Kamis, 24 Oktober 19

Baca ‘Keringat, Darah, dan Air Mata’ Teater Koma

Baca ‘Keringat, Darah, dan Air Mata’ Teater Koma
* Teater Koma menggelar konferensi pers Opera Ikan Asin di Balai Latihan Kesenian Jakarta, Kamis (23/02/2017).

40 tahun eksis berkibar di panggung teater, Teater Koma akan mempersembahkan buku berjudul ‘Membaca Teater Koma’. Peluh keringat, tetes darah, dan derai air mata dalam rentang perjalanan Teater Koma dituangkan dalam buku tersebut.

Buku ‘Membaca Teater Koma’ ditulis oleh Nobertus Riantiarno, pendiri, penulis, sekaligus sutradara Teater Koma.

“Bukunya mengisahkan perjalanan Teater Koma dari awal berdiri 1 Maret 1977 hingga kini. Dari mulai lakon pertama ‘Perahu Kertas’ hingga lakon saat ini ‘Opera Ikan Asin’. Ternyata, kami sudah dilarang pentas sebanyak 6 kali dan selama pementasan saya sudah diinterograsi sebanyak 15 kali. Jadi memang keringat, darah, dan air mata Teater Koma semua ada di buku ini,” ungkap Nano, panggilan akrab  Nobertus Riantiarno, usai konferensi pers Opera Ikan Asin di Balai Latihan Kesenian Jakarta, Kamis (23/02/2017).

Nobertus Riantiarno (berbaju hitam).

Rencananya buku tersebut akan rilis pada 28 Februari mendatang. Selain menyajikan kisah perjalanan yang menarik, buku setebal 300 halaman itu juga akan dilengkapi dengan foto-foto Teater Koma.

“Foto-foto kita semua dari dulu sampai saat ini ada di buku ini,” tutur Nano.

Merayakan hari jadi ke-40 pada 1 Maret mendatang, Teater Koma juga akan mementaskan kembali Opera Ikan Asin di Ciputraa Artpreneur, Lotte Shopping Avenue pada 2-5 Maret 2017.

Produksi ke-147 Teater Koma tersebut disadur dari lakon The Beggar’s Opera karya John Gay dan music J.C Pepusch dan lakon Die Dreigroschenoper atau The Threepenny Opera karya Berltolt Brecht dengan komposisi music dari Kurtl Weill.

Tak hanya itu, tahun ini Nano juga akan memanggungkan dua lakon lainnya. “Masih ada satu lakon yang tengah saya tulis berjudul ‘Warisan’ yang mengangkat soal ketika orang tua di rumah jompo, mereka tidak melakukan apa-apa, tidak korupsi, tetapi anak-cucunya yang korupsi. Kalau kita lihat ternyata salah satu kelemahan dari manusia adalah korup. Korup itu kan menjadi macam-macam. ‘Warisan’ akan dipentaskan di Gedung Kesinian Jakarta bulan Agustus, dan bulan November saya akan mementaskan ulang lakon ‘J.J’,” pungkas Nano. (Gia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.