Sabtu, 27 November 21

Aneh, Dalih VP ISC Halalkan Kerugian Negara Dalam Tender LPG

Aneh, Dalih VP ISC Halalkan Kerugian Negara Dalam Tender LPG

Jakarta, Obsessionnews – Kalangan pensiunan Pertamina menyesalkan dalih VP ISC Daniel Purba menghalalkan kerugian negara dalam tender LPG. Mereka kecewa setelah mendengar penjelasan Vice President (VP) Integrated Supply Chain (ISC) Perrtamina, Daniel Syahputra Purba di kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Kamis (7/5), terkait hal tersebut.

Ketua Umum Solidaritas Pensiunan Pertamina (SPKP) Binsra Effendi Hutabarat menegaskan, apapun dalih dan alasan yang diucapkan Daniel dalam konperensi pers kemarin, sepanjang ada kerugian negara dan ada penunjukkan perusahaan pemenang tender yang menyalahi Keputusan Presiden (Keppres) No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

“Apapun idealisnya Daniel, dia harus bertanggungjawab. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri wajib mengusutnya,” tandas Binsar melalui surat elektroniknya yang dikirimkan ke Obsessionnews, Jumat (8/5/2015) pagi dini hari.

Ia menilia, dalih Daniel yang memang butuh kargo untuk bulan April 2015, menurut Binsar Effendi yang Ketua FKB KAPPI Angkatan 1966, “Secara eksplisit diakuinya kalau kebutuhan kargo April yang di load pada bulan April akan mengacu pada harga Contract Pricing (CP) Aramco April 2015. Tapi saat itu dia tidak tahu berapa harganya, karena tendernya masih Februari dan memang begitu kondisinya, yang pengakuannya tidak akan tahu harga CP Aramco ke depannya. Sikap pemimpin seperti Daniel ini, tentu menjadi ironis. Mestinya sebagai pimpinan harus dapat memprediksi berapakah harga CP Aramco di bulan April 2015,” sesalnya.

Binsar yang juga Komandan Gerakan Nasionalisasi Migas (GNM) menyikapi pengakuan Daniel yang secara best practice, apa yang telah dilakukannya memang tidak sesuai, tapi dia tetap melakukan. Ini harus diusut, bukan dimaklumi. Pengamat Energi Boyamin Saiman pernah katakan, bahwa dalam tender biasanya terdapat yang namanya koreksi harga dan bahkan kerap berubah menjadi lebih mahal. Namun pada akhirnya tetap tidak boleh merugikan negara.

Sebaliknya, lanjut Binsar, “Ini memilih pemenang tender LPG tidak berdasarkan Term Of References (TOR) yang diumumkan sebelumnya. Sehingga Pertamina dan negara mengalami kerugian US$ 400.000 atau setara Rp. 5,2 miliar. Kemenangan Total merupakan kesalahan dari ISC-Pertamina yang dipercaya oleh Pertamina untuk melaksanakan tender liquefied petroleum gas (LPG) yang terdiri atas Butane dan Propane untuk loading bulan April 2015 dengan spot total 44.000 metrik ton (MT) tanpa dibarengi dengan transparansi. Sangatlah buruknya sikap Daniel yang justru terkesan ingin merontokkan Pertamina”.

Ketua Umum eSPeKaPe ini memang terus memantau kinerja VP ISC-Pertamina, Daniel Purba yang direkomendasi oleh Menteri ESDM Sudirman Said dan diangkat dari anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang dinahodai Faisal Basri, yang dalam eksposnya selalu saja memojokkan Pertamina.

Belum lupa dari ingatan Binsar Effendi, jika Direktur Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean pada 31 Desember 2014 pernah mengatakan ditunjuknya Daniel sebagai VP ISC-Perrtamina menggantikan Tafkir Husni dinilai sarat agenda terselubung kelompok tertentu. Menurut Ferdinan, penunjukan Daniel yang serba mendadak itu merupakan bukti sahih jika Soemarno Inc memang bernafsu ingin kembali menguasai bisnis minyak di tanah air.

Saat bersamaan penunjukan secara mendadak Daniel sebagai VP ISC-Pertamina, langsung juga mengundang komentar Direktur Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra yang membuktikan bahwa jaringan mafia minyak plus Soemarno Inc kembali berjaya. Dengan demikian, menjadi bukti nyata bahwa misi Ketua Tim RKTM Faisal Basri sudah gagal mereformasi tata kelola migas di negara ini dan sebaiknya Tim RKTM pimpinan Faisal Basri dibubarkan saja.

Sedangkan peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengatakan penunjukan Daniel Purba sebagai VP ISC-Pertamina merupakan skenario besar untuk mematikan fungsi Pertamina Energy Trading Limted (Petral) untuk tujuan meliberalisasi impor, karena nanti semua pemasok impor bisa langsung memasok crude oil dan produk jadi ke Pertamina. Menurutnya, ISC difungsikan kembali sebagai makelar pembeli crude oil baik dari dalam dan luar negeri melalui kewenangan Menteri ESDM Sudirman Said dan Daniel Purba.

“Niat awal memperbaiki Petral jadi tidak tercapai, malah berbalik menjadi liberalisasi hilir minyak, seiring dengan penghapusan Ron 88 (Premium) dengan menggantikan ke Ron 92 yang sampai sekarang masih sulit untuk dipenuhi dan akan membuat Pertamina semakin sulit bersaing dalam pasar produk BBM dalam negeri,” jelas Binsar.

Ia mengungkapkan, dia saat Ari Soemarno menjabat sebagai Dirut PT Petral yang berkedudukan di Saingapura, maka sebagai VP-nya adalah Daniel Purba. “Saat itulah semua solar impor dibeli oleh Petral dari Hin Leong. Korelasi Hin Leong dengan Petral yang saat itu di bawah pimpinan Ari Soemarno, adalah melalui Daniel Purba yang merupakan kolega Hin Leong. Terus apa yang mesti kita percayai dari ucapan VP ISC-Pertamina dalam konperensi persnya hari kemarin”, bebernya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.