Rabu, 26 Januari 22

Apakah Era Jokowi Mirip Orde Baru dalam Menyikapi Media?

Apakah Era Jokowi Mirip Orde Baru dalam Menyikapi Media?
* Pembredelan media massa yang terjadi di era Orde Baru juga dilakukan oleh pemerintahan Jokowi.

Jakarta, Obsessionnews.com – Insan pers saat ini sedang dilanda kecemasan. Pasalnya, belum lama ini 11  situs Islam diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dalam pemerintahan Presiden Jokowi, dengan alasan sebagai media provokatif, radikal dan kerap memberikan informasi tidak benar atau hoax.

Melihat kejadian itu, pemerintahan Jokowi saat ini tidak jauh beda dengan masa pemerintahan Orde Baru (Orba) di bawah kepemimpinan  Soeharto pada periode 1966-1998.

Berikut media yang diberedel oleh pemerintahan Soeharto pada zaman Orba: Harian Nusantara, Harian Suluh Berita, Mingguan  Mahasiswa Indonesia, Indonesia Raya,  Abadi, The Jakarta Times, Harian Pedoman, Mingguan Ekspres, Harian Indonesia Pos, Mingguan Pemuda Indonesia, Harian Sinar Harapan, dan lain-lain.

Alasan media semua ini dibredel adalah memuat tulisan yang dapat merusak kewibawaan nasional dan kepercayaan kepemimpinan nasional”, “dianggap menghasut rakyat”, dan “mengadu domba antara pimpinan”.

Berikutnya, pada 21 Juni 1994, majalah  Tempo, majalah Detik, dan tabloid DeTIK,dicabut surat izin penerbitannya atau dengan kata lain dibredel karena mengangkat berita hasil investigasi keterlibatan BJHabibie ( saat itu Menristek) dalam kasus pengadaan kapal bekas Jerman yang dinilai sarat KKN, karena dianggap telah melakukan ‘pembangkangan’. Sumber 1

Apa yang dilakukan Soeharto  pun terjadi pada masa pemerintahan Jokowi. Di masa pemerintahan Jokowi 11 situs diblokir oleh Kemenkominfo, karena dianggap provokatif.

Berikut daftar nama 11 situs yang di blokir :

1. www.bahrunnaim.co

2. www.dawiaislamiyyah.wordpres.com

3. www.keabsahankhilafah.blogspit.co.id

4. www.khilafahdaulahislamiyyah.wordpres.com

5. www.tapakrimba.tumbler.com

6. www.thoriquna.wordpres.com

7. wwtauhidjihad.blogspot.co.id

8. www.gurobabersatu.blogspot.co.id

9. www.bushro2.blogspot.co.id

10.www.mahabbatiloveislam.blogspot.co.id

11.www.azzam.in

Situs-situs tersebut dianggap sebagai media provokatif, radikal dan kerap memberikan informasi bohong.

Menanggapi hal itu, ‎Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah membenarkan ada beberapa situs di internet yang kerap memberikan berita atau informasi tidak benar. Namun, keberadaan media Islam tetap dibutuhkan sebagai penyeimbang, karena tidak semua tuduhan pemerintah itu dianggap benar. ‎

“Situs Islam itu harusnya tetap hadir, yaitu untuk penyeimbang berita yang fair terhadap Islam dan untuk mencegah situs pengganggu,” ujar Ketua PP Muhammadiyah  Dadang Kahmad seperti dilansir dari Muhammadiyah.or.id.

Menurutnya, media Islam dibutuhkan untuk menyerap aspirasi dari kepentingan umat muslim. Ia menilai di alam demokrasi ini semua membutuhkan media sebagai alat untuk menyampaikan kritik dan saran kepada pemerintah. Dan dia menginginkan media Islam hadir sebagai wadah pemersatu.

“Masyarakat Islam juga membutuhkan situs sebagai media informasi yang aktual, karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah beragama Islam,” ‎katanya.

Pada prinsipnya, Dadang mengatakan bahwa media harus memberikan informasi yang jujur, fakta, santun bukan fitnah dan hasutan. Karena itu, media Islam pun harus memuat standar itu, agar media Islam bisa diterima oleh masyarakat luas. ‎‎Sumber 2

Jadi, apakah pemerintahan Jokowi akan sama dengan pemerintahan Soeharto pada zaman orde baru dalam menyikapi media? Bagaimana menurut anda? (Purnomo)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.