Kamis, 29 Oktober 20

AS Hikam Usul Ketua MA Dipecat

AS Hikam Usul Ketua MA Dipecat
* Muhammad AS Hikam.

Jakarta, Obsessionnews – Tertangkapnya dua hakim di Bengkulu karena menerima suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (23/5/2016), menambah panjang daftar hakim yang berbuat tidak terpuji. Hal ini membuat geram banyak pihak. Padahal selama ini hakim disebut wakil Tuhan.

Pengamat politik Muhammad AS Hikam tidak setuju hakim dijuluki wakil Tuhan. Menurutnya, hakim yang sedahsyat apapun tetap tak layak dijuluki wakil Tuhan, apalagi hakim-hakim korup dan sontoloyo itu.

Alasan saya, sederhana saja: Seorang Nabi saja tdk menyatakan diri atau dinyatakan sbg wakil Tuhan, apalagi manusia biasa. Kalaupun profesi Hakim itu dianggap mulia, hal itu tdk berarti mereka berhak dijuluki wakil Tuhan. Para Guru jauh lebih mulia ketimbang Hakim, tetapi mereka tdk pernah dijuluki atau mengklaim spt itu. Para Ulama pun (yg juga lbh mulia ketimbang Hakim) hanya dijuluki “pewaris para Nabi” dan itupun maknanya adlh pewaris perjuangan bukan pewaris tahta!” tulis Hikam di akun Facebooknya, Rabu (25/5/2016).

Wakil Rektor President University, Bekasi, Jawa Barat, ini melanjutkan tulisannya,”Nah, apalagi kalau Hakim2 spt di Indonesia yg kini makin sering menjadi tersangka tindak kriminal korupsi. Bukan saja tak perlu diberi julukan wakil Tuhan, justru mereka itu seharusnya dihukum jauh lebih berat ketimbang koruptor yg paling kakap pun.”

Hikam berpendapat sudah waktunya negeri ini punya aturan hukuman khusus untuk para hakim yang kedapatan melanggar hukum, khususnya korupsi. Mereka harus dihukum super berat, minimum 25 tahun dan maksimum hukuman seumur hidup. Hal itu karena merekalah yang paling sering menjatuhkan hukuman ringan kepada  para koruptor, selain kini di antara mereka malah jadi koruptor sendiri.

Dia mengatakan, hakim-hakim jujur dan berani seperti Artidjo Alkostar sangat langka atau bahkan sudah tidak  ‘terbit’ lagi. Yang kian berkembang biak seperti virus adalah hakim-hakim model koruptor seperti yang sudah ditangkapi KPK selama beberapa tahun terakhir itu.

Itulah sebabnya Hikam sejak lama menyerukan dilakukan reformasi fundamental di Mahkamah Agung (MA). Ia setuju yang pertama harus mundur adalah pimpinan MA yang nyata-nyata  telah gagal menjadi pembina, pemimpin, dan penyelenggara lembaga yudikatif di negeri ini.

Hikam mengungkapkan, Ketua MA Hatta Ali tidak melakukan reformasi di lembaga yang dipimpinnya. Hatta terkesan tidak peduli dengan krisis moral dan integritas di kalangan anak buahnya.

Hikam tidak tidak paham langkah tegas apa yang sudah dilakukan oleh Hatta, setelah terbongkarnya kasus tindak pidana korupsi (tipikor) yang melibatkan Sekretaris MA, Nurhadi Abdurrachman.

Menurut Hikam, seyogyanya Hatta MA mundur dan bukan terus bercokol dalam posisinya jika anak buahnya bertubi-tubi menjadi tersangka korupsi. Sebab, nalar waras akan mengatakan jika terjadi korupsi terus-menerus di jajaran yang demikian strategis yang bernama hakim dan pejabat teras di MA, mustahil Hatta tak merasa risih atau terketuk nuraninya serta tahu diri bahwa dirinya memang tdk becus memimpin lembaganya.

Hikam mengkritik mempertahankan seorang Ketua MA yang tidak peka dan bahkan sudah gagal menjadi pemimpin seperti Hatta akan merugikan, bukan saja lembaga yudikatif tetapi juga kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh. Sebab suka atau tidak, Ketua MA adalah pucuk pimpinan lembaga yudikatif yang membawahi korps hakim di seluruh negeri ini.

Oleh karena itu Hikam mengusulkan Hatta dipecat. “Jika pemimpin sangat lemah dan tdk punya kewibawaan serta kapasitas melakukan perubahan mendasar, saya khawatir hukum dan penegakan hukum di negeri ini akan makin terpuruk. Ketimbang itu yg terjadi mending memecat Ketua MA saja!” tulisnya. (arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Lima Orang Tersangka OTT KPK di Bengkulu, Dua Hakim

Hakim Bobrok? Indonesia Darurat Integritas Hakim

KPK Tangkap Hakim Lagi, Peradilan Tercoreng!

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.