Jumat, 10 Juli 20

Anti-LGBT Itu Alami

Anti-LGBT Itu Alami

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

 

Logika paling absurd untuk membela kaum LGBT ialah bahwa kesemuanya itu adalah hak asasi manusia (HAM). Bahwa kesemuanya adalah genetis. Padahal kesemuanya adalah bohong.

LGBT bukan dan tak pernah masalah genetik. Ia adalah penyimpangan dari perilaku yang fitrah. Dan bila dibiarkan maka akan menimbulkan kerusakan, sebab ia menular.

Dari segi biologis sudah jelas, bahwa kelakuan nista ini jadi sumber penyakit dan penyebarannya. Yang lebih utama ialah tidak mungkin keturunan bisa ada bila LGBT ini dipraktikkan.

Karena itulah secara alamiah namanya pasangan itu berbeda jenis kelamin. Secara biologis LGBT merusak fungsi biologis, secara etika menjijikkan, dan dari segi agama, jelas perilaku bejat

Bila LGBT dianggap HAM dengan alasan bahwa negara tak boleh masuk dalam ranah privat, maka besok-besok zina juga bisa dilegalkan HAM dengan alasan suka sama suka.

Namanya penyimpangan artinya harus diluruskan, diperbaiki, bukan kemudian harus diterima seolah HAM. Bahkan dibantu untuk disebarluaskan atau diberikan ruang promosi.

Yang terjebak LGBT, mereka bagian dari objek dakwah, tapi penguasa yang ingin menajdikan ini kewajaran, dan para liberalis promotornya. Ini penjahat yang sebenarnya bagi kemanusiaan.

Islam di Indonesia mayoritas, di atas 85%, dan ulama menyepakati bahwa LGBT ini perbuatan yang keji. Maka bila penguasa membiarkan ini, sama saja memprovokasi umat Muslim.

Lihat di US, setelah LGBT disahkan, muncul pasangan Mom-Mom atau Dad-Dad, adopsi anak setelah mereka bersama. Anda bisa membayangkan apa yang terjadi pada anak-anaknya,

Yang Allah haramkan pastilah sebuah keburukan, pastilah menghancurkan manusia. Sudah diaturkan bahagia itu ada pada berpasang-pasangan dalam taat, tak perlu yang lain.

Bagi kita sekarang, kita harusnya sadar, ini yang terjadi bila Al-Qur’an dan Al-Hadits hanya jadi opsi dalam hukum. Memang umat Muslim itu harusnya dipimpin dengan Kitabullah dan Sunnah.

Senantiasa ada pertarungan antara haq dan bathil, kita telah melalui banyak episodenya, dan lihat pemainnya tetap sama, itu-itu saja. Rapatkan barisan, istiqamahkan diri, terus berdakwah.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.