Sabtu, 25 Januari 20

Awas! Menghapus BBM Jenis RON 88, Mengobok-obok Pertamina

Awas! Menghapus BBM Jenis RON 88, Mengobok-obok Pertamina

Jakarta – Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM) yang dipimpin Faisal Basri akan menghapus bahan bakar minyak (BBM) jenis Ron 88. Ini adalah langkah yang sangat licin yang dilakukan Tim yang dibentuk Kementrian ESDM dalam rangka melakukan liberalisasi migas. Mengapa demikian?

Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng yang juga Peneliti Senior The Indonesia For Global Justice (IGJ) dalam percakapan dengan Obsession News, Senin (22/12/2014), memaparkan tiga hal.

Pertama, menghapus BBM RON 88 berarti menghapus BBM jenis premium. Dengan demikian maka hanya jenis Pertamax yang akan dijual ke depan.

Kedua, ungkap Salamuddin, menghapus RON 88 berarti membenarkan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, atau membenarkan logilka pencabutan subsidi BBM.

Ketiga, lanjutnya, menghapus RON 88 berarti menutup peluang pemerintahan Jokowi menurunkan harga BBM. Padahal, mestinya pemerintah menurunkan harga BBM ditengah menurunnya harga minyak global.

Keempat, menghapus RON 88 berarti mengentikan impor minyak Pertamina melalui anak perusahaannya. Tersiar kabar trader minyak Korea dan Jepang sudah siap memasok BBM RON 92 ke Indonesia.

“Kelima, menghapus RON 88 berarti membuka  liberalisasi, dimana Pertamina dipaksa membeli pada trader minyak melalui mekanisme pasar bebas. Termasuk impor minyak oleh Sonangol yang konon memiliki kedekatan dengan partai penguasa,” bebernya pula.

Selanjutnya, keenam, menghapus RON 88 berarti memperlemah daya saing Pertamina. Selama ini Ron 88 merupakan produk utama  Pertamina yang medominasi pasar Indonesia.
Ketujuh, jelas dia, menghapus RON 88 berarti akan membuka jalan bagi perusahaan asing dalam mengalahkan Pertamina dan menguasai pasar minyak dalam negeri.

Kedelapan, menghapus RON 88 berarti amputasi rantai pasokan Pertamina dan menambah ketergantungan Pertamina kepada  trader yang bermain di pasar minyak RON 92.

“Kesembilan, menghapus RON 88 berarti mengganti importir lama dengan mafia baru yang diduga memiliki kedekatan dengan penguasa saat ini,” bongkar aktivis yang konsisten dengan paham Trisakti Bung Karno dan peduli ekonomi kerakyatan ini.

Salamuddin Daeng juga menilai, sepak terjang Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM) memperlihatkan keinginannya untuk mengobok-obok Pertamina dan anak perusahaannya.

“Faisal Basri sebagai pemimpinnya diduga telah secara sengaja terlibat dalam konflik kepentingan para trader migas, dengan mengabaikan kepentingan nasional dan rakyat,” paparnya. (Ars)

 

Related posts