Sabtu, 2 Juli 22

AR Baswedan Salah Satu Tonggak Mekarnya Nasionalisme Indonesia

AR Baswedan Salah Satu Tonggak Mekarnya Nasionalisme Indonesia
* Abdul Rahman (AR) Baswedan.

Oleh: Lukman Hakiem, Peminat Sejarah

 

Di antara the founding fathers, atau bapak bangsa (Mr. Mohamad Roem menerjemahkannya menjadi “nenek moyang”) yang sempat saya kenal akrab ialah Abdul Rahman (AR) Baswedan (1908-1986).

Sehubungan dengan jejak hayat Baswedan, Prof. Ahmad Syafii Maarif menegaskan bahwa pejuang berdarah Hadramaut itu, patut benar dipertimbangkan menjadi Pahlawan Nasional Par Excellence, sekalipun barangkali ruhnya tidak hirau pada penghargaan semacam itu.

Menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu, dalam diri Baswedan menyatu dengan rapi nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, jurnalisme, moral, politik, dan kebudayaan. “Dengan modal ini, Baswedan tidak diragukan lagi sebagai salah satu tonggak bagi mekarnya nasionalisme Indonesia,” pungkas Buya Syafii Maarif

Baswedan dan Liem Koen Hian

Kecintaan Baswedan kepada Indonesia, tidak perlu diragukan. Pada 1 Agustus 1934, surat kabar golongan peranakan Tionghoa, Mata Hari, memuat foto yang menggemparkan. Seorang pemuda keturunan Arab mengenakan beskap dan belangkon! Pemuda itu, A.R. Baswedan, berseru kepada kaumnya agar bersatu membantu perjuangan bangsa Indonesia. ‘Di mana seseorang dilahirkan, di situlah tanah airnya,” kata Baswedan.

Di masa penjajahan Belanda, Baswedan juga berjuang di lapangan jurnalistik untuk kemerdekaan Indonesia atas dasar persatuan dan keragaman, bersama rekan-rekan Tionghoa, antara lain Liem Koen Hian pendiri Partai Tionghoa Indonesia. Menjelang kemerdekaan, Baswedan dan Liem sama-sama duduk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Menurut catatan R.M. AB. Kusuma (2013), dalam perdebatan mengenai pasal kewarganegaraan di BPUPKI, dua wakil keturunan Tionghoa, Oei Tiang Tjoei dan Oei Tjong Hauw, memilih tidak menjadi warga negara Indonesia. Satu anggota, Mr. Tan Eng Hoa, tidak berpendapat.

Sesudah Pasal Kewarganegaraan (Pasal 26 UUD 1945) yang mengharuskan penduduk keturunan Tionghoa memilih kewarganegaraan, agar tidak terjadi bipatride, Liem Koen Hian mengundurkan diri dari BPUPK. Belakangan Mr. Tan menjadi warga negara Belanda, Liem menjadi warganegara RRC. Sikap itu tidak diikuti oleh wakil golongan Indo-Belanda, PF. Dahler, dan wakil golongan Arab, AR. Baswedan, yang memilih kewarganegaraan Indonesia.

Tiga Kesan

Saya mengenal Baswedan lebih dekat ketika menjadi aktivis HMI Cabang Yogyakarta.
Pertama, kecintaannya kepada Indonesia. Ketika mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI), Baswedan dan kawan-kawan mengakui adanya Indonesia di dalam ide dan di dalam pengakuan adanya nasionalisme Indonesia.

Dengan mencantumkan Indonesia di dalam nama partainya, Baswedan hendak menghapus kekeliruan yang berkembang dan dikembangkan sejak zaman Belanda, yaitu anggapan kaum nasionalis bahwa kaum Muslim tidak nasionalis. Dengan menggandengkan Arab dan Indonesia pada nama partainya, Baswedan mau menegaskan bahwa orang-orang Arab yang identik dengan Islam adalah Indonesia. Bagi Baswedan, warga keturunan Arab secara de facto telah menjadi Indonesia sejak PAI diterima dalam Gabungan Partai Politik Indonesia (GAPPI).

Kedua, kesukaannya menjalin silaturrahmi dengan siapa saja. Setiap pagi, sambil jogging, Baswedan menyambangi kawannya. Hari ini Baswedan mengunjungi Djarnawi Hadikusumo di Kauman, besok mengunjungi Romo Mangunwijaya di lembah Kali Code, lusa menyambangi Dick Hartoko di Kotabaru, dan seterusnya. Kesempatan bersilaturrahmi itu digunakan Baswedan untuk membahas masalah-masalah aktual.

Jelang Muktamar Muhammadiyah 1985, Baswedan gencar mengampanyekan perempuan menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Gagasan yang sampai hari ini pun masih dianggap aneh.

Ketiga, perhatiannya yang sangat besar kepada aktivis muda. Di tengah tekanan kuat rezim Orde Baru yang memaksakan pemberlakuan asas tunggal Pancasila, hampir tiap hari Baswedan berkunjung ke sekretariat HMI Cabang Yogyakarta yang memang dekat dengan kediamannya. Hampir setiap berkunjung, Baswedan mewanti-wanti para aktivis untuk tidak mengidentikkan perjuangan dengan masuk penjara. “Contohlah H. Agus Salim. Salim gigih melawan penjajah Belanda dan Jepang, baik melalui pergerakan maupun melalui pers, tapi Salim tidak pernah masuk penjara,” tutur Baswedan. (***)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.