Minggu, 26 Juni 22

Apakah Indonesia Pasca 2015 Akan Terpecah?

Apakah Indonesia Pasca 2015 Akan Terpecah?

Jakarta – Pernyataan Direktur Pelaksana Bank Dunia/Mantan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati yang mengandaikan krisis ekonomi 2015 dengan “strong head wind” mengingatkan kita pada Wind of Change, judul tembang yang diciptakan oleh grup rock legendaris asal Jerman, Scorpions.

“Terinspirasi dari runtuhnya Tembok Berlin dan pecahnya Soviet, Scorpions seolah mencoba menyampaikan dalam lagu ini bahwa bila angin perubahan (wind of change) telah berhembus, tak ada tembok yang tak dapat dirubuhkannya,” kata Koordinator Petisi 28 Haris Rusly kepada Obsession News, Senin (22/9/2014).

Haris pun menyontohkan, ada negara yang bersatu kembali setelah mengalami perpecahan. Tapi ada negara yang sangat tragis nasibnya, harus mengalami perpecahan setelah bersatu dengan sangat kokoh.

“Bagaimana nasib Indonesia pasca 2015? Apakah Indonesia akan bernasib baik seperti Jerman yang bersatu kembali setelah mengalami perpecahan, atau akan bernasib sial dan sangat tragis seperti Uni Soviet yang mengalami perpecahan setelah bersatu?” paparnya mempertanyakan.

Sebagaimana diberitakan, Indonesia harus merealisasikan reformasi struktural untuk menghadapi kondisi perekonomian yang lebih berat tahun 2015. Tahun depan, kondisi yang menguntungkan Indonesia tidak ada lagi. Seperti negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, Indonesia menghadapi kondisi yang sesungguhnya.

Sri Mulyani mengibaratkan kondisi negara negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi (emerging market) pada tahun depan akan berbeda dengan dua tahun lalu. Kondisi perekonomian dua tahun terakhir diibaratkan tail wind (angin buritan). Dalam bahasa pasar, angin tersebut merupakan kondisi positif diterima karena kondisi buruk telah disaring di depan.

Namun, tahun 2015 diibaratkan sebagai strong head wind. Kondisi buruk yang berlangsung sangat kuat akan dihadapi secara langsung. Sri Mulyani mencontohkan Argentina, salah satu negara emerging market, mulai mengalami masalah fiskal dan inflasi tinggi. “Bagi emerging market, head wind yang dihadapi cukup kuat,” ujar Sri Mulyani seperti dilansir Kompas, Sabtu (20/9/2014). (Ars)

Related posts