Senin, 24 Februari 20

Awas! Makan Daging Kelelawar Mengandung Virus Corona

Awas! Makan Daging Kelelawar Mengandung Virus Corona
* Kelelawar hitam (paniki) termasuk jenis satwa liar yang paling banyak diperdagangkan di pasar-pasar tradisional di Sulawesi Utara. (BBC)

Masyarakat dianjurkan untuk tidak mengonsumsi daging kelelawar maupun hewan liar lain menyusul wabah penyakit pernapasan, yang timbul akibat virus corona baru. Kelelawar membawa berbagai penyakit termasuk virus corona.

“Wabah yang telah menewaskan lebih dari 80 orang di China ini diduga pengamat China berasal dari kelelawar,” ungkap pengajar Institut Pertanian Bogor (IPB) dr Huda Darusman seperti dilansir BBC News Indonesia, Senin (27/1/2020).

Ketua Umum Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Aquatik, dan Hewan Eksotik Indonesia ini mengatakan, kelelawar berpotensi menyebarkan penyakit virus pada manusia.

Ia memaparkan, kelelawar memiliki daya tahan tubuh yang spesifik, yang mampu berperan sebagai reservoir atau penyimpan agen penyakit. Diungkapkan pula, kelelawar merupakan reservoir virus corona lainnya penyebab SARS dan MERS.

Hampir semua paniki yang diperdagangkan di Pasar Tomohon berasal dari luar Sulawesi Utara, kata para pedagang. (BBC)

Ketika kelelawar dimakan, jelas dia, virus itu bisa ditransmisikan ke manusia, meski virus sangat mudah dinonaktifkan dengan pemanasan atau bahan tertentu dalam proses pemasakan.

Penyebaran lewat udara, ujar Huda, juga membuat virus ini berbahaya.
“Corona ini yang jadi concern, menular melalui udara. Kami melihatnya nggak serta merta makan sop kalelawar kena corona, namun di udara sendiri sudah ada (virusnya),” ujar Huda.

“Mungkin dengan masakan nggak tepat, nggak panas, mungkin memudahkan hewan itu menyimpan penyakitnya,” tutur pengajar IPB.

Sementara itu, Angela Pangerapan, warga Tomohon Sulawesi Utara, mengatakan gara-gara marak wabah virus corona, dirinya sekarang berhenti dulu makan kelelawar. Untuk sementara waktu ia enggan memakan paniki karena khawatir akan penyebaran virus corona.

Angela mengatakan terakhir kali makan paniki saat perayaan tahun baru dan dia belum berencana memakannya lagi.

Sebelumnya, peneliti China, menduga virus corona baru berasal dari kelelawar, sebagaimana dikutip dari laman website berita resmi yang dikelola pemerintah Cina. Laporan itu juga menyebut kemungkinan ada perantara lain sebelum virus dari kelelawar sampai ke manusia.

Lebih lanjut, Huda Darusman, menyarankan pemerintah untuk segera mengimbau masyarakat untuk mengurangi interaksi dengan hewan liar lainnya. Hal itu perlu, tegas dia, karena hewan liar mungkin menyimpan virus yang berbahaya bagi manusia.

Tak hanya diimbau tidak memakan, masyarakat juga harus diimbau tidak menangkap atau memelihara hewan liar. “Butuh ketegasan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat. Pemangku adat harus dilibatkan juga,” tutur Ketua Umum Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Aquatik, dan Hewan Eksotik Indonesia ini.

Meski hingga kini belum diketahui pasti bahwa kelelawar yang hidup Indonesia berpotensi menyebabkan virus corona, Huda mengatakan, kemungkinan penyebaran virus juga perlu diwaspadai.

“Common sense kita harus masuk. Kalau kelelawar di China saja bisa membawa, (kelelawar) kita pun bisa. Ini kan satu famili ya,” ujarnya.

Hal itu, diamini Kementerian Kesehatan, yang meminta masyarakat tidak berada dekat-dekat dengan kelelawar.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fajar Sumping mengatakan hingga saat ini pemerintah belum mendapat informasi resmi dari Badan Kesehatan Hewan Dunia, dan Organisasi Kesehatan Dunia mengenai sumber virus corona baru.

Namun, dia menganjurkan masyarakat untuk tidak mengkonsumsi kelelawar yang merupakan hewan liar yang status kesehatannya tidak diketahui. “Apalagi dalam keadaan adanya kasus menyebarnya penyakit menular yang baru,” ujarnya.
“Kelelawar adalah satwa liar yang tidak lazim digunakan sebagai bahan pangan dan untuk konsumsi,” pungkas Fajar.(*/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.