Sabtu, 25 September 21

Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 3

Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 3
* Angeline

Jakarta, Obsessionnews – Hari itu, Minggu, 17 Mei 2015, sebuah posting ditayang di laman media sosial facebook berjudul “Find Angeline-Bali’s Missing Child.” Postingan dilengkapi sejumlah foto gadis cilik berusia sekitar delapan tahun yang begitu cantik. Rambutnya yang hitam pekat, indah tergerai lepas dengan senyum manis di bibirnya yang mungil.

14screen_shot_2015-06-03_at_1.35.51_pm

Dialah Angeline, gadis malang penghuni lubang gelap yang nyaris terlupakan oleh waktu. Adalah kakak angkat Angeline, Christina dan Ivon, yang mengumumkan hilangnya Angeline pada laman Facebook mereka.

Keduanya mengajak masyarakat luas untuk ikut mencari Angeline. Gadis cilik itu dilaporkan terakhir kali terlihat bermain di halaman rumahnya pada 16 Mei 2015. Esoknya, keluarga angkat Angeline secara remi melapor ke Kepolisian Sektor Denpasar Timur.

Polisi pun memeriksa sejumlah saksi, yaitu Margareth sang ibu angkat, Antonius (pembantu sekaligus penjaga rumah), dan seorang penghuni kontrakan milik Margareth bernama Susianna. Berita yang tadinya biasa-biasa saja, berkat perhatian media massa dan media sosial, perlahan membesar dan menjadi isu nasional. Angeline menjadi populer, tapi dalam perspektif duka.

18702_16395_anak-hilang-Angelina,-Ibu-aPolda Bali lantas memperluas pencarian ke seluruh perbatasan Bali, Banyuwangi, hingga Nusa Tenggara Barat. Mereka berkali-kali memeriksa rumah Margareth. Namun baru pada pemeriksaan ketiga polisi bisa masuk karena sebelumnya selalu dihalang-halangi pemilik rumah.

Hari-hari berlalu, hasilnya tetap nihil. Akan tetapi kasus anak hilang Angeline terlanjur membesar. Terutama ketika mulai muncul pertanyaan kenapa orang tua angkat Angeline terkesan menghalang-halangi petugas.

Sampai-sampai Ketua Komnas Perlindungan Anak Ariest Merdeka Sirait merasa harus turun mengunjungi rumah Margareth pada malam hari. Berhasil. Ariest bisa menengok kamar tidur Margareth yang juga sering dipakai Angeline. Ia terkejut menemukan fakta bahwa rumah itu tak layak huni karena acak-acakan, kotor, dan bau kotoran hewan.

Di kamar tidur, Ariest mengaku mencium bau anyir yang berbeda dengan bau kotoran hewan. Tidak ada seprei terpasang di tempat tidur. Margareth tak membiarkan Ariest berkeliling halaman, membuatnya kian curiga. Kecurigaan itu segera ia laporkan ke polisi.

Kasus hilangnya Angeline terus membesar di media massa dan media sosial. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, ikut turun untuk menyambangi rumah kediaman Angeline dalam kesempatan berbeda.

Namun, lagi-lagi, Margareth tak bersikap kooperatif. Kedatangan keduanya ditolak oleh keluarga Angeline. Wawancara dengan pers di depan rumah pun tidak diizinkan. Memicu kecurigaan yang kian membuncah.

Kepala Sekolah SDN 12 Sanur, Ketur Ruta, yakin Angeline segera ditemukan. Berdasarkan petunjuk yang didapatkannya dari paranormal, Angeline dalam kondisi baik, mengenakan pakaian seadanya, tapi terlihat bahagia. Menurutnya, dalam kacamata spiritual Bali, Angeline adalah anak yang disayangi makhluk astral. Ia dibawa oleh Ratu Niang Datu yang sangat menyayanginya.

Pemberitaan kian meluas, memicu guru-guru dan murid-murid SDN 12 Sanur Bali untuk menggelar sembahyang di depan Pura Penyimpangan Batu Bolong, tepat di depan rumah Angeline. Persembahyangan ala Hindu digelar untuk meminta petunjuk dewata.

