Sabtu, 19 Oktober 19

Anne Patricia Berbisnis dengan Pendekatan Holistik

Anne Patricia Berbisnis dengan Pendekatan Holistik
* Vice President Pan Brothers Tbk  Anne Patricia. (Foto: Edwin Budiarso)

Saingan utama Indonesia bukan suatu negara tertentu, tapi komitmen yang gigih dan konsisten untuk mengembangkan industri garmen dan tekstil.

Memasuki kuartal kedua 2019, perkembangan bisnis PT Pan Brothers Tbk semakin berkibar. Adalah Anne Patricia, sang vice president yang turut berperan di baliknya. Didukung oleh forecast yang sudah diberikan jauh lebih dulu dan dari indikasi pesanan yang masuk, fill rate salah satu perusahaan garmen terbesar di Indonesia ini sudah terpenuhi.

“Harapan kami tidak ada masalah yang signifikan untuk bahan baku dan logistik, sehingga target yang sudah direncanakan bisa on track dan diharapkan tercapai,” tuturnya.

Sebagai badan usaha yang berorientasi pada kegiatan ekspor, Pan Brothers selalu berpikir ke depan dan proaktif. Kekuatan utamanya adalah fokus dengan komitmen kepada tiap pelanggan (brands dan retailers). Mereka tentunya memerlukan penanganan berbeda dari waktu ke waktu, sesuai dengan perkembangan penjualan maupun situasi pasar dunia.

Namun demikian, peningkatan tidak henti dilakukan, terutama terhadap sumber daya manusia. Kurang tersedianya tenaga kerja level menengah ke atas yang mumpuni di Indonesia sering kali menjadi kendala pengembangan industri yang lebih cepat. Jadi, tidak bisa dipungkiri bahwa kita sering kali membutuhkan tenaga kerja asing untuk mengatasinya.

Selain itu, peningkatan fasilitas dan infrastruktur juga diperlukan, karena perusahaan memiliki prinsip pendekatan holistik kepada supply chain yang merupakan stakeholder mereka.

“Inovasi, kreativitas, pemikiran maju dan positif, menjadi motto kami dalam merencanakan dan menciptakan supply chain Pan Brothers. Berhubung saat ini teknologi adalah sesuatu yang bisa membantu dan memudahkan dalam merealisasikan rencana perusahaan, kami juga menitikberatkan rencana untuk selalu mengembangkan value added dengan teknologi termutakhir,” urai perempuan yang telah malang-melintang di industri garmen selama belasan tahun ini.

Anne mengungkapkan kalau Pan Brothers terus merealisasikan dan merencanakan pengembangan, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Bagi kami, rencana jangka pendek, menengah, maupun panjang, semua menuju misi kami, yaitu ‘Clothing the World with Indonesia Heart’,” ungkap perempuan yang selalu menyempatkan diri untuk membaca ini.

Dalam implementasi rencana dan strateginya, kemampuan beradaptasi sangatlah diperlukan agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi pasar global maupun dalam negeri.

Berbicara mengenai perkembangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), Anne mengatakan bahwa market share Indonesia di dunia baru 1,8%. Masih sangat banyak ruang untuk perkembangan dan juga peluang merebut pangsa pasar tersebut. TPT Indonesia bisa mencapai 5% bahkan 10% dalam satu, hingga dua dekade ke depan, apabila semua lini, maupun stakeholders mau berkomitmen dan berpikir maju. Kuncinya adalah bersatu untuk tujuan yang sama.

Saingan utama Indonesia bukan suatu negara tertentu, tapi komitmen yang gigih dan konsisten untuk mengembangkan industri garmen dan tekstil. Seluruh pihak, baik pemerintah, pengusaha maupun pekerja perlu berkolaborasi membangun industri TPT, sehingga menghasilkan produk dengan harga dan kualitas yang kompetitif.

Namun demikian, ada beberapa negara yang memiliki market share lebih besar dari Indonesia, seperti Cina, Vietnam, maupun Bangladesh juga perlu dipertimbangkan.

Cara paling sederhana dan cepat dalam mengejar ketertinggalan, menurut Anne, adalah benchmarking Indonesia dengan negara-negara yang menguasai pangsa pasar Industri TPT. Di mana kekuatan mereka dan kelemahan kita, lalu bagaimana meminimalisasi atau mengeliminasi kekurangan tersebut.

Sebagai contoh, perlu dikaji strategi rencana dan realisasi Free Trade Agreement (FTA) secara bilateral dan multilateral dengan berbagai negara. Lalu, bagaimana merealisasikannya secara cepat dan tepat. Kemudian fokus juga pada pembangunan supply chain yang membutuhkan regulasi internal yang kondusif. Dari sisi perizinan untuk kemudahan berbisnis dibutuhkan pula undang-undang tenaga kerja yang lebih kondusif. Sementara dari sisi pajak perlu reformasi, sehingga kesatuan kekuatan ini bisa memberikan nilai tambah.

“Dengan demikian, industri TPT Indonesia memiliki kekuatan dan kesempatan yang bagus dalam menyajikan strategi penjualan kepada Global Brands maupun Retailers yang selalu mengedepankan sustainability,” pungkasnya dengan antusias mengakhiri wawancara dengan Women’s Obsession. (Nur Asiah)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession Edisi Agustus 2019 dengan tema “17 Perempuan Tangguh 2019”

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.