Rabu, 8 Desember 21

Arief Widhiyasa Sang Bos Game

Arief Widhiyasa Sang Bos Game
* Arief Widhiyasa. (Foto-foto: Sutanto/obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews – Banyak orang yang gandrung bermain game, tetapi tidak banyak yang bercita-cita untuk membuat game sendiri dan bertekad mewujudkannya. Inilah yang membuat Arief Widhiyasa istimewa. Ia bahkan rela meninggalkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) demi fokus membangun bisnis game developer bernama Agate Studio bersama 18 orang temannya. Kehadiran Agate memberikan warna baru di industri kreatif di Indonesia. Kesuksesannya di industri game membuat ia dijuluki sang bos game oleh teman-teman dekatnya.

Sejak kecil Chief Executive Officer (CEO) Agate itu sudah keranjingan game. Saking asyiknya ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain game. Positifnya, kelahiran Singaraja, 4 april 1987 ini diam-diam justru belajar dari setiap game yang dimainkannya. Prestasi akademiknya juga cemerlang, di bangku SD selalu juara kelas, SMP kerap memenangkan olimpiade sains, dan saat SMA sering menjuarai kompetisi komputer.

Di bangku kuliah, Arief menemukan teman-teman sesama mahasiswa ITB yang memiliki minat yang senada di dunia game. Hampir tiap minggu mereka kumpul. “Hingga pada 2009 ada teman yang mau lulus, dari situ kita mulai ada kesadaran akan realita. Ketika kita lulus, orang tua mengharapkan kita punya pekerjaan. Jadi nggak mungkin kita begitu terus,” ujar Arief kepada obsessionnews.com di sebuah hotel di Jakarta beberapa waktu lalu.

Berkat kesuksesannya dalam industri game  Arief Widhiyasa terpilih menjadi juri lomba game dalam ajang BeKreatif (Gebyar Seni Kreatif) Indonesia 2015 di Bandung
Berkat kesuksesannya dalam industri game Arief Widhiyasa terpilih menjadi juri lomba game dalam ajang BeKreatif (Gebyar Seni Kreatif) Indonesia 2015 di Bandung

IMG_1865

Namun pada saat bersamaan, mereka juga menyadari bahwa tidak ada perusahaan game yang siap menampung 18 orang mahasiswa sekaligus. Maka, diputuskan untuk membuat start-up developer game sendiri.

Seiring semakin kuat keinginannya berkecimpung di dunia game, Arief memilih drop out. Pemuda yang hobi bermain basket ini beruntung karena kedua orangtua membolehkannya mengambil keputusan itu. “Cara meyakinkannya ya dengan bukti,” ungkapnya.

Kini Agate telah menghasilkan ratusan game yang laris di pasaran serta meraih banyak penghargaan seperti Kaskus Favorit Winner of Inaicta pada 2009, Most Growth Company Action Coach pada 2010, People’s Choice Mochi Award – Flash Gaming Summit pada 2010 di San Fransisco, Football Saga memenangkan Indigo Fellowship pada 2010, Juara pertama Teknopreneur Award pada 2010, di tahun yang sama Arief juga didaulat sebagai CEO of The Year oleh Daily Social.

Agate juga pernah menjadi representatif Indonesia untuk perhelatan game terakbar se-Asia, “Tokyo Game Show”. Tapi bukan itu yang ia anggap sebagai achievement terbesar. Achievement terbesar baginya adalah dapat melakukan apa yang ia senangi.

“Kita melihat di masyarakat game masih dipandang sebelah mata bahkan negatif. Jadi, kita mau mengangkat sisi yang lebih baik dari game. Kenapa anak kecil lebih suka main game daripada bikin PR? Padahal sama-sama susah dan menantang. Mungkin saya lihat ada dua interaksi yang sangat berbeda dari dua interaksi itu yang ingin kita share ke dunia aslinya,” ujarnya.

Arief mencontohkan, waktu kecil ia tidak mengerjakan PR, ia dimarahi. Ia mengerjakan PR dan nilainya jelek, ia dimarahi bahkan dibanding-bandingkan dengan teman. Ia berusaha dapat nilai 100 di rumah memang ia dipuji tapi memang sudah seharusnya ia dapat 100.

Bayangkan, lanjutnya, anak kecil sudah berusaha dibegitukan. Namun di game, misalnya di game petualangan, ia baru masuk dibilang ia ada aura penyelamat dunia. Ia ketemu monster, terus berpikir untuk mengalahkannya, beberapa kali game over dan akhirnya menang, lalu dapat hadiah.

“Akan timbul kesenangan tersendiri di benaknya, istilah kita namanya positive feedback. Target visi Agate simple, ingin membuat dunia lebih bahagia dengan games,” ujarnya.

Arief terpilih menjadi juri lomba game, salah satu seni kreatif yang dilombakan dalam ajang BeKreatif (Gebyar Seni Kreatif) Indonesia 2015 di Bandung pada November mendatang. (Gia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.