Minggu, 29 Januari 23

Awal Pekan Akhir Agustus, Tekanan Jual Dominasi Perdagangan

Awal Pekan Akhir Agustus, Tekanan Jual Dominasi Perdagangan

Jakarta, Obsessionnews – Sentimen negatif pasar global dan kawasan masih mendominasi perdagangan saham akhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi tajam 105,958 poin atau 2,38% di posisi 4335,953.

“Ini merupakan level terendah IHSG sejak perdagangan 27 Januari 2014,” kata Analis First Asia Capital David Setyanto kepada obsessionnews.com, Senin (24/8).

Pemodal, kata David, cenderung menghindari aset beresiko menyusul berlanjutnya kekhawatiran perlambatan ekonomi China dan tren penguatan dolar AS atas mata uang emerging market yang berdampak buruk bagi rupiah. Kondisi ini, memicu keluarnya dana global dari pasar emerging market termasuk Indonesia.

Selama sepekan, IHSG koreksi 5,44% dan rupiah anjlok 0,96% di level Rp 13.895 (kurs Jisdor). Sedangkan berdasar data Bloomberg, rupiah akhir pekan lalu sudah di berada di posisi Rp 13.941 per dolar AS.

Dilihat dari posisi tertinggi tahun ini pada awal April lalu, IHSG telah koreksi 21,5% dan ini menandakan pasar saham Indonesia masuk tren bearish. Penjualan bersih asing akhir pekan lalu pun mencapai Rp 770 miliar. Dan, sepanjang pekan lalu telah mencapai Rp 4,3 triliun melanjutkan pekan sebelumnya sebesar Rp 3,05 triliun.

Resiko pasar yang meningkat juga tercermin dari naiknya CDS Indonesia hingga 50,6% di 241,53 akhir pekan lalu dibandingkan akhir tahun lalu di 160,312.

Sementara itu, pasar saham global akhir pekan lalu ikut terpuruk akibat meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi China. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street masing-masing anjlok 3,12% dan 3,19% tutup di 16459,75 dan 1970,89. Harga minyak mentah juga ikut anjlok sebesar 2% di angka 40,45 dollar AS perbarel akhir pekan lalu.

Pada perdagangan awal pekan terakhir Agustus, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi perdagangan seiring masih tingginya resiko pasar. Kekhawatiran berlanjutnya pelemahan rupiah atas dolar AS yang berpotensi menembus level Rp 14.000 akan menjadi katalis negatif di pasar.

Peluang rendahnya tekanan jual akan ditentukan dengan langkah sejumlah BUMN melakukan buyback sahamnya menyusul kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merelaksasi aturan buyback tanpa RUPS. IHSG pun diperkirakan masih berfluktuasi bergerak dengan support di 4290 dan resisten di 4375 cenderung koreksi. (Mahbub Junaidi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.