Sabtu, 16 Oktober 21

Asal Usul Keranda Mayat

Asal Usul Keranda Mayat
* Keranda mayat. (Foto: Correcto.id)

Sayyidah Fathimah Az-Zahra radhiyallahu anha dijuluki sebagai penghulu perempuan surga dan teladan terbaik bagi kaum perempuan di dunia.

Sayyidah Fathimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha adalah satu dari empat perempuan pemuka surga. Putri kesayangan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ini lahir dari rahim mulia Sayyidah Khadijah binti Khuwailid yang juga salah satu perempuan pemuka surga. Sayyidah Fathimah dijuluki sebagai pemimpin perempuan umat Islam dan teladan terbaik bagi kaum perempuan di dunia.

Ada satu kisah Sayyidah Fathimah yang sangat berharga dan penuh hikmah. Kisah ini berkaitan dengan akhlak beliau dalam menjaga kehormatan. Dari kisah inilah cikal bakal dibuatnya keranda mayat yang kini digunakan umat Islam di seluruh dunia.

Ketika Sayyidah Fathimah sedang sakit diambang wafat, maka Asma bintu Umais radhiyallahu ‘anha datang menjenguknya. Maka Fathimah berkata kepada Sayyidah Asma: “Wahai Asma, aku begitu malu ketika harus keluar besok hari di hadapan para lelaki (ketika aku telah meningal) dan tubuhku dibawa di atas peti mati”.

Peti mati ketika itu hanyalah sebuah kayu datar yang terbuka. Tubuh mayyit yang sudah tertutup oleh kain kafan akan diletakkan di atasnya dan ditutup lagi dgn sebuah kain sebagai tambahan. Fathimah sangat malu dan sedih ketika tubuhnya akan terbentuk oleh kain kafan.

Beliau tidak ingin ada seorang lelaki dapat melihat bentuk dan lekuk tubuhnya. Maka dengarkanlah kembali isi curhatan Fathimah yang sungguh mendalam:

إِنِّي قَدِ اسْتَقْبَحْتُ مَا يُصْنَعُ بِالنِّسَاءِ أَنْ يُطْرَحَ عَلَى الْمَرْأَةِ الثَّوْبُ فَيَصِفُهَا

“Sesungguhnya aku merasa malu dgn apa yang terjadi untuk para wanita ketika mereka dipakaikan sebuah kain kafan, maka kafan itu membentuk tubuhnya”.

Mendengar curhan hati dari Fathimah , maka Asma bintu Umais berkata padanya:

يَا ابْنَةَ رَسُولِ اللهِ أَلَا أُرِيكِ شَيْئًا رَأَيْتُهُ بِالْحَبَشَةِ

“Wahai putri Rasulullah , maukah aku kabarkan kepadamu sebuah peti mati yg aku lihat di Habasyah?”

Maka Asma membuat peti mati yg tertutup dari semua sisinya seperti sebuah kardus. Ketika peti mati sudah jadi, Asma kemudian menutup peti mati itu kembali dgn sebuah kain yang luas maka tubuh mayyit yang dibawa di atasnya tidak akan mungkin terbentuk atau tersifati.

Melihat perbuatan Asma tersebut, Fathimah begitu bahagia. Seketika, Fathimah berkata kepada Asma:

سترك الله كما سترتني مَا أَحْسَنَ هَذَا وَأَجْمَلَهُ تُعْرَفُ بِهِ الْمَرْأَةُ مِنَ الرَّجُلِ فَإِذَا مِتُّ أَنَا فَاغْسِلِينِي أَنْتِ وَعَلِيٌّ

“Semoga Allah menutup auratmu sebagaimana engkau telah berusaha untuk menutup auratku.”

“Betapa indahnya buatanmu ini, sehingga wanita yang meninggal bisa dibedakan dengan lelaki yg meninggal. Jika aku mati, maka mandikanlah diriku bersama Ali” (HR. Imam Abu Nu’aim Al-Asbahani rahimahullah dalam kitab Hilyah Al-Aulia wa thabaqathul asfiya’, 2/43)

Subhanallah, Sayyidah Fatimah malu padahal nantinya hanyalah seorang yg sudah wafat dan itupun sudah benar-benar tertutup dan terbungkus dgn 5 kain kafan.

Apalagi yg akan terlihat? Sayyidah Fathimah tidaklah mencurahkan isi hatinya ketika di pasar atau sebuah taman, namun beliau mencurahkan isi hatinya ketika beliau di ambang kematian.

Sayyidah Fathimah malu ketika beliau sudah wafat, maka bagaimana dgn wanita yg masih hidup tidak memiliki rasa malu? Seandainya Fathimah melewati sebuah pasar yg ada di zaman sekarang ini dan beliau melihat para wanita zaman sekarang, maka apa yg akan Beliau katakan?

Tidak dipungkiri, wanita saat ini tak sedikit yg berani melepaskan hijabnya, bahkan menggunakan pakaian sempit lagi minim. Wanita saat ini sudah hilang rasa malunya, mereka berani memperindah dan menampilkan keindahan tubuhnya sehingga mengundang syahwat laki-laki. Semoga Allah Ta’ala memberi hidayah kepada kita.

Apa yg membuat Sayyidah Fathimah sampai pada keududukan tinggi seperti ini? Ini karena sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yg ada pada diri Fathimah .

الحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan” (HR. Imam Al-Bukhari)

Semenjak itu, akhirnya umat Islam di seluruh dunia pun meniru hal yg sama pada jenazah Sayyidah Fatimah. Jenazah diletakkan di atas keranda untuk dibawa ke pemakaman. Subhanallah, kita patut berutang jasa kepada Sayyidah Fathimah yg memuliakan jenazah khusunya kaum perempuan. (*/Red)

Sumber: Kitab Sirah Nabawiyah, Kitab Hilyatul Auliya’ wa thabaqatul asfiya’, dll.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.