Jumat, 22 Oktober 21

Anton Medan: Hadapi Kasus Ahok, Dinginkan Pikiran

Anton Medan: Hadapi Kasus Ahok, Dinginkan Pikiran
* Anton Medan.

Jakarta, Obsessionnews.com – Pendakwah Muhammad Ramdhan Effendi alias Anton Medan mengajak semua pihak agar ikhlas menerima hasil  gelar perkara kasus Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Hendaknya masing-masing pihak saling mengimbangi,” ucap pria asal Tebing Tinggi, Medan ini kepada Obsessionnews.com, Jumat (11/11/2016).

Anton menjelaskan, Ahok sudah menyatakan ikhlas ditangkap dan dipenjarkan bila memang bersalah melakukan tindak pidana.

Sebaliknya, pihak-pihak yang membenci Ahok juga harus ikhlas bila ternyata mantan Bupati Belitung itu dinyatakan tidak melakukan pelanggaran pidana.

“Saya sering menyampaikan dalam berbagai kesempatan, bukan hanya soal ini saja, kalau menghadapi sesuatu itu hati boleh panas tetapi kepala harus tetap dingin,” ungkapnya.

Kalau kepala panas juga, lanjut mantan preman yang menjadi mualaf ini, keputusan bisa melahirkan tindakan yang tidak elegan.

Lalu, apa kaitannya dengan kasus Ahok? Anton yang juga Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) menjelaskan, pada dasarnya sama saja.

Bagi yang tersinggung dengan ucapan Ahok, tetap harus berkepala dingin. Dengan demikian akan lebih bisa menghayati makna pengasih dan penyayang dalam penerapannya menyangkut berbagai aspek kehidupan.

anton-medan-soal-ahok-2

Anton yang memiliki nama lahir “Tan Hok Liang” memahami, apabila sebagian orang islam tersinggung dengan ucapan Ahok tersebut, tapi jika memahaminya dengan kepala dinginbagaimana konteks ia berbicara, maka ketersinggungan itu niscaya bisa sirna.

Sisi lain, melakukan perumpamaan secara serampangan juga malah bisa membuat fokus persoalan jadi melebar dan keluar konteks.

Sementara tiap-tiap ayat pun perlu dibaca secara kontekstual, dengan penafsiran yang bermacam-macam.

“Jadi duduk perkaranya bagaimana?” kilah Anton.

Ia memberikan gambaran, telah berkembang semangat kebencian untuk mendesak aparat penegak hukum menangkap Ahok dan memenjarakannya.

Artinya, kata pria berusia 59 tahun ini, proses hukum harus dijalankan dan keadilan harus ditegakkan.

Sementara hanyalah fatwa yang dijadikannya landasan untuk menuntut, sedangkan fatwa bukan landasan hukum, selain sebagai bahan pertimbangan dalam penyelesaian masalah hukum.

“Jadi rancu,” kata Anton.

Apakah Ahok memang bakal terlepas dari jeratan hukum?

“Saya katakan, Ahok sudah menyatakan siap dan ikhlas menerima keputusan untuk ditangkap dan dipenjarakan bila memang bersalah, maka hendaknya pihak yang membenci Ahok juga siap dan ikhlas menerima keputusan bila Ahok dinyatakan tidak bersalah,” pungkasnya. (Popi Rahim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.