Senin, 26 Oktober 20

Antara Jokowinomics dan Jokowilitics Meneropong Pilpres 2019 Bag. 2

<span class=Antara Jokowinomics dan Jokowilitics Meneropong Pilpres 2019 Bag. 2">

Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Role model ekonomi pada kepemimpinan presiden Jokowi sering disebut Jokowinomics. Janji ekonomi meroket dan pembangunan infrastruktur menjadi andalan. Meski dolar kian liar sehingga rupiah terkapar. Kritikan dari ahli ekonomi bertubi-tubi. Warning ada krisis kembali menjadi fakta di depan mata.

Lantas, bagaimanakah model politik Jokowi menuju Pilpres 2019?

Tampaknya, Jokowiliticsmembuat pengamat, relawan dan publik berdecak kagum. Last minute menjadi sulit dan di luar prediksi. Santer Mahfud MD dijagokan menjadi cawapres, tapi akhirnya huruf M yang dimaksud adalah Ma’ruf Amin.

Rakyat sebagai publik dan penonton melodrama politik asyik menikmati. Ada yang euforia, pun yang gagal move on. Pilihan politik Jokowi bukanlah atas kehendak pribadinya. Mentor sekaligus tutor Jokowi rasanya ciamik. Manuver yang dibuat sulit ditebak, meski sesama politisi koalisi sudah saling tahu sama tahu. Presiden Jokowi tidaklah berdiri sendiri. Terdapat partai politik pengendali utama, king maker dan penggelontor dana.

Beberapa peristiwa yang membuat dag-dig-dug publik terkait spekulasi ketidakkonsistenan pilihannya. Seperti, pertama, cawapres KH Ma’ruf Amin jika tidak lolos kesehatan bisa digantikan dengan yang lain. Tentu ketua parpol koalisi yang berhasrat tinggi. Seperti Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy dan Airlangga Hartanto. Bisa pula dari kader pilihan PDI Perjuangan atau orang yang tak pernah terduga sebelumnya.

Kedua, sebagai presiden petahana dan telah mengumumkan pencalonannya jauh-jauh waktu. Kalkulasi dan mesin politik sudah disiapkan secara matang. Hierarki dukungan telah digalang dari pusat hingga akar rumput. Terlebih, mampu menggunakan struktur kekuasaan. Hal ini terlihat dari pergantian pejabat negara dan konsolidasi antar kekuatan politik.

Ketiga, lawan tanding yang sama di tahun 2014 tentu membuat tim Jokowi akan mengulangi kerja yang sama. Bisa dengan sedikit modifikasi agar terlihat elegan dan jauh dari kesan brutal. Sebab, selama ini serangan kubu oposisi gagal dijawab secara rasional.

Keempat, semenjak keterpilihan Jokowi-JK 2014, kekecewaan publik tumpah ruah. Prediksi usia pemerintahan Jokowi 2 tahun tak terbukti. Justru, goncangan politik menambah keradikalan pendukung setia Jokowi dan lingkaran kekuasaan. Walhasil, Jokowi bertahan dan menuntaskan satu periode.

Kelima, sempat melontarkan politik harus dipisahkan dari agama. Hal ini menuai banyak kritik dan serangan pada pribadi dan partai pendukung Jokowi. Lantas, di lain waktu berbicara politik tidak bisa dipisahkan dari negara. Buktinya kian jelas, Jokowi mendekati ulama, sowanke pesantren dan tokoh keagamaan, dan pilihan cawapresnya KH Ma’ruf Amin.

Keenam, memahami model politik demokrasi rezim pasca reformasi kian liberal dan brutal. Penerapan lebih pada demokrasi proletar. Benar penguasa tidak bertindak otoriter, namun kebijakannya dirasakan sangat memberatkan rakyat. Kaidah konstitusi dan aturan sering dilabrak demi kepentingan sesaat.

Jokowilitics menjelang Pilpres 2019 kian tampak jelas. Kekuasaan kursi kepresidenan harus direbut kembali. Mencoba mengulangi sejarah sebagai hope leader seperti yang dicitrakan di awal. Publik yang memahami segala bentuk kebijakan dan merasakannya memang terbelah. Ada yang pro dan kontra. Inilah dinamika dalam politik.

Pilpres 2019 sudah berjalan. Di tengah itu, Indonesia di ambang krisis. Nilai tukar rupiah kalah. Gempa dan bencana melanda. Korupsi terus berjalan beriringan dengan pergantian kepemimpinan. Semoga, Pak Jokowi secara pribadi sebagai anak bangsa mampu memahami dan memiliki hati nurani.

Urusan negeri ini sangat berat. Maka berfikir jernih dan kontemplasi dibutuhkan oleh seorang politisi sejati. Sudah siapkah mempertanggungjawabkan amanah kepemimpinan di hadapan Allah SWT? Jangan lagi rakyat dibuat bersedih dan menangis, ketika pemburu kuasa itu berebut jabatan yang bisa menghinakan manusia.

Rakyat akan bisa menilai kapasitas Jokowilitics. Rakyat juga manusia yang berfikiran waras. Jika dirasa selama kepemimpinan dianggap mampu membawa setitik perubahan, secara suka rela rakyat memilihnya. Sebaliknya, jika rakyat sudah menghendaki pilihan lainnya, apa mau dikata. Walaupun langit runtuh, jika sudah waktunya maka keputusan Allah akan terjadi dengan dipergilirkan kekuasaan itu. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.