Minggu, 21 April 19

Aviliani: Apabila Harga Pangan Tidak Dijaga, Kemiskinan Akan Naik

Aviliani: Apabila Harga Pangan Tidak Dijaga, Kemiskinan Akan Naik
 

JAKARTA – Pengamat Ekonomi, Aviliani mengatakan Pemerintah harus menjaga harga pangan apabila ingin target inflasi dalam APBN 4,9 persen dan target Bank Indonesia 3,5 – 5,5 persen tercapai.

“Inflasi tinggi Maret ini menunjukkan bahwa harga pangan sangat memberikan kontribusi terhadap inflasi. Karena itu, pengendalian harga pangan sangat diperlukan,” kata Aviliani kemarin.Sekeretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) tersebut memperkirakan rencana kenaikan tarif dasar listrik yang akan diberlakukan dalam waktu dekat juga akan memberikan kontribusi besar terhadap laju inflasi pada bulan-bulan mendatang.Apabila kenaikan tarif dasar listrik tidak dibarengi dengan pengendalian harga pangan, dia memperkirakan laju inflasi bisa mencapai angka enam persen.”Saat ini tidak hanya harga bawang yang naik. Cabe merah juga sudah mulai naik. Kementerian Pertanian harus menjaga supaya harga pangan tidak naik kelewat tinggi. Apalagi menjelang Pemilu 2014 kondisi ekonomi cukup sensitif,” tuturnya.Aviliani memperkirakan kenaikan tarif dasar listrik yang sudah diputuskan bersama oleh pemerintah dan DPR akan memberikan kontribusi kenaikan inflasi 0,5 persen. Apabila harga pangan tidak dijaga, dia memperkirakan inflasi akan naik 1 persen.

“Karena kenaikan tarif dasar listrik sudah tidak bisa dihindari, maka yang paling mungkin adalah menjaga harga pangan. Apabila harga pangan tidak dijaga, kemiskinan juga akan naik,” katanya.

Aviliani juga menyarankan agar pemerintah  mengembalikan fungsi Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menstabilkan harga pangan sehingga laju inflasi bisa lebih dikendalikan.

“Harga pembelian pemerintah atau HPP selama ini belum tentu layak dan bisa mengamankan pasokan pangan dari sisi produsen atau petani. Seharusnya harga pangan dikendalikan oleh Bulog,” kata Aviliani.

Doktor manajemen dan bisnis Institut Pertanian Bogor itu memperkirakan apabila fungsi Bulog sebagai pengendali dan penstabil harga pangan dikembalikan, keuntungan petani juga akan lebih meningkat.

Aviliani mencontohkan, saat ini, keuntungan petani setiap panen hanya berkisar 13 persen saja, bila fungsi Bulog dikembalikan, keuntungan petani bisa mencapai 23 persen hingga 25 persen.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.