Senin, 18 Januari 21

Anies Baswedan Siap Ubah Jakarta

Anies Baswedan Siap Ubah Jakarta
* Anies Baswedan. (Foto: Sutanto/Obsession Media Group)

Tanggal 19 April 2017 akan menjadi momentum tersendiri bagi Anies Rasyid Baswedan dalam perjalanan kareir dan  pengabdiannya. Memimpin DKI Jakarta atau tetap menjadi guru. Pastinya tekadnya menjadi ‘pelita’ tidak akan pernah padam.

Semula selepas tak lagi menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tak terpikir kalau ia akan maju dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun 2017.

“Kalau orang tidak bermasalah hanya membayar pajak, siapa yang mengelola uang pajak? Kalau ada orang tak bermasalah masuk politik, kenapa dipermasalahkan?” ujarnya sembari tersenyum.

Karena itulah mantan ketua Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini siap maju sebagai calon Gubernur DKI, karena Jakarta perlu diubah dan dirinya tidak menolak jika diminta mengambil tanggung jawab tersebut. Ada filosofinya dalam ‘bertarung’ di Pilkada ini yaitu tidak melihat kandidat lain sebagai lawan.

“Lawan bukan musuh. Lawan apapun sejatinya adalah teman. Lawan debat adalah teman berpikir. Lawan bertanding adalah teman bermain,” imbuh Anies.

Anies yang berpasangan dengan pengusaha muda papan atas, Sandiaga Uno melihat ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dari Jakarta selain soal pembangunan fisik. Hal itulah yang menjadi dasar kenapa ia harus memutuskan untuk tampil sebagai kandidat gubernur.

“Kota ini adalah kota proklamasi, pusat kegiatan perekonomian, dan kota metropolitan ini harus bisa menjadi kota yang suasananya menyenangkan, suasananya bersahabat. Bukan saja bangunannya dibangun dengan tepat waktu, bukan saja kita memastikan fisiknya baik, tapi juga budayanya baik, masyarakatnya baik,” ujar Anies.

Dia  akan meneruskan semua bangunan-bangunan fisik. “Tapi yang tidak kalah penting kita ingin bangun budayanya, kita ingin bangun kualitas pendidikannya, kesehatannya,” ujar pengagas gerakan Indonesia Mengajar itu.

Anies tidak sekadar maju. Dia punya konsep dan program yang juga lebih maju. Bahwa fokus programnya adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan pembangunan infrastruktur, itu tak terbantahkan. Namun demikian, ketersediaan lapangan kerja, pengendalian harga bahan pokok, serta ketersediaan air bersih di Jakarta juga menjadi isu utama jika berhasil memenangkan Pilkada DKI 2017.

“Masalah yang paling sering disebut adalah nomor satu macet, banjir, tapi masalah nggak hanya itu. Harga bahan pokok, kesempatan kerja, dan masalah pembangunan manusia, kami bukan memperbaiki kota tapi memperbaiki warga kotanya,” ucapnya lagi.

Dalam memperbaiki kota dan warganya, Anies membawa program orisinal untuk diimplementasikan kelak seperti pengadaan rumah dengan skema KPR tanpa uang muka yang menghebohkan. Namun buat Anies programnya itu sangat realistis. Bahwa belum dikemukakan secara mendetail, tentu karena itu adalah sebuah program yang akan disampaikannya pada saat yang tepat.

“Rumah itu ada dua bentuk ada yang rumah tapak ada yang rumah susun. Karena itu kita katakan ini adalah bukan rumahnya, tapi ini pembiayaannya,” katanya. Bukan berarti dirinya akan membuat perumahan.

Ini adalah program bantuan dari pemerintah agar warga Jakarta mudah memiliki aset rumah. Anies kembali menegaskan, melalui program ini pemerintah nantinya akan membantu masyarakat untuk memiliki aset rumah. Bantuannya itu, berupa rumah tanpa uang muka.

“Jadi jangan sampai diasosiasikan ini program membuat rumah. Enggak, kami enggak buat rumah. Ini program pembiayaan. Nanti bisa lihat ada KPA, KPR ada macem-macem,” pungkasnya.

Program tersebut didukung oleh mantan Ketua YKPP (Yayasan Kesejahteraan Perumahan Prajurit) Marsda Tumiyo. “Kami sebagai pengamat perumahan, dan dengan pengalaman meng-KPR-kan Prajurit TNI-Polri dari tahun 2006 ssampai 2009 justru mendukung pola ini. Pola itu sudah kami lakukan dimana Prajurit TNI-Polri dalam KPR tidak keluar uang sepeser pun, bahkan untuk Angsuran Pertama pun tidak keluar uang. Oleh sebab itu, pola atau jargon pasangan Anies-Sandi perlu didukung. Sebetulnya pola ini sudah berjalan sejak 1984, dimana Prajurit yang mau KPR tidak perlu siapkan Uang Muka,” tandas dia.

