Minggu, 31 Mei 20

Apakah Cuaca Panas Bisa Musnahkan Covid-19 ?

Apakah Cuaca Panas Bisa Musnahkan Covid-19 ?
* penyemprotan disinfektan di cuca panas. (BBC)

Apakah cuaca panas bisa memusnahkan virus Corona (Covid-19)? Sejumlah penyakit menular muncul dan menghilang mengikuti musim. Flu dan virus noro biasanya muncul pada musim hujan nan dingin.

Penyakit lainnya, semisal tifus, cenderung memuncak pada musim kemarau. Kasus campak umumnya menurun saat musim panas di wilayah beriklim dingin, namun penyakit tersebut justru meningkat pada musim kemarau di wilayah tropis.

Karena adanya pola ini, tak mengherankan banyak orang kini bertanya apakah Covid-19 juga merupakan penyakit musiman?

Sejak pertama kali muncul di China sekitar pertengahan Desember, virus corona menyebar dengan cepat. Saat ini, virus tersebut sangat mewabah di Eropa dan Amerika Serikat.

Apakah virus corona menghilang seiring tibanya musim panas?
Sebagian besar wabah virus corona terjadi di wilayah-wilayah yang cuacanya sejuk. Hal ini memicu spekualasi bahwa Covid-19 kemungkinan menghilang seiring tibanya musim panas.

Akan tetapi, para pakar sudah mewanti-wanti bahwa jangan terlalu berharap virus corona akan musnah pada musim panas.

Dan sikap waspada mereka sangat beralasan. Virus yang menimbulkan Covid-19—yang secara resmi bernama SARS-CoV-2 —terlalu baru sehingga data mengenai korelasinya dengan musim dan cuaca belum benar-benar kuat.

Virus Sars—yang berhubungan erat dengan virus corona baru yang kini mewabah—ditangani dengan cepat ketika menjalar pada 2003 silam. Sebagai konsekuensi, informasi mengenai perilakunya terhadap musim dan cuaca masih terlalu sedikit.

Namun ada beberapa petunjuk dari virus corona jenis lain guna mengetahui apakah Covid-19 merupakan penyakit musiman.

Kajian 10 tahun lalu oleh Kate Templeton dari Pusat Penyakit Menular di Universitas Edinburgh, menemukan tiga jenis virus corona—yang semuanya diperoleh dari beberapa pasien di rumah sakit-rumah sakit dan tempat praktik dokter-dokter di Edinburgh—menunjukkan kemunculan pada “musim dingin”.

Serangan musiman
Virus-virus ini terlihat menjangkiti manusia utamanya antara Desember hingga April—pola yang juga berlaku pada influenza. Virus corona jenis keempat, yang utamanya ditemukan pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang berkurang, jauh lebih sporadis.

Sudah ada beberapa indikasi awal bahwa Covid-19 berubah mengikuti musim. Penyebaran wabah Covid-19 mengindikasikan bahwa penyakit baru ini lebih banyak menyerang dalam kondisi dingin dan kering.

Sebuah analisis yang belum diterbitkan, membandingkan cuaca di 500 lokasi dunia tempat kasus-kasus Covid-19 berlangsung. Analisis ini menilai ada keterkaitan antara penyebaran virus dengan suhu, kecepatan angin, dan kelembaban relatif.

Kajian lain juga memperlihatkan tingginya suhu berkaitan dengan sedikitnya kasus Covid-19. Meski demikian, studi itu mencatat bahwa suhu saja tidak bisa dijadikan patokan atas beragamnya jumlah kasus di dunia.

Riset selanjutnya memprediksi wilayah beriklim dingin dan sejuk adalah wilayah yang paling rentan terpapar wabah virus corona, diikuti wilayah kering.

Adapun wilayah tropis adalah kawasan yang paling sedikit terpapar, menurut sejumlah peneliti. Akan tetapi, tanpa perbandingan data sejumlah musim, para peneliti mengandalkan permodelan komputer untuk memprediksi apa yang terjadi selama setahun ke depan.