Tak peduli suara gonggongan anjing milik Margareth, para guru dan murid tampak khusyuk bersembahyang berharap dewata memberi petunjuk keberadaan Angelina. Dalam kekhusyukan ritual itu, sejumlah guru merasa mendengar suara lirih seorang gadis kecil, “Maaaa…! Mamaa..!”

Suara itu membuat para guru mulai berteriak mencari-cari. “Angeline.. Angeline…! Di mana kamu? Pulang nak.. kami merindukanmu!” ujar seorang guru dengan wajah tegang.

0Namun Angeline tak menyahut. Ia bahkan tak mungkin lagi menyahut panggilan itu. Esoknya, Rabu, 10 Juni 2015, berdasarkan petunjuk para guru yang sempat melihat gundukan tanah dan sampah di belakang rumah Margareth, polisi pun berhasil menemukan Angeline.

Sama sekali tidak bahagia seperti petunjuk paranormal. Angeline ditemukan terkubur di bawah gundukan tanah dan sampah di bawah kandang ayam yang biasa sehari-hari diurus dan diberinya makan. Tubuh Angeline terdiam kaku dalam posisi telungkup sambil memeluk boneka kecil.

bocah-angelina-bali-feri-kristianto-yusDi lubang sedalam setengah meter itulah Angeline terbujur kaku selama hampir sebulan. Pemeriksaan forensik menemukan bahwa gadis cilik itu dibunuh dengan kepala dibenturkan berkali-kali ke lantai hingga tewas. Di tubuhnya terdapat beberapa bekas luka sundutan rokok.

Yang sungguh tragis, jasad Angeline masih sempat diperkosa sebelum dikubur oleh pembunuhnya. Menurut polisi, nyawa Angeline dihabisi oleh Agustinus, bekas pekerja di rumah Margareth.

Kasus ini masih terus dikembangkan oleh pihak kepolisian. Meski sudah menetapkan seorang tersangka, kasus ini masih tergolong gelap. Segelap kisah hidup Angeline yang singkat.

Hamidah (kanan), ibu kandung Angeline, saat histeris didampingi temannya.
Hamidah (kanan), ibu kandung Angeline, saat histeris didampingi temannya.

Sementara itu, Hamidah baru menyadari bahwa gadis cilik yang dikabarkan hilang itu ternyata adalah anak kandungnya yang dulu ia serahkan ke Margareth. Mendengar kabar putri yang hanya disusuinya selama tiga hari itu akhirnya ditemukan, Hamidah bergegas menuju ruang Instalasi Forensik RSUP Sanglah, Bali.

Mengenakan jaket dan celana jins lusuh, Hamidah kontan menangis histeris di depan ruang otopsi di mana jasad buah hatinya tengah diotopsi.

“Mama…datang Angeline….mama datang nak..!” ujarnya lirih di antara sesunggukan tangisnya yang tak terbendung. Hamidah sesekali berteriak, “Aku minta pelaku dihukum mati!”

Hamidah pun menyungkap sebuah mimpi aneh sehari sebelum jasad Angeline ditemukan. Ia bermimpi mendengar suara gadis cilik memanggil-manggil namanya minta digendong. Namun ia tak sempat memenuhi permintaan itu setelah mimpinya seketika buyar.

Sembari bersandar di bahu rekannya yang ikut mengantar ke ruang jemasah, Hamidah masih bergumam lirih dalam kesedihannya, “Angel…, maafin ibu nak!” Sebuah penyesalan yang tak terperih.

1784b9317101c9e547a16a320ae13228_a

Bersama boneka kesayangannya

Malam ini, Kamis 11 Juni 2015, berbagai kalangan dan lembaga pemerhati dan perlindungan anak, menggelar acara Seribu Lilin untuk Anak Indonesia di Budnaran Hotel Indonesia, Jakarta. Kepergian Angeline yang begitu tragis telah memicu aksi mereka.

Kisah memilukan ini hendaknya mengetuk hati siapa saja untuk merenungkan kembali arti penting dari pengasuhan seorang anak. Andai Angeline masih bisa berucap satu kalimat saja, mungkin ia akan bertanya, “Mengapa aku harus dilahirkan?”

 

Baca bagian pertama, Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 1

Baca bagian kedua, Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 2

 

Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah dramatisasi peristiwa, yang didasarkan pada fakta-fakta yang ditemukan dan diungkap oleh kepolisian sampai hari ini.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.