Minggu, 24 Oktober 21

Australia Berani Serang Indonesia?

Australia Berani Serang Indonesia?
* Aparat menjaga ketat Pelabuhan Wijaya Pura, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. (Foto-foto: Yusuf Isyrin Hanggara/obsessionnews.com)

Semarang, Obsessionnews – Pernyataan Panglima TNI Jenderal Moeldoko tentang intervensi yang dilakukan Australia mengundang pertanyaan besar. Moeldoko membenarkan ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk menggagalkan eksekusi terhadap sejumlah terpidana mati. Mulai strategi diplomasi, aksi anarkis kepada Kedubes RI, hingga cara-cara lain.

“Kan banyak cara (menggagalkan eksekusi hukuman mati), dengan cara mempengaruhi hukuman keputusan, melalui diplomatik, dan seterusnya. ‘Cara-cara lain’ juga ada,” kata Moeldoko di Istana Kepresidenan, Rabu (4/3).

Ketika ditanya perihal ‘cara lain’, Moeldoko tidak memberikan keterangan lebih lanjut. Namun dia mengerahkan kekuatan TNI sampai intelijen untuk melakukan pengamanan di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Dia hanya menegaskan agar upaya eksekusi berhasil. “Ya prinsipnya nggak boleh gagal (eksekusi hukuman mati),” katanya.

Hal itu semakin mencurigakan terparkirnya tiga pesawat temput Sukhoi SU-30MKI di Bali, tepatnya di Base Ops Lanud Ngurah Rai, sampai pengawalan super ketat di Nusakambangan. Pantauan obsessionnews.com berbagai macam kendaraan TNI disiagakan.Yang paling mencolok tentu kehadiran helikopter EC120 Colibri yang berlalulalang di udara. Beberapa kali helikopter tersebut keluar masuk dan mengelilingi “Pulau Ekseskusi”.

Rumor yang beredar, berjaga pula kapal selam milik TNI Angkatan Laut di sekeliling Pulau Nusakambangan. Belum lagi tercatat pada 21 Februari 2015 Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pasukan elit TNI-AD melakukan latihan. Mungkinkah intervensi Australia sudah sedemikian kelewat batas?

Nuswantoro Dwiwarno, dosen Hukum Internasional Universitas Diponegoro (Undip) Semarang
Nuswantoro Dwiwarno, pengamat hukum internasional dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang

Pengamat hukum internasional dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Nuswantoro Dwiwarno,SH, MH, mengungkapkan, masyarakat secara umum menilai segala sesuatu yang tampak saja. Justru melihat permasalahan itu haruslah secara terbalik.

“Kenapa rencana pemindahan duo ‘Bali Nine’ ini begitu eksklusif pengamanannya? Karena hal ini akan menjadi perhatian dunia internasional juga,” tuturnya kepada obsessionnews.com di Semarang, Jumat (6/3).

Menurut dosen Hukum Internasional  Undip ini,  secara kasat mata Australia akan berpikir dua kali untuk melakukan hal-hal yang berupa intervensi fisik. “Australia tidak akan  berani mencampuri secara militer terkait rencana pemidanaan kasus duo ‘Bali Nine’. Australia paham itu adalah kedaulatan Indonesia untuk menerapkan aturannya. Sehingga kalaupun melalui pressure barangkali yang ada adalah pressure tingkat politik,” katanya.

Jika ditengok ke belakang, sudah bukan rahasia umum jika Australia berulang kali memasuki wilayah Indonesia, terlebih di kawasan timur. Bahkan yang terakhir armada kapal Australia diberitakan memasuki perairan selatan saat mendorong balik pencari suaka. Bukan tidak mungkin Australia mengirimkan ‘cara lain’ seperti pernyataan Jenderal Moeldoko.

Disinggung mengenai hubungan bilateral antara Australia dengan Indonesia, Nuswantoro memperkirakan semakin memburuk pasca hukuman mati duo ‘Bali Nine’. Terlebih dengan tindakan Perdana Menteri Australia Tony Abbott dalam menyikapi eksekusi terpidana mati Andrew Chan dan Myuran Sukumaran yang semakin menjadi-jadi. “Yang terakhir permintaan untuk barter tahanan. Itu tidaklah lazim dalam praktik hukum internasional. Karena sudah termasuk mencampuri internal kedaulatan,” ujarnya.

“Praktiknya sepengetahuan saya belum pernah ada barter narapidana seperti itu. Kecuali dalam kondisi perang antar negara itu boleh. Tetapi kalau terkait masalah pemidanaan yang mana prinsipnya negara tersebut melaksanakan undang-undangnya, ini kok belum lazim,” ujar Nuswantoro.

Dengan adanya hukuman mati, kemungkinan balasan berupa aksi militer semakin kecil. Bahkan penarikan duta besar (dubes) sebagaimana dilakukan oleh Brazil terlihat urung dilakukan. Justru yang terbaca, wibawa Indonesia akan semakin meningkat di mata Australia. “Melihat sikap ‘benci tapi rindunya’ Australia, saya rasa tidak akan sampai penarikan dubes. Terlebih Australia masih membutuhkan Indonesia,” pungkasnya. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.