Kamis, 23 September 21

Asing, Aseng dan Asong Sebagai Musuh Bangsa

Asing, Aseng dan Asong Sebagai Musuh Bangsa

Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS), dan alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986

 

Salah satu isu politik di bawah kondisi politik ekonomi Rezim Jokowi lebih berpaling ke Cina, yakni Asing, Aseng dan Asong sebagai musuh bangsa, khususnya kaum pribumi.

Isu politik Asing, Aseng dan Asong yang menguasai kehidupan ekonomi politik Indonesia telah menjadi perbincangan di publik, baik melalui media sosial, media massa maupun diskusi publik.

Konsep Asing. Aseng dan Asong ini menunjukkan kritik dan kecaman atas realitas objektif Indonesia sekarang, bahwa kehidupan bernegara rakyat Indonesia telah dikuasai Asing (orang luar negeri), Aseng (ras Cina) dan Asong (kaum pribumi yang menghamba terhadap asing dan asong). Isu politik Asing, Aseng dan Asong ini semakin membesar dan meluas sesuai dengan berkembangnya isu berbondong-bondongnya tenaga kerja Cina masuk ke Indonesia, dan penguasaan sebagian besar sumber daya Indonesia oleh kelompok konglomerat Cina (taipan).

Isu ini juga dapat meningkatkan kecaman dan penolakan terhadap kegiatan ekonomi Cina di Indonesia sebagai realisasi kerja sama ekonomi Indonesia-Cina.

Asing. Aseng dan Asong adalah penyederhanaan rumusan sebagai musuh bangsa. Sudah muncul beberapa aktivis dan pengamat memaknakan kata Asing, Aseng dan Asong. Pada umumnya mereka tergolong pengkritik dan pengecam kondisi dan pengelolaan kekuasaan negara Indonesia didominasi kepentingan Asing, Aseng dan Asong ini. Secara sederhana makna kata Asing, Aseng dan Asong tersebut sebagai berikut:

1. Asing
Asing bermakna semua kekuatan luar negeri mengeksploitasi bangsa Indonesia. Asing mendikte dan mencengkeram bangsa Indonesia. Melalui lembaga non state seperti Bank Dunia,IMF, ADB, Operasi Intelijen, dan lain-lain mendiktekan dan mengeksploitasi bangsa Indonesia.

2. Aseng
Aseng bermakna konglomerat atau pengusaha besar/atas Cina hitam dan terlibat mafia dalam berbagai bisnis di sekitar kekuasaan negara. Makna ini kemudian diperluas ke arah kepentinggan Cina (RRC) di Indonesia.

3. Asong
Asong bermakna kaum pribumi bagaikan tukang asongan menjual negara ini dengan proposal bisnis, politik, kemiskinan, dan lain-lain untuk kepentingan pribadi, kelompok dan merugikan negara. Asong dalam beragam wujud: bisa penguasa boneka/antek/agen; Bisa birokrat fasilitator yang memperlancar semua kepentingan Asing dan Aseng; Bisa juga kaum intelektual, akademisi, jurnalis, lawyer, aktivis LSM yang bekerja mencuci otak rakyat agar menerima gagasan yang sesungguhnya merugikan kepentingan negara. Mereka ini umumnya mendapatkan manfaat dan dana dari Asing dan Aseng.

Intinya Asong adalah kaum pribumi yang menghamba terhadap konglomerat atau pengusaha besar Asing dan Aseng. Mereka tidak peduli atas penghambaan terhadap Asing dan Aseng ini tergolong prilaku korupsi yang merugikan kepentingan nasional dan rakyat Indonesia.

Bagi pelaku isu politik Asing, Aseng dan Asong, kondisi “buruk” rakyat dan negara Indonesia selama ini, terutama kaum pribumi dibandingkan kaum non pribumi, karena pengelolaan kekuasaan negara dipengaruhi Asing, Aseng dan Asong. Hal ini diperkuat lagi dengan dibukanya seluas mungkin investasi Cina di Indonesia.

Karena itu, hubungan harmonis kepentingan Asing, Aseng dan Asong dinilai sebagai musuh rakyat dan kaum pribumi di Indonesia. Harus dilawan !

Fenomena munculnya kelompok identitas pribumi belakangan menunjukkan upaya perlawanan terhadap kondisi Asing, Aseng dan Asong. Perlawanan dimaksud masih bersifat kultural, belum struktural.

Rezim Jokowi harus mampu dan berhasil mengelola dan mengendalikan isu politik Asing, Aseng dan Asong ini agar tidak terjadi konflik manifes/terbuka dalam bentuk kerusuhan sosial (social unrest). Rezim Jokowi dalam mengelola isu politik ini harus semata-mata agar tercipta kondisi rakyat dan negara Indonesia sesuai Pancasila dan konstitusi negara (UUD 1945).

Jika Rezim Jokowi tak mampu dan gagal mengelola isu politik ini, sangat mungkin isu ini akan menjadi salah satu faktor menurunkan atau menggerus elektabilitas Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.