Kamis, 23 Januari 20

Awas Potensi Tsunami Ekonomi!

Arief Poyuono

Ditambah lagi keperluan belanja barang barang untuk keperluan rehabilitasi Daerah yang terkena gempa yang masih harus diimpor, misalnya obat-obatan dan alat-alat kesehatan.

Sudah lima kali lho sejak Februari, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunganya dan tidak ada pengaruhnya terhadap penguatan nilai kurs Rupiah.

Kenaikan suku bunga bank sentral sudah bisa dipastikan akan memberatkan bunga pinjaman kredit para debitur bank-bank nasional dan bisa berpotensi macet. Bahkan, keadaan daya Beli masyarakat semakin turun akibat tinggi harga-harga barang dan jasa sehingga penjualan akan turun dan berakibat pada pendapatan perusahaan perusahaan para debitur.

Apalagi suku bunga the FED akan kembali naik dan pasti nya Rupiah akan semakin melemah akibat mba gondrong ( USD) pada pulang kampung lho.

Belum lagi 40 persen Obligasi Indonesia yang dipegang oleh asing akan dilepas akibat buruknya kinerja kurs Rupiah, hal terbukti dengan Obligasi Indonesia juga yang mengalami tekanan. Hasil patokan obligasi 10-tahun naik 14 basis poin pada Selasa menjadi 8,15 persen, meningkat dari 6,32 persen pada akhir 2017. Indeks saham utama negara itu merosot 1,2 persen, mengambil penurunan tahun ini menjadi 7,6 persen

Belum lagi diperpanjang dari sisi defisit fiskal dimana neraca transaksi berjalan yang terus defisit, akibat terjadi jor-joran misalokasi proyek proyek Infrastruktur yang lebih bernuansa mercusuar dibanding memiliki nilai tambah untuk meningkat devisa negara. Seperti lebih banyak bangun gedung-gedung dibandingkan membeli mesin dan membangun Industri nasional yang berbasis produk ekspor.

Pages: 1 2 3

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.