Mengadopsi Pemikiran Bung Hatta

Memang, kalau diperhatikan, hampir sebagian besar program unggulannya sejalan dengan pemikiran proklamator Muhammad Hatta, yakni  memiliki unsur gotong royong yang dikenal sebagai pondasi pertama yang diletakkan Bung Hatta.

Melalui program-program unggulan dengan pendekatan gerakan untuk membangun Jakarta, Anies berkomitmen menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh warga ibu kota. Pendekatan gerakan sudah lebih dulu dicetuskan oleh Bung Hatta.

Selain program dengan pendekatan gerakan, Anies mengatakan program ekonomi kerakyatan yang diusung Anies-Sandi juga terinspirasi dari pemikiran-pemikiran Bung Hatta. Menurut dia, ketimpangan yang ada di Jakarta karena sistem ekonomi yang hanya berpihak pada sebagian orang, bukan kebanyakan warga Jakarta.

“Karena itu kami membuat program One Kecamatan One Center of Entrepreneurship atau OK OCE sebagai jawaban untuk mengatasi ketimpangan, terutama ketimpangan kesempatan dalam lapangan pekerjaan,” tuturnya.

Program pendidikan yang diusung  Anies-Sandi, kata Anies, juga terinspirasi dari prinsip pendidikan Bung Hatta. Menurut dia, Bung Hatta sangat fokus pada pendidikan. Bung Hatta pernah berkata bahwa setiap pemimpin adalah pendidik dan seorang pendidik adalah pemimpin.

Pesan untuk Warga

Lolos dalam Pilkada putaran kedua tak lantas membuat Anies dan Sandi jumawa.  Baginya, ini merupakan langkah selanjutnya untuk mewujudkan tekadnya membangun Jakarta dan karenanya, ia selalu berpesan kepada seluruh warga pendukungnya untuk menjaga perdamaian dan keamanan pada saat masa kampanye. “Jika kita mendapat kecaman mari sambut mereka dengan salam dan senyum persahabatan. Sambut juga dengan salam, kami mengundang persatuan, kami tak ingin ada pecah belah di Jakarta,” tuturnya.

Tak hanya menjaga keamanan, Anies juga berjanji akan menciptakan suasana bahagia, santun dan nyaman bagi warga Jakarta apabila dirinya beserta pasangan dipercayakan untuk menjadi orang nomor satu di Ibu Kota.

Mantan Rektor Universitas Paramadina itu menyatakan, sudah bukan saatnya Ibu Kota tidak terpecah belah oleh oknum yang memprovokasi. Baginya, pesta demokrasi saat ini adalah ajang untuk berlomba memberikan ide dan kerja nyata.  “Mari kita membawa pembaruan itu, kalaupun  menang tanpa harus sebarkan kebencian” tegasnya.

Warisan dari Kakek

Anies dikenal sebagai sosok yang dikenal memiliki kemampuan berorganisasi, berbicara dan pidato. Dan, apa yang menjadi talentanya itu tak lain adalah warisan berharga dari Sang Kakek, Abdurahman Rasyid yang akrab disapa AR. AR adalah aktivis Muhammadiyah, maupun sebagai kader bangsa terbaik yang pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan pada Kabinet Sjahrir III. Anies sangat dekat dengan kakeknya sampai meninggalnya sang kakek.

Saat kecil Anies dijuluki si “kemlinthi” atau orang yang penuh lagak. Kalau ngobrol, ia menatap tajam lawan bicaranya dan petantang-petenteng. Kemlinthi-nya sedikit berkurang ketika mendapatkan adik perempuan bernama Haiva atau dipanggil Eva.

Kemlinthi bagaimanapun ia tetap mendapatkan kasih sayang dari semua anggota keluarga. tak pernah ada hardikan atau pernyataan bernada negatif terhadapnya. Toh hanya kenakalan anak kecil, bukan perkara serius. Anies juga kerap bertanya bila melihat sesuatu yang menarik. Dan mereka menjawab semua keingintahuan Anies.

Bahkan keluarganya mermbiasakan dan mentradisikan untuk berbeda pendapat. Ketika malam-malam, tak jarang terjadi perdebatan di meja makan. Anies kecil melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ayahnya mengalahkan argumentasi kakeknya dengan elegan. Tak ada kata-kata kasar atau intimidasi yang terlontar. Semuanya dilakukan dengan santun. Setiap orang memiliki hak berpendapat dan masing-masing berbesar hati mendengarkan argumentasi orang lain.

Pengalaman ini menjadi bekal Anies kelak untuk lebihj bisa mengungkapkan gagasan dengan baik dan menghormati pendapat setiap orang.

Usia tiga tahun, meski belum cukup umur, Anies masuk taman kanak-kanak , mulanya TK Aisyiah Bustanul Athfal Gedongtengten, lalu pindah ke TK Masjid Syuhada. Saat inilah kedua orangtua Anies, Rasyid dan Aliyah mulai memupuk kemandirian Anies. Mereka hanya sesekali mengantar Anies ke sekolah. Setiap hari, tukang becaklangganan yang akan mengantarnya dan dengan motornya, diam-diam, Aliyah mengikutimya. Tak seperti teman-temannya, tak ada yang menungguinya, Anies tak pernah merengek meminta diantar.

