Minggu, 7 Maret 21

Awas… Ngantuk di Siang Hari Pertanda Penyakit Berbahaya!!

Awas… Ngantuk di Siang Hari Pertanda Penyakit Berbahaya!!
* ilustrasi ngantuk. (ist)

Waspadai…!! Sering mengantuk di siang hari, bisa jadi penyakit berbahaya ini sedang mengintai Anda.

Banyak ahli yang menyarankan agar orang mencukupi kebutuhan tidur selama 7-8 jam setiap malam agar tidak merasa mengantuk di siang hari.

Bagaimana pun, masih tetap ada orang yang kurang tidur yang membuatnya dihantui rasa kantuk keesokan harinya.

Namun, jika rasa kantuk di siang hari terasa semakin parah, cobalah meminta bantuan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Hal ini dikarenakan mengantuk berlebihan di siang hari bisa merupakan tanda adanya masalah kesehatan yang serius di antaranya:

1. Waspada penyakit jantung
Dalam sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 84.000 wanita di AS, para peneliti menghubungkan antara rasa kantuk berlebihan di siang hari dengan risiko penyakit jantung.

Namun, sebenarnya yang menjadi penyebab adalah adanya gangguan dan penyakit lain, sehingga seseorang menjadi mudah mengantuk di siang hari.

“Mengantuk di siang hari biasanya terkait dengan jam tidur yang kurang, kerja lembur, atau mengorok. Semua gangguan tersebut terkait dengan gangguan metabolik seperti diabetes yang merupakan faktor risiko untuk stroke dan penyakit jantung,” kata ketua peneliti James E.Gangwisch.

Dalam penelitiannya, ia menganalisa data lebih dari 84.000 wanita yang mengikuti Nurses Health Study II antara tahun 2001 sampai 2009.

Di akhir penelitian, 500 wanita didiagnosa sakit jantung atau stroke.

Wanita yang mengaku mudah mengantuk di siang hari (sebanyak 5 persen dari total kelompok), memiliki risiko 5 kali lebih besar didiagnosa sakit jantung dibanding orang yang tidak pernah mengantuk.

Faktor utama yang berkontribusi pada penyakit jantung dan stroke sebenarnya lebih kepada gangguan tidur, hipertensi, diabetes, serta kolesterol tinggi.

Menurut studi tahun 2013, orang yang tidur kurang dari 5 jam setiap malam beresiko lebih besar menderita tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.

“Mudah mengantuk di siang hari adalah tanda kurang tidur atau gangguan tidur. Beberapa gangguan medis juga bisa menyebabkan rasa ngantuk di siang hari, dan semuanya terkait dengan penyakit jantung,” tulis para peneliti dalam laporannya.

2. Ancaman kesehatan otak
Periset dari Johns Hopkins University menemukan orang yang sering mengantuk sepanjang hari hampir tiga kali lebih mungkin mengalami penumpukan beta-amyloid.

Beta amyloid merupakan protein yang terkait dengan risiko penyakit alzheimer di masa mendatang.

Mereka menganalisis data dari Baltimore Longitudinal Study of Aging, riset jangka panjang yang telah meniliti kesehatan ribuan manusia sejak 1958. Selama bertahun-tahun, peserta yang mengikuti riset mengisi survei perodik, mencakup pertanyaan tentang seberapa sering mereka tidur siang, merasa mengantuk, atau tertidur di siang hari.

Beberapa peserta juga melakukan pemindaian otak untuk mendeteksi plak beta-amiloid setelah hampir 16 tahun mengisi survei.

Sebanyak 123 peserta mengisi survei dan melakukan pemindaian otak.

Dalam riset ini, peneliti juga mempertimbangkan faktor, seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, dan indeks massa tubuh.

Hasilnya menunjukkan, risiko penumpukan plak beta-amiloid lebih tinggi 2,75 kali pada orang yang merasa mengantuk di siang hari.

Risiko penumpukan plak ini pada orang yang tidur siang tidak signifikan secara statistik.

Korelasi antara kantuk di siang hari dan peningkatan risiko untuk plak beta-amyloid terus membingungkan periset.

Namun, peneliti menduga gangguan tidur atau kurang tidur adalah penyebab seseorang mengantuk saat siang hari.

Hal serupa menyebabkan penumpukan plak beta-amyloid melalui mekanisme yang tak diketahui.

“Namun, kami tidak dapat mengesampingkan plak amiloid yang muncul saat mengevalusi penyebab kantuk,” papar Adam P. Spira, selaku pemimpin riset.

Di bidang medis, bukan rahasia lagi jika gangguan tidur biasanya terjadi pada orang yang memiliki penyakit alzheimer.

Hal ini disebabkan adanya perubahan otak yang terkait dapat berdampak negatif pada tidur mereka. (Intisari-Online/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.