Senin, 13 Juli 20

Apakah Dokter yang Wafat Karena Covid-19 di Indonesia Wajar?

Apakah Dokter yang Wafat Karena Covid-19 di Indonesia Wajar?
* Dokter menangani pasien virus Corona

Apakah dokter yang wafat oleh karena Covid-19 di Indonesia wajar ?

1. Kalau melihat profesi/ spesialis dari yang wafat karena Covid-19 sepertinya sebagian besar almarhum TS tersebut terkena Covid saat melakukan praktek atau melakukan pelayanan kesehatan pada pasien non Covid, ada SpKJ, SpS, Drg, SpOT, SpTHT, SpB, SpBD, dir RS, dsb. Ada 1 SpP wafat setelah dari Israel.

Para dokter yang masih praktek atau melayani pasien non Covid harus hati-hati sekali dengan APD yang adekuat dan kecurigaan yang tinggi pada Covid , jangan abai pada pasien yang kelihatan sehat. Pasien kita sering tidak cerita dia ada demam, batuk , dsb saat screening ok takut tidak boleh masuk dan takut diisolasi. Kesadaran pasien untuk melindungi dokter/ tenaga kesehatan juga kurang. Banyak carrier Covid yang asimtomatik.

Jadi, banyak kemungkinan pasien yang datang secara acak mempunyai potensi Covid. Load virus di ruang praktek tinggi ok pasien banyak dan terjadi akumulasi volume virus pada saat tertentu sehingga kalau dokter terkena Covid lebih serius sakitnya.

2. Dari jumlah korban Covid di Indonesia sampai saat ini sebanyak 181 orang terdapat 22 dokter yg wafat ( 12% ).
Berapa jumlah dokter yang wafat dibanding jumlah seluruh korban di luar negeri ? UK 0.17%, USA 0.02%, Itali 0.53 %, Iran 0.84 %.

Jadi, jumlah % dokter Indonesia yg wafat karena Covid sangat tinggi dibandingkan dg beberapa negara lain dan di Indonesia mungkin sebagian besar tidak berkaitan dg penanganan pasien Covid langsung.

Dikawatirkan jumlah dokter yg wafat akan bertambah banyak terus dg meningkatnya kasus Covid, baik yg berkaitan dg penanganan Covid langsung ( dengan keterbatasan APD ) maupun yg tertular ditempat praktek.
IDI perlu melakukan sosialisasi tentang kewaspadaan yang tinggi terhadap covid diantara praktisi medis yang melakukan praktek/ perawatan pasien non covit langsung serta standar APD yang tinggi di RS.

3. Sampai saat ini belum ada laporan tentang wafatnya dokter yg bekerja di ruang isolasi dg standar tinggi termasuk APD nya.

Di sini pentingnya standar tinggi ruang Isolasi dan APD serta sarana penunjangnya.

4. Rendahnya kewaspadaan /kecurigaan untuk Covid pada pasien yg datang dg keluhan lain/ atipikal seperti hipoglikemi, ACS, oedem paru, shock, gangguan rasa dan penciuman , dsb dapat mengakibatkan terlambatnya diagnostik Covid pada pasien tersebut yg dapat mengakibatkan paparan virus Covid yg berkepanjangan pada staf RS.

Di masa pandemi perlu tingkat kecurigaan yg tinggi sekali untuk adanya Covid pada pasien yg datang ke RS . Perlu suatu modalitas secara objektif cepat dan tepat menyingkirkan Covid sebelum pasien dirawat di ruang rawat non Covid. Beberapa modalitas bisa dikembangkan seperti skoring, ct scan, dsb yang dapat dipakai oleh DPJP dari berbagai disiplin spesialis.

Semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan, kesehatan dan petunjukNYA kepada kita semua. Aamiin YRA .

Harmani Kalim

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.