikian.

Selain Rasulullah SAW mempercayai Abu Qotadah akan melunasinya, beliau juga bertanya lebih dari sekali untuk memastikan apakah utang tersebut benar-benar telah dilunasi ataukah belum.

Sehari setelah pemakaman pun sudah ditanyakan oleh Rasulullah SAW. Seakan-akan beliau ingin selesai mayat ditanam, utang segera dilunasi. Ketika dijawab belum, keesokan harinya beliau tanyakan lagi sehingga memberi kesan bahwa Rasulullah SAW benar-benar ingin umatnya tidak meremehkan masalah pelunasan utang ini.

Setelah dijawab bahwa utang dilunasi, maka Rasulullah SAW berkomentar dengan komentar yang mengejutkan,

الْآنَ بَرَدَتْ عَلَيْهِ جِلْدُهُ
“Sekarang, kulitnya (mayit yang punya hutang tersebut) telah menjadi dingin”.

Apa artinya?

Artinya, sebelum utang dilunasi kulit mayit masih panas karena azab!

Jadi hadis ini adalah dalil jelas yang menunjukkan bahwa orang mati meninggalkan utang itu terus disiksa sampai utang tersebut riil dilunasi!

Na’udzubillah mindzalik.

Nasihat-nasihat seperti ini bagus kita angkat di bulan-bulan shafar seperti ini. Bulan yang mana manusia lebih sering berfikir mendahulukan  bertamasya daripada melunasi utang-utangnya.

Ahmad meriwayatkan,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ تُوُفِّيَ رَجُلٌ فَغَسَّلْنَاهُ وَحَنَّطْنَاهُ وَكَفَّنَّاهُ ثُمَّ أَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَيْهِ فَقُلْنَا تُصَلِّي عَلَيْهِ فَخَطَا خُطًى ثُمَّ قَالَ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ قُلْنَا دِينَارَانِ فَانْصَرَفَ فَتَحَمَّلَهُمَا أَبُو قَتَادَةَ فَأَتَيْنَاهُ فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ الدِّينَارَانِ عَلَيَّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُحِقَّ الْغَرِيمُ وَبَرِئَ مِنْهُمَا الْمَيِّتُ قَالَ نَعَمْ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ بَعْدَ ذَلِكَ بِيَوْمٍ مَا فَعَلَ الدِّينَارَانِ فَقَالَ إِنَّمَا مَاتَ أَمْسِ قَالَ فَعَادَ إِلَيْهِ مِنْ الْغَدِ فَقَالَ لَقَدْ قَضَيْتُهُمَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ بَرَدَتْ عَلَيْهِ جِلْدُهُ

(Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.