Rabu, 29 September 21

Apakah Berpaham Pluralisme adalah Toleran yang Sebenarnya?

Apakah Berpaham Pluralisme adalah Toleran yang Sebenarnya?

Oleh : Ustad Azzam Mujahid Izzulhaq

Pluralisme. Sebuah ungkapan yang sampai saat ini dalam ilmu pengetahuan masih dikotegorikan dalam kata yg ambigu karena ketidakjelasan maknanya (silakan dilihat Webster’s Revised Unabriged Dictionary 1913 + 1828). Bahkan, paham plural (pluralisme) ini dikenal awalnya dari masyarakat penganut agama Kristen Protestan dalam memprotes kebijakan di Katholik. Karena di Katholik sendiri, paham pluralisme ini ditolak (Dekrit Dominus Jesus, Paus Paulus II, tahun 2000).

Dalam agama Hindu pun, sejatinya pluralisme juga tertolak. “Setiap kali orang Hindu mendukung Universalisme Radikal (sebuah istilah pengganti kata pluralisme), dan secara bombastis memproklamasikan bahwa semua agama adalah sama, maka dia sedang di atas kerugiannyg besar dari agama Hindu yg dia katakan dia cintai.” (DR. Frank Gaetanon Morales, cendekiawan Hindu).

Dalam Islam, paham pluralisme ini jelas-jelas dilarang. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menfatwakan dilarangnya pluralisme sejak tanggal 28 Juli 2005 lalu pada Fatwa No.7/MUNAS VII/MUI/II/2005.

Jika mereka beranggapan bahwa pluralisme sama dengan toleransi, nyata-nyata adalah salah. Karena pluralisme berbeda dengan toleransi.

Dalam makna khusus, toleransi adalah meyakini bahwa agama atau keyakinan yg dia anut adalah benar. Kemudian dia beribadah, menjalankan ‘syariat’ agamanya dengan penuh ketaatan. Dan membela serta memperjuangkan eksistensi agama atau keyakinannya tersebut. Kemudian dia MENGHORMATI dan sama sekali tidak mengganggu pemeluk agama atau keyakinan yg lain jika mereka berkeyakinan bahwa agama atau keyakinan mereka adalah benar, menjalankan hingga membelanya. Toleransi adalah ‘lakum dinukum waliyadin’, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Sedangkan pluralisme justru meyakini bahwa semua agama adalah benar. Dalam makna khusus pluralisme adalah suatu paham yg mengajarkan bahwa semua agama adalah sama (benar) dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yg benar sedangkan agama yang lain salah. Berbeda maknanya dengan toleransi, bukan?

Tipis memang perbedaannya. Sehingga dewasa ini, ada sebuah pergerakan yg mencoba merubah makna toleransi sebenarnya menjadi makna pluralisme. Menganggap semua agama adalah benar dan kemudian mencampur adukkan semua ajaran agama dengan mengistilahkan kedamaian, spiritualitas tertinggi, hingga kebhinekaan dan berbagai macam istilah lainnya.

Sekali lagi, toleransi adalah hal yg benar dan memang dicontohkan bahkan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu. Namun, pluralisme adalah hal yg dianggap salah kaprah di hampir semua agama. Sebuah distorsi atas toleransi yg mulia.

Demikian juga dengan ‘Bhineka Tunggal Ika’. Slogan negara kita ini pun sedang disusupi pemahaman maknanya menjadi pemahaman pluralisme. Padahal, para founding fathers kita sepakat bahwa Bhineka Tunggal Ika adalah toleransi dalam lingkup kebangsaan. Bhineka Tunggal Ika adalah berbeda-beda (suku, agama, ras) namun tetap rukun, saling menghormati, saling menghargai dalam bingkai persatuan dan kesatuan Indonesia. Bukan kemudian mencampur-adukkan semuanya dalam satu paham baru yg bernama pluralisme. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.