Rabu, 21 Oktober 20

Anne Patricia Sutanto Pantang Menyerah dan ‘Positive Thinking’

Anne Patricia Sutanto Pantang Menyerah dan ‘Positive Thinking’
* Vice CEO PT Pan Brothers Anne Patricia Sutanto,

Integrity dan Commitment adalah Back Bone dari Pertumbuhan PT Pan Brothers Tbk & Group.

 

Meskipun lahir dari keluarga berada, kehidupan Vice CEO PT Pan Brothers Tbk & Group Anne Patricia Sutanto tidak selalu berjalan mulus. Sejak ayahnya terkena stroke dan meninggal dunia, dia pun diandalkan untuk meneruskan bisnis keluarga yang pernah sempat mau bangkrut ini dengan prinsip hidup pantang menyerah dan positive thinking, hingga akhirnya perusahaan tetap bisa eksis dan membesar.

Selain Pan Brothers, peraih Master of Business Administration (MBA) di bidang keuangan dari Loyola Marymount University, Los Angeles, Amerika Serikat ini juga menjadi presiden direkturPolymindo Perdana, Indo Veneer Utama, dan Pancaprima Eka Brothers. Sekaligus masuk dalam jajaran direksi Homeware International Indonesia, Nine Square Indonesia, dan Central Energy Pratama.

Rekam jejak internasional telah dimiliki Pan Brothers dengan melayani merek dagang internasional, seperti Uniqlo, Calvin Klein, Adidas, The North Face, Kathmandu, Lacoste, Salomon, Arcteryx, Columbia, Prada, H&M, Express, dan lainnya. Jumlah pabriknya pun sampai sekarang sudah mencapai 25 tersebar di delapan titik di Tanah Air.

PT Hollit International kemudian diakuisisinya, yaitu sebuah perusahaan sales agent berjaringan luas di seluruh dunia. Dia berkata, “Perseroan kemudian mengubah visi bisnis dari integrated world wide garment manufacturer menjadi apparel supplier, selengkapnya menjadi ‘To be an integrated and worldwide apparel supplier Company’ dengan moto ‘Clothing The World With Indonesian Heart’.

Ruang lingkupnya pun jadi lebih luas, mulai dari hulu hingga hilir, tidak hanya fokus di manufaktur. Karena produk garmen sangat beragam dengan konsep garment supplier, perusahaan bisa memasok garmen ke seluruh dunia untuk pakaian.”

Bagi perusahaan dengan USD income pelemahan rupiah memberikan keuntungan, termasuk Pan Brothers, dikarenakan pasar perusahaan yang fokus pada ekspor.

Namun, peluang ekspor tidak hanya bisa dilihat dari adanya keuntungan kurs, tapi juga sisi trade agreement termasuk FTA baik bilateral maupun multilateral yang ditanda tangani G to G, undang-undang tenaga kerja yang lebih kompetitif, infrastruktur, dan lain-lain.

“Untuk urusan garmen dan tekstil, Indonesia memiliki kompetitor di ASEAN, seperti Vietnam, Kamboja, dan Myanmar yang terlihat tumbuh pesat. Kami terus mengadakan perbincangan dengan instansi terkait dan berharap bilateral agreement dengan European Union atau EU dapat segera terwujud.

“Agar bisa kompetitif, karena kami secara platform untuk garmen maupun tekstil sama dengan negara seperti Vietnam dan berharap melalui Apindo maupun KADIN bisa membantu mewujudkan liberalisasi dengan EU,” ungkap Anne serius.

Dilihat dari kinerja kuartal I 2018, Pan Brothers mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7,1% menjadi US$107,4 juta dari US$100,2 juta pada periode yang sama tahun lalu. Hingga akhir tahun, perseroan menargetkan penjualan tumbuh 15% dari realisasi tahun lalu sebesar US$549,3 juta dan untuk laba bersih juga diharapkan tumbuh 15% sebagai bentuk stabilitas. (Elly Simanjuntak)

Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2018.

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.