Jumat, 30 Oktober 20

Awasi Pemilu, Waktu Tidur Abhan Berkurang

Awasi Pemilu, Waktu Tidur Abhan Berkurang
* Wartawan Obsessionnews.com Purnomo mewancarai Ketua Bawaslu RI Abhan. (foto: dok Bawaslu)

Jakarta, Obsessionnews.comMenjadi seorang pemimpin memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, menjadi pemimpin harus benar-benar bisa mengorbankan waktu bersama keluarga untuk hajat hidup orang banyak. Seperti yang dialami oleh Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI Abhan.

Pria yang tumbuh besar di Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng), ini bukan lagi orang baru sebagai Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Ia pernah memimpin Bawaslu Jateng selama satu  periode sebelum dikukuhkan sebagai Ketua Bawaslu Pusat.

 

Baca juga:

Bawaslu Temukan Surat Suara Salah Alamat ke Hongkong

Cerita Afifuddin Jadi Komisioner Bawaslu

Kampanye Hitam Jokowi-Maruf di Karawang, Polisi Tunggu Hasil Bawaslu

 

Abhan lahir di Pekalongan, 12 November 1968. Ia menempuh pendidikan dari jenjang ibtidaiyah hingga aliyah di kota kelahirannya. Bahkan, kuliahnya pun di kota yang sama. Ia berhasil mendapat gelar sarjana hukum dari Jurusan Hukum Keperdataan, Universitas Pekalongan, pada tahun 1991.

Seusai lulus, Abhan menjadi pengacara. Ia mendirikan kantor advokat dengan nama Kantor Advokat Penasehat Hukum Abhan and Partners pada 1992. Tentu saja Abhan tidak hanya duduk manis di kantor advokatnya tersebut, suami dari Aini Agustiah ini juga aktif di berbagai organisasi baik ormas maupun organisasi profesi.

Ia bersama teman-temannya mendirikan organisasi Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme atau lebih sering disingkat KP2KKN pada 1998.

Sebagai advokat, ia pun aktif di organisasi Serikat Pengacara Indonesia. Ia  memimpin DPC Serikat Pengacara Indonesia Semarang dari 2003 hingga 2006 dan DPD Serikat Pengacara Indonesia Jateng dari 2007 hingga 2010.

Selain itu, ia juga peduli dengan kegiatan kepemiluan tanah air sebagai anggota Panwaslu Jateng 2008-2009. Sejak itu, ia lebih banyak aktif di kegiatan kepemiluan. Ia juga aktif di organisasi yang ada hubungannya dengan pemilu di organisasi Centre of Society Development for Democracy (CosDec) Jawa Tengah pada tahun 2010.

Meski begitu, keahlian bidang hukumnya juga ia tetap jalani. Abhan bahkan sering menjadi kuasa hukum KPU Daerah atau salah satu peserta pemilu dalam sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi.

Jam terbangnya dalam menangani masalah hukum pemilu, ia kembali mendaftarkan menjadi komisioner Bawaslu Jateng. Ia terpilih sekaligus menjadi ketua Bawaslu Jateng periode 2012-2017. Periode 2017 dia mendaftarkan diri menjadi ketua Bawaslu RI, hingga akhirnya dia terpilih menjadi ketua Bawaslu Pusat periode 2017-2022.

Kalau berbicara soal suka dan duka sebagai pemimpin Bawaslu RI, tentu itu merupakan konsekuensi atas pilihan Abhan. Menurut mantan ketua Bawaslu Provinsi Jateng ini, duka dalam bekerja di pemilu ini ibarat bekerja yang tidak mengenal waktu. Jadi kesempatan untuk bertemu keluarga dalam satu minggu itu berkurang.

“Tidak seintens ketika tidak di Bawaslu, begitu kira-kira. Malam pulang bisa larut malam, juga bisa pulang pagi. Saya kira itu,” ujar Abhan kepada obsessionnews.com di Jakarta, Senin (25/3/2019).

Sedangkan sukanya apabila semua pekerjaan ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab, dan dijalankan apa adanya. “Saya kira itu bagian dari sukanya,” tambah pria berdarah Pekalongan, Jawa Tengah ini.

Biasanya, menjadi pemimpin selalu disibukkan dengan urusan pekerjaan dan tuntutan keluarga untuk lebih sering bertemu sangat diharapkan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Abhan, sebab keluarganya telah memahami cara kerja Abhan sebagai anggota Bawaslu.

“Keluarga sudah memahami saya kira. Saya jelaskan nanti bekerja di Bawaslu seperti ini. sejak tahun 2009-2012 saya memang sudah di Bawaslu, yaitu di Bawaslu Provinsi Jateng. Begitu saya terpilih di 2017 sebagai ketua di Bawaslu pusat, keluarga sudah biasa, paham bekerja sebagai anggota Bawaslu,” tutur pria lulusan S1 Universitas Pekalongan ini.

Selain kurang intens bertemu dengan keluarga, dia mengakui selama menjadi Pimpinan Bawaslu tidur menjadi kurang. Namun menurut pendiri Kantor Advokat Penasehat Hukum Abhan and Partners ini, hal tersebut merupakan hal yang manusiawi, karena ada beban pekerjaan sehingga tidur kurang nyenyak atau banyak yang dipikirkan.

“Itu biasa manusiawi, tetapi tidak terus menerus. Yang jelas jam istirahat agak berkurang, nga bisa jam istirahat sampai 7 jam, paling maksimal 5 jam,” bebernya.

Meski begitu, pendiri KP2KKN ini berharap untuk ke depannya Pemilu 2019 ini dapat berjalan dengan lancar, karena acara ini merupakan acara untuk hajat bangsa Indonesia, maka seluruh stekholder dan masyarakat harus mensukseskan pemilu ini, bukan hanya tanggungjawab penyelenggara KPU dan Bawaslu saja, tetapi seluruh komponen masyarakat bersama-sama mensukseskan pemilu ini dengan perannya masing-masing.

Masyarakat menyukseskannya dengan cara datang ke TPS untuk menggunakan hak pilih sebaik-baiknya dan setelah menggunakan hak pilih maka prosesnya harus di awasi. “Proses penggunaan hak pilihnya harus di awasi,” pungkas Abhan. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.