Anies adalah aktivis sekolah bahkan dari SD, dan memuncak ketika menjadi Ketua Osis di SMAN 2 Jogjakarta, tak hanya berprestasi, ia juga terbuka, ramah dan mampu bergaul dengan semua kalangan.

Semasa kecil kegemaran Anies akan bacaan dan mengklipling artikel membuatnya mengerti banyak hal dan berpengetahuan luas. Ini tidak lepas dari kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai dosen dalam membimbingnya sewaktu kecil. Atas kegemarannya itu ia mampu menulis sebuah essay yang mengantarkannya ikut pertukaran pelajar AFS ke Amerika Serikat. Anies juga sudah menjadi “selebritis” waktu SMA karena terlibat menjadi Host dari acara Tanah Merdeka, yang membuat Anies bertemu dengan orang – orang penting pada jaman itu.

Pada masa remaja Anies juga aktif dalam kegiatan jurnalistik salah satunya dengan menjadi pewawancara di acara tanah Merdeka yang dulu disiarkan di TVRI. Semasa kuliah ia aktif berorganisai dan menentang rezim soeharto lewat demo-demo dan tindakannya.

Kepiawaian dakam berorganisasi membuat Anies akhirnya terpilih menjadi Ketua umum Senat Mahasiswa UGM tahun 1992, yang lebih penting dari itu Anies membuat gebrakan – gebrakan dengan idealisme kampus bersih dari pengaruh perpolitikan, dengan menentang Rektor UGM pada zaman itu, Mochammad Adnan menjadi Caleg Golkar. Didalam bab ini pula diceritakan pergolakan – pergolakan, persaingan dan ketidaksepahaman di organisasi Mahasiswa dan Anies bisa ikut untuk mencarikan solusi bagi permasalahan – permasalahan itu, bahkah Anies pernah diteror dan diancam dibunuh ketika harus berurusan dengan Satuan Tugas Keamanan DPD Golkar.

Anies juga seorang yang gemar menulis yang akhirnya menghantarkannya dapat berangkat ke Jepang(Sophia University) dan tinggal di Kawasaki, daerah industry di bagian selatan Tokyo, pulang dari sana Anies tetap kritis terutama memprotes pembredelan media seperti Tempo, Detik dan Editor.

Tenun Kebangsaan

Anies merupakan salah satu dari sedikit anak muda yang merasa terpanggil untuk ikut membangun bangsa, tanpa banyak gembar-gembor, tanpa berteori muluk-muluk, dan tanpa mengharapkan bantuan pemerintah.

Tokoh pendidikan ini dikenal dengan pembawaannya yang tenang, murah senyum dan bersahaja. Baginya, membangun pendidikan adalah cara yang paling efektif untuk membangun sebuah peradaban suatu bangsa. Bagi Anies, pendidikan adalah kunci. “Mau membangun bangsa, bangun manusianya”

Kunci dari pembangunan bangsa, menurut Anies dimulai dari pembenahan pendidikan di sekolah dasar. Untuk itulah ia menggagas Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) dengan menghimpun anak muda yang pintar, terdidik, berkarakter kuat, untuk mengabdi selama setahun di berbagai pelosok tanah air sebagai guru SD. Ini disebut sebagai “Melunasi Janji Kemerdekaan”, karena pada pembukaan UUD 1945 salah satu butirnya tertulis kemerdekan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menurut Anies ini bukan tugas pemerintah semata-mata, tapi kewajiban kita semua yang telah terdidik membantu saudara-saudara kita yang belum terdidik. Lumayan mengharukan membaca bagaimana GIM mampu menggugah ribuan sarjana terbaik kita, yang telah berkarir cemerlang di perusahaan multinasional dengan gaji tinggi, untuk ikut seleksi pengiriman guru ke pelosok yang uang sakunya kecil.

Anies berhasil memotivasi anak muda, bahwa tidak semua hal harus diukur dengan uang. Justru melihat mata anak-anak desa yang berbinar karena bisa lancar membaca, menulis dan berhitung sambil menanamkan karakter dan pemahaman toleransi antar sesama, meski berbeda suku dan agama, adalah kebahagiaan dan kebanggaan yang tak ternilai harganya. Anies bukan anak kemaren sore.

Dapat beasiswa untuk program master dan doktor di Amerika Serikat, menjadi peneliti, dan menjabat Rektor Universitas Paramadina sejak tahun 2007-2015 (menjadi rektor termuda di usia 38 tahun ketika itu), adalah beberapa prestasi Anies.  (Gyattri Fachbrilian/Sahrudi)

Artikel versi cetak dapat dibaca di Majalah Men’s Obsession edisi Maret 2017.

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.