Sabtu, 28 Mei 22

Animal Anology: Inovasi Pintar untuk Hewan Peliharaan

Animal Anology: Inovasi Pintar untuk Hewan Peliharaan
* Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, mengembangkan sebuah alat untuk mengidentifikasi dan menampilkan data rekam medis hewan.

Yogyakarta – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, mengembangkan sebuah alat untuk mengidentifikasi dan menampilkan data rekam medis hewan. Ide ini berawal dari kesulitan klinik hewan dalam mengidentifikasi setiap hewan yang berkunjung untuk rawat inap.

“Produk kami berupa kalung hewan yang dilengkapi dengan RFID. Ada beberapa komponen yang digunakan, yaitu arduino dan modul RFID reader sebagai pendeteksi, sedangkan untuk menampilkan data medisnya menggunakan aplikasi visual studio,” kata Ketua tim pengembang, Rafika Nur Azizah.

Rafika mengembangkan produk ini bersama dengan keempat rekannya, yaitu Rani Rismayani dan Tanatsa Fahma Al-Husna, mahasiswa Prodi Rekam Medis, Avita Putri W, mahasiswa Prodi Kesehatan Hewan, serta Aditya Bagus K, mahasiswa Prodi Teknik Fisika, di bawah bimbingan Savitri Citra Budi, S.K.M., M.P.H.

Inovasi yang diberi nama Animal Accesories Technology atau disingkat Animal Anology ini dikembangkan dengan memanfaatkan dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Teknologi (PKM-T) 2018. Perangkat ini, menurut para mahasiswa, merupakan terobosan baru di bidang rekam medis hewan karena belum pernah ada sebelumnya.

Animal Anology memudahkan praktisi kesehatan hewan dalam melihat informasi kesehatan hewan. Hal ini jelas lebih mudah dibanding jika harus mencari di database satu per satu. Selain itu, informasi mengenai vaksinasi serta pengobatan juga dapat ditampilkan sehingga dapat mempermudah untuk pengobatan yang akan diberikan selanjutnya,” imbuh Rani Rismayani.

Ia menjelaskan, Radio Frequency Identification (RFID) yang digunakan dalam perangkat ini merupakan sebuah metode identifikasi dengan menggunakan sarana yang disebut label RFID untuk menyimpan dan mengambil data jarak jauh. RFID terdiri dari sebuah chip yang dilengkapi dengan sebuah antena pada RFID tag sehingga dapat mengambil data dari jarak jauh.

Untuk melihat data kesehatan hewan, praktisi kesehatan cukup mendekatkan RFID tag yang sudah disisipkan pada kalung hewan tersebut ke RFID reader maka data rekam medis hewan akan otomatis muncul.

“Praktisi kesehatan hewan juga dapat mengubah dan menyimpan data, namun riwayat rekam medis hewan terdahulu akan tetap tersimpan sehingga hal ini memudahkan praktisi kesehatan hewan untuk melihat bagaimana riwayat kesehatan hewan tersebut apakah hewan itu alergi atau tidak, pengobatan yang pernah diberikan apa saja,” jelasnya.

Hingga saat ini, Animal Anology telah digunakan untuk kucing dan anjing dan mendapat respons yang baik dari mitra klinik hewan serta pemilik hewan. Oleh karena itu, Animal Anology memiliki potensi yang besar untuk terus digunakan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Diharapkan produk ini dapat membantu penyedia jasa pelayanan kesehatan hewan di Indonesia.

“Produk ini dapat memberikan beberapa keuntungan bagi praktisi kesehatan hewan, di antaranya efisiensi ruang penyimpanan, meminimalkan ketidaklengkapan pengisian informasi kesehatan hewan, serta memiliki tampilan yang menarik. Kami juga mewawancarai owner dan mereka setuju alat ini tidak hanya memudahkan untuk mitra saja tetapi juga untuk owner,” tutur Rani. (Humas UGM/Gloria)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.