Rabu, 1 Desember 21

Apindo Jabar: Kenaikan BBM Merepotkan Pengusaha

Apindo Jabar: Kenaikan BBM Merepotkan Pengusaha
* , Dedi Wijaya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat (Jabar)

Bandung, Obsessionnews – Para pengusaha harus pandai mengalkulasi pendapatan dan pengeluaran pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Sabtu (28/3). Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat (Jabar) Dedi Wijaya menilai kenaikan harga BBM sangat merepotkan bagi para pengusaha, karena kalkulasi terhadap pendapatan dan pengeluaran sangat menentukan lancar tidaknya barang yang diproduksi.

Selain merepotkan pengusaha dikhawatirkan perubahan harga BBM yang sering mengalami perubahan akan meningkatkan biaya tak terduga akibat transportasi barang saat ekspor.

“Kenaikan harga BBM menambah pekerjaan bagi para pengusaha, terutama penghitungan biaya transportasi,” ujarnya.

Penambahan biaya produksi dan transportasi membuat sebagian pengusaha akan mengalami stagnasi dan pengurangan produksi. Dalam beberapa hari kedepan para pengusaha akan mengalami penyesuaian atau adaptasi terhadap biaya pengeluaran.

Menurut Dedi, kondisi seperti itu sudah biasa dialami para pengusaha. Namun untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, harus adanya kepastian kenaikan dan penurunan BBM perlu adanya ketegasan pemerintah.

Dedi yang ditemui obsessionnews.com saat ground breaking Art Deco Luxury Residence Ciumbuleuit Bandung, Sabtu (28/3), menghimbau para pengusaha properti yang mulai bergerak pada bulan-bulan ini akan mengalami kondisi yang labil, sehingga harus cermat terhadap penghitungan cost dan persaingan usaha di bidang yang sama. Di sisi lain daya beli masyarakat akan semakin berkurang dan terjadi inflasi yang cukup besar, apabila kenaikan BBM tersebut terus berlangsung.

, Soenyali Soly, Direktur Art Deco Luxury Residence Ciumbuleuit Bandung
, Soenyali Soly, Direktur Art Deco Luxury Residence Ciumbuleuit Bandung

Hal senada juga diungkapkan Direktur Art Deco Luxury Residence Ciumbuleuit Bandung, Soenyali Soly, yang mengaku cukup berat apabila harga BBM naik-turun karena selain kenaikan transportasi juga biaya pengeluaran untuk pekerja akan bertambah. Bahkan penjualan juga dikhawatirkan mengalami kelambanan

“Saya yakin ke depan kondisi seperti ini akan berubah,” katanya.

Di sisi lain pihaknya juga harus memenuhi pernyaratan pembangunan yang diberlakukan oleh Pemerintah Kota Bandung, menyusul kawasan Ciumbuleuit merupakan daerah resapan air Kawasan Bandung Utara (KBU), sehingga syarat 20 persen bangunan fisik dan 80 persen area terbuka harus dipenuhi. Menyinggung persyaratan yang harus diberlakukan tersebut pihaknya juga langsung merespon keinginan Pemkot Bandung tersebut.

Sementara itu dari pantauan di lapangan sejumlah SPBU di Kota Bandung tidak mengalami antrian dan berjalan seperti biasanya. Lima buah SPBU di sepanjang ruas jalan Ibrahim Aji menuju bunderan Cibiru Bandung tidak mengalami peningkatan jumlah pembeli.

“Ah, mau ngantri juga saya hanya punya sepeda motor, maleslah,” ujar Risnenda, warga Cibiru, Bandung, yang tidak tertarik antri bensin.

Agus salah seorang karyawan SPBU di bilangan Jalan Soekarno Hatta mengaku tidak ada kenaikan pengunjung sejak pukul 22.00-24.00 WIB semalam. Para pembeli premium maupun solar tidak ada peningkatan yang cukup berarti. Harga premium dari Rp 6.900 menjadi Rp 7.300, dan harga solar dari Rp 6.400 menjadi Rp 6.900 ternyata tidak menarik minat warga Bandung untuk antri di SPBU. (Dudy Supriyadi)

Related posts