Senin, 9 Desember 19

Ancaman Resesi Ekonomi Global, Indonesia Harus Menguatkan Sektor KUMKM

Ancaman Resesi Ekonomi Global, Indonesia Harus Menguatkan Sektor KUMKM
* Pemerhati koperasi Dewi Tenty Septi Artiany. (Foto: Fikar Azmy/Women’s Obsession)

Jakarta, Obsessionnews.com – Isu resesi ekonomi saat ini tengah ramai diperbincangkan. Perang dagang antara Cina dan AS yang belum mereda hingga krisis ekonomi yang tengah melanda di beberapa negara menjadi sejumlah faktor yang membuat isu itu kian mencuat.

Diketahui bahwa resesi adalah kondisi di mana perekonomian suatu negara berhenti tumbuh, dan berbalik menurun. Negara dianggap mengalami resesi apabila pertumbuhan PDB mereka menurun selama dua kuartal berturut-turut.

Peluang Indonesia mengalami resesi atau pertumbuhan ekonomi minus karena ketidakpastian ekonomi global saat ini cukup kecil. Indikator ekonomi Indonesia saat ini kondisinya masih aman, mulai dari kondisi pasar modal, finansial, industri, hingga investasi.

Meski demikian, menurut pemerhati koperasi Dewi Tenty Septi Artiany pemerintah  harus mengantisipasi kemungkinan ancaman resesi melanda Indonesia. Caranya dengan menguatkan sektor koperasi dan UMKM yang selama ini dikenal tahan banting saat terjadi krisis.

“Penguatan itu sudah harus dimulai lagi. Waktu terjadi krisis tahun 1998 kan yang sulit terkena imbas adalah UMKM dan koperasi,” kata Dewi, Selasa (24/9/2019).

Dewi mengatakan sejumlah negara di Eropa berhasil keluar dari ancaman krisis ketika pemerintah setempat membuat kebijakan penguatan KUMKM. Sebut saja Italia, Swiss, dan Yunani. Hal ini harus ditiru guna menyelamatkan Indonesia dari ancaman resesi ekonomi.

“Kita tahu bahwa banyak pengusaha besar kabur dari Indonesia ketika terjadi situasi kriris tahun 1998 tapi yang menyelamatkan Indonesia saat itu adalah UMKM. Karena apa? Karena pondasi ekonomi mereka sangat kuat,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai notaris itu.

Fundamental ekonomi Tanah Air saat ini masih memang cukup positif. Dari sisi PDB, Indonesia pada kuartal II/2019 tumbuh sebesar 5,05 persen (secara tahunan), meskipun sedikit melambat ketimbang pertumbuhan PDB kuartal I/2019 sebesar 5,1 persen (secara tahunan).

Kondisi pasar modal Indonesia juga masih positif. Sepanjang tahun berjalan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 0,5 persen ke level 6.214. Keyakinan investor asing juga masih tinggi terlihat dari beli bersih yang mencapai Rp 60 triliun sepanjang tahun berjalan ini. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.