Meramalkan kemungkinan mengenai perilaku Covid-19 pada musim cuaca berdasarkan endemi virus-virus corona jenis lain adalah tantangan.

Pasalnya, sifat musiman endemi virus-virus dipengaruhi beragam alasan yang mungkin tidak berlaku pada pandemi Covid-19.

Pandemi dan penyakit musiman
Pandemi kerap tidak mengikuti pola musiman yang sama sebagaimana terlihat dalam wabah-wabah sebelumnya.

Flu Spanyol, misalnya, meningkat pada musim panas. Sedangkan kebanyakan wabah flu terjadi pada musim dingin.

“Pada akhirnya kami memperkirakan Covid-19 menjadi endemi,” kata Jan Albert, profesor pengendalian penyakit menular yang khusus meneliti virus-virus di Karolinska Institute, Stockholm, Swedia.

“Dan akan sangat mengejutkan apabila penyakit tersebut tidak menunjukkan sifat musiman saat itu terjadi. Pertanyaan besarnya adalah apakah sensitivitas virus itu [pada musim] akan mempengaruhi kapasitasnya untuk menyebar dalam situasi pandemi.”

Karenanya, kita perlu berhati-hati ketika menggunakan apa yang kita ketahui mengenai perilaku musiman virus-virus corona jenis lain untuk membuat prediksi pandemi Covid-19.

Namun, mengapa virus-virus corona jenis lain musiman dan mengapa hal itu memberikan harapan dalam wabah saat ini?

Jubah yang tidak tahan panas
Virus-virus corona adalah sebuah keluarga yang disebut sebagai “virus-virus berselubung”. Artinya mereka berselubung dalam jubah berminyak, yang dikenal dengan lapisan lipid, bertabur protein berwujud tonjolan-tonjolan seperti pada mahkota. Itulah mengapa virus-virus ini dinamai corona, yang dalam bahasa Latin berarti mahkota.

Riset pada virus-virus berselubung lainnya menunjukkan bahwa jubah berminyak ini membuat virus-virus tersebut lebih rentan pada panas ketimbang virus yang tidak berselubung.

Dalam kondisi dingin, jubah berminyak mengeras mirip karet atau mirip lemak dari daging yang dimasak matang kemudian dingin. Jubah ini berfungsi melindungi virus ketika virus itu berada di luar tubuh.

Imbasnya, sebagian virus berselubung cenderung menunjukkan perilaku musiman yang kuat Riset telah memperlihatkan virus Sars-Cov-2 bisa bertahan hidup selama 72 jam pada permukaan keras seperti plastik dan baja antikarat dalam suhu antara 21-23 derajat Celsius dan kelembaban relatif 40%.

Bagaimana perilaku Covid-19 pada suhu dan kelembaban lain masih harus diuji, namun riset pada virus-virus corona jenis lain mengindikasikan mereka bisa bertahan hidup selama lebih dari 28 hari pada suhu 4 derajat Celsius.

Ketahanan Sars
Virus corona yang menyebabkan wabah Sars pada 2003 silam juga diketahui punya kemampuan bertahan hidup dalam kondisi sejuk dan kering.

Sebagai contoh, virus Sars kering yang menempel pada permukaan mulus bisa tetap menular selama lima hari pada suhu 22-25 derajat Celsius dengan kelembaban relatif 40-50%.

Semakin tinggi suhu dan kelembaban, semakin rendah kemampuan virus tersebut untuk bertahan hidup.

“Iklim berperan karena mempengaruhi stabilitas virus di luar tubuh ketika dikeluarkan melalui batuk atau bersin, contohnya,” kata Miguel Araujo, peneliti dampak perubahan lingkungan pada keragaman hayati dari Museum Ilmu Alam Nasional di Madrid, Spanyol.

“Semakin lama virus tetap stabil di lingkungan, semakin besar pula kemampuannya untuk menjangkiti orang dan menjadi epidemi. Sars-Cov-2 memang telah menyebar ke seluruh dunia, namun wabah besar umumnya terjadi di tempat-tempat yang terpapar cuaca dingin dan kering.”

Permodelan komputer ciptaannya tampak klop dengan pola wabah di seluruh dunia dengan jumlah kasus tertinggi di luar kawasan tropis.

Araújo meyakini jika Covid-19 punya sensitivitas pada suhu dan kelembaban, itu berarti kasus-kasus virus corona akan meningkat pada waktu yang berbeda di tiap belahan dunia. “Beralasan untuk mengira bahwa kedua virus punya perilaku mirip,” ujarnya.

“Namun ini bukan persamaan satu variabel. Virus ini menyebar dari manusia ke manusia. Semakin banyak manusia di suatu tempat dan semakin erat mereka berkontak satu sama lain, penularan akan semakin banyak.”

“Perilaku mereka adalah kunci untuk memahami penyebaran virus,” tambah peneliti biologi itu.

Kajian dari Universitas Maryland memperlihatkan bahwa virus ini paling banyak menyebar ke sejumlah kota dan wilayah yang suhunya berkisar antara 5-11 derajat Celsius dan kelembaban relatifnya rendah. Namun, jumlah kasus di kawasan tropis tidak juga bisa dibilang sedikit.

Kurang sensitif
Analisis terkini mengenai penyebaran virus corona di Asia oleh para peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Harvard menilai pandemi virus corona kurang sensitif terhadap cuaca sebagaimana diharapkan banyak orang.

Mereka berkesimpulan pertumbuhan jumlah kasus secara cepat di daerah-daerah dingin dan kering di China, seperti Jilin dan Heilongjiang, serta daerah tropis, seperti Guangxi, menunjukkan peningkatan suhu dan kelembaban pada musim semi dan musim panas tidak akan berujung pada penurunan jumlah kasus.

Dan di bagian inilah pemahaman mengenai perilaku musiman penyakit menjadi rumit mengingat perubahan musim pada perilaku manusia juga menimbulkan perubahan pada tingkat penularan.

Kasus-kasus campak di Eropa, sebagai contoh, bertepatan dengan aktivitas sekolah dan menurun saat liburan manakala anak-anak tidak menyebarkan virus satu sama lain.

Mudik besar-besaran saat Imlek pada 25 Januari juga diperkirakan memainkan peranan kunci dalam penyebaran Covid-19 dari Wuhan ke kota-kota lain di China dan seluruh dunia.

Kekebalan musiman
Cuaca juga membuat sistem kekebalan tubuh kita kacau-balau sehingga kita rentan tertular penyakit.

Ada beberapa bukti bahwa kadar vitamin D pada tubuh kita punya pengaruh pada tingkat kerentanan terjangkit penyakit menular.

Pada musim dingin, tubuh kita kurang menyerap vitamin D dari paparan sinar matahari. Utamanya karena kita menghabiskan waktu lebih banyak di dalam ruangan dan menyelubungi tubuh untuk melawan udara dingin.

Namun beberapa kajian menemukan teori ini sepertinya tidak memperhitungkan variasi musiman pada penyakit seperti flu.

Topik paling kontroversial adalah apakah cuaca dingin melemahkan sistem kekebalan tubuh kita. Beberapa kajian menilai anggapan itu benar, namun kajian lainnya menemukan bahwa cuaca dingin sebenarnya meningkatkan jumlah sel yang membentengi tubuh kita dari penyakit.

Bagaimanapun, ada bukti yang lebih kuat bahwa kelembaban bisa punya pengaruh lebih besar pada kerentanan kita terhadap penyakit. Ketika udara kering, udara tersebut dianggap mengurangi jumlah lendir yang menyelubungi paru-paru dan saluran pernapasan.

Lendir tersebut sebenarnya membentuk pertahanan alami terhadap serangan penyakit dan jika jumlahnya berkurang, kita rentan pada virus.

Salah satu penelitian oleh sejumlah ilmuwan di China menengarai semacam hubungan antara tingkay kedahsyatan Covid-19 dan kondisi cuaca.

Jumlah kematian di Wuhan dipengaruhi suhu?
Penelitian tersebut mencermati 2.300 orang yang meninggal di Wuhan—kota di China yang diyakini sebagai asal Covid-19—kemudian membandingkannya dengan kelembaban, suhu, dan tingkat polusi pada hari kematian terjadi.

Meskipun penelitian tersebut belum diterbitkan dalam jurnal akademis, riset mereka menunjukkan tingkat kematian lebih rendah pada hari-hari ketika tingkat kelembaban dan suhu lebih tinggi.

Analisis mereka juga memperlihatkan bahwa pada hari-hari ketika rentang suhu maksimum dan minimum melebar, tingkat kematian lebih tinggi.

Namun riset mereka sebagian besar didasarkan pada permodelamn komputer, sehingga korelasi ini dan apakah itu terjadi di tempat lain di dunia masih harus dijelajahi.

Belum ada bukti perilaku musiman
Karena virus yang menyebabkan pandemi Covid-19 merupakan jenis baru, kemungkinannya tipis bahwa banyak orang punya kekebalan atas virus tersebut sampai mereka tertular dan kemudian pulih.

Itu artinya virus ini akan menyebar, menular, dan menyebabkan penyakit melalui cara yang tidak seperti virus endemi.

Melintas melalui udara selalu menjadi rute utama penyebaran virus di dunia, kata Vittoria Colizza, direktur riset dari Institut Penelitian Medis dan Kesehatan Prancis.

Namun begitu virus mulai menyebar di dalam suatu komunitas, penyebaranya didorong oleh kontak jarak dekat antarmanusia. Menghentikan kontak antarmanusia bisa menurunkan tingkat penularan.

Inilah yang dilakukan banyak pemerintah melalui karantina tempat-tempat umum. “Belum ada bukti Covid-19 punya perilaku musiman. Komponen perilaku mungkin juga punya peranan,” kata Colizza.

Akan tetapi, dia mewanti-wanti bahwa terlalu dini untuk mengetahui apakah langkah-langkah yang diterapkan cukup untuk menghentikan penyebaran virus. “Dengan sendirinya, penyebaran efektif virus ini mungkin berkurang secara parsial karena pengurangan kontak.”

Dan kalaupun kasus-kasus Covid-19 menurun selama beberapa bulan mendatang, itu bisa karena beberapa alasan—langkah pencegahan seperti isolasi dan karantina wilayah berjalan sukses; berkembangnya kekebalan tubuh di antara populasi penduduk; atau memag pengaruh musim sebagaimana diperkirakan dalam permodelan ciptaan Jan Albert.

Waktu untuk berbenah
“Jika ada efek musiman, hal itu bisa menutupi dampak sebenarnya dari dua faktor lain,” tegas Jan Albert, ahli epidemi dari Karolinska Institute di Stockholm.

“Di negara-negara yang menerapkan pemberlakuan karantina secara ketat sehingga tidak banyak orang yang terpapar, saya akan terkejut jika kita melihat gelombang kedua [kasus-kasus Covid-19] pada musim gugur dan musim dingin.”

Kalaupun Covid-19 menunjukkan perilaku musiman, kemungkinan penyakit itu benar-benar musnah di musim panas terbilang tipis sebagaimana dipaparkan sejumlah peneliti.

Bagaimanapun, penurunan jumlah kasus mendatangkan beberapa kelebihan. “Langkah-langkah yang kita ambil untuk menekan kurva begitu mahal dalam konteks ekonomi, namun itu bisa membantu kita mendorong pandemi ini ke musim panas,” kata Albert.

“Jika ada perilaku musiman, sistem-sistem kesehatan akan punya waktu untuk berbenah.”

Di negara-negara yang berupaya dengan keras dalam menghadapi peningkatan jumlah kasus Covid-19, mungkin masa itulah yang benar-benar kita perlukan